Saturday, April 17, 2010

Pengen (Suka) Membaca Buku (Lagi)

Beberapa waktu ini aku sering sekali memandangi beberapa buku ceritaku yang kutumpuk di samping laptop. Mereka bertengger manis disitu, diam tanpa bergerak ataupun di gerakkan. Sudah cukup lama aku tidak membuka2 mereka atau sekedar melihat2 kembali isinya. Ya... belakangan ini aku jarang sekali membaca.

Beberapa buku yang sudah aku beli di awal tahun ini pun baru beberapa aku baca. Masih ada satu lagi yang belum ku sentuh. Entah kenapa nafsu membacaku berkurang belakangan ini. Dan itu berbanding lurus dengan menurunnya nafsuku untuk menulis. tidddaaakkk..... :P

Ayo....semangadh wilis... Jangan biarkan rasa malas menggelayutimu untuk kembali membaca. Meskipun hanya sekedar membaca di kamar mandi. Cukuplah... :)

Ya, aku ingat bahwa buku Negri 5 menaraku bisa selesai bulan lalu karena selalu menemaniku di kamar mandi. Sambil duduk menunggu proses pembuangan, aku menyelesaikannya. Lumayan, daripada nganggur atau melamun. hahahahaha

Aku sekarang sedang menunggu buku yang aku beli melalui toko buku online. Buku itu adalah seri terakhir dari The Chronicles of Ancient Darkness series. Judulnya Oath Breaker. Dulu aku pikir buku Michele Paver itu hanya akan sampai pada buku ke empat, tapi rupanya sampai buku kelima. Entahlah kalau memang masih bertambah lagi. It's okay... Aku sudah cukup bersahabat dengan Torak, Renn, Serigala, Klan2 yang tinggal di hutan, dan lain2nya itu.

Mari kita kembalikan budaya membaca... Karena kata orang jaman dulu, buku itu adalah jendela dunia... halaaaaahhh....^_^

Thursday, April 15, 2010

Hanya Ingin Sedikit Mellow

Aku, Dirimu, dan Dirinya

Artist: Kahitna

Tak ada
Yang harus kita sesali
Semua indah
Yang pernah kita alami

Meskipun terbatas
Dan tak mungkin
Terikat janji abadi

Aku dirimu dirinya
Tak akan pernah mengerti
Tentang suratan

Aku dirimu dirinya
Tak resah bila sadari
Cinta takkan salah

Andai waktu bisa kita putar kembali
Jalinan cerita mungkin tak begini

Meskipun terbatas
Saling pandang
Dan tak akan lebih lagi

***

Hari ini mendadak aku jadi sedikit mellow. Tiba2 aku ingin bekerja sambil mendengarkan musik. Maka akupun memasang headset dan memutar beberapa musik dalam negri. Setelah beberapa kali play dan pause (karena aku memang kurang suka mendengarkan musik dalam waktu yang lama, aku sampai pada lagu lama yang dinyanyikan oleh Kahitna.

Judulnya antara aku, kau dan dirinya. Entah kenapa aku berniat mencari dan meng-copy lirik lagunya. Dan akhirnya its done. aku meng-copy liriknya di sini. Mellow....mellow.....

Kembali lagi cerita lama itu keluar. Sepertinya cerita lama itu telah melengkapi dirinya dengan pelampung permanen. Sehingga semakin dalam aku berusaha untuk menguburnya, maka semakin kuat pula dia menekan dan mucul keluar. Muncul lagi, dan muncul lagi. :P

Sudahlah..... jangan dipaksakan untuk menghilangkan atau membumihanguskan semua yang bernama cerita lama. Karena cerita lama bisa saja kita jadikan sebagai cerita lama. Biarkan menjadi cerita lama yang tersimpan dalam kotak. Hanya saja, untuk satu cerita lama ini, aku harus menyimpannya di kotak pandora. hahhahahhaa

Baiklah, tidak apa2 juga sepertinya kalau aku sekedar bersalam sapa pada cerita lama itu sekarang. Ketika tiba2 dia menyeruak kembali ke permukaan, dan membuat waktuku berjalan terasa sangat lambat, hari ini. Apa kabar kamu disana? Aku tahu dan aku yakin kamu baik2 saja. Tetaplah baik2 saja, agar aku bisa merasa luar biasa baik. :)

Meskipun sedikit sedih karena aku tak lagi bisa melihatmu, tapi rupanya menyenangkan pula selalu merasa penasaran. Curiosity killed the cat.... ^_^

Dan untuk apa yang pernah ada, akan selalu teringat melalui lagu Drive yang judulnya Melepasmu. :P

tak mungkin menyalahkan waktu
tak mungkin menyalahkan keadaan
kau datang di saat membutuhkanmu
dari masalah hidupku bersamanya

reff:
semakin ku menyayangimu
semakin ku harus melepasmu dari hidupku
tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
kita tak mungkin trus bersama

satu saat nanti kau kan dapatkan
seorang yang akan dampingi hidupmu
biarkan ini menjadi kenangan
dua hati yang tak pernah menyatu

repeat reff

maafkan aku yang membiarkanmu
masuk ke dalam hidupku ini
maafkan aku yang harus melepasmu
walau ku tak ingin

***

Aku tidak pernah menyesali semua yang berlalu dalam hidup ini. Semua selalu terasa indah karena aku menjalaninya dengan sadar sepenuh hati. Aku menjalaninya dengan keyakinan bahwa aku pasti bisa melewati ini. Begitu pula saat2 itu. Tapi aku tahu pasti kenapa semua begitu singkat. Ya, aku bisa memastikan kenapa semua serba kilat. Biarkan saja.

Cukup untuk hari ini, waktu untuk mengangkat cerita lama. Mungkin suatu saat, ketika dia menyeruak kembali, aku akan menemukan kembali lagu yang lainnya. Hanya satu pesanku yang selalu saja ku kirimkan untuknya,

"We must always be happy, wherever we are...."

^_^

Akibat Sinetron

Beberapa hari yang lalu, aku ikut mengantarkan mbak-nya Damai pulang kerumah. Si mbak yang sakit itu ternyata masih biyungen atau masih ingin dekat dengan ibunya ketika sakit. Padahal sekedar meriang. Tapi yang namanya biyungen, ya memang tidak ada jalan lain selain di antarkan pulang. :)

Setelah menempuh perjalanan panjang, berliku, dan penuh rintangan (lebay*mode on), akhirnya kami sampai di penghujung jalan aspal. Rumahnya si mbak ini memang benar2 di ujung jalan (kayak judul pelem jadul yaa).

Aku yang berasal dari kampung, yang menurut temanku (inisialnya U.B.O) adalah small-small village, jadi merasa bersyukur. Rupanya kampungku belumlah the smallest village in Indonesia tercinta ini. hahahhaa

Kembali pada kampungnya si mbak. Setelah parkir mobil di ujung jalan itu, kamipun beramai2 berjalan kaki melewati jalanan kecil menuju rumah mbak. Kata si londho, berasa balik lagi ke rumahku di Cangkringan sana. :P

Kami di sambut baik oleh keluarganya mbak, bahkan di suguhi rengginan dan kerupuk telo (singkong). Karena sudah lama tidak bertemu dengan kerupuk telo, akupun dengan lahap menghabiskan beberapa (hingga akhirnya di bungkus dan di bawa pulang). hahaha

Setelah ngobrol kesana kemari, si Ibu menyampaikan rasa was2nya dalam melepas si mbak pergi bekerja ke kota (halah.... Kota Bogor). Beliau rupanya mengalami trauma setelah melihat banyaknya sinetron2 di tipi yang menceritakan kekerasan antara majikan dan pembantu. Beliau takut kalau2 anak gadisnya di siksa oleh majikannya seperti di tipi2. ehhehee

Mungkin setelah melihat seperti apa majikannya si mbak, si ibu mulai berfikir terbalik. Kalau majikannya seperti ini, bisa jadi majikannya yang di siksa pembantu ya? hehehhee... just kidding meeeennn.... :P

Intinya, rupanya pertunjukan tipi yang bernama sinetron di Indonesia ini memang sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran2 orang2, terutama orang awam. Mereka yang tidak memiliki wawasan luas, tidak memiliki pengetahuan tentang kota yang cukup, hanya mengandalkan tayangan di tipi sebagai referensi kehidupan kota. Padahal seperti kita semua tahu, sinetron adalah dusta. Sinetron adalah rekayasa. Sinetron adalah drama pertunjukan. Dan sinetron sama dengan lebay. *ngumpet di bawah meja takut di timpuk mbak luvie*. hehehehhe.

Mungkin, ibunya mbak itu hanya salah satu dari sekian banyak orang tua di kampung yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap nasib anak2nya yang ingin bekerja. Mungkin juga alasan itu yang pada akhirnya membuat mereka melarang anak2 mereka bekerja ke kota. Dan alasan itu pula yang membuat anak2 mereka hanya berkutat di kampung mereka, dan akhirnya banyak memilih untuk melakukan pernikahan dini. Di kampung, nggak kerja, nggak punya aktivitas, nggak punya penghasilan, mau apa lagi selain menikah? dan secara tidak langsung itu pula yang mengakibatkan mereka punya banyak anak. Tidak banyak yang di lakukan di kampung, jadi ngapain lagi? bikin anak laaaah.... Mana kampungnya juga berada di ketinggian yang cukup dingin. hehehehehhe

Ketika pulang dari rumah di mbak, aku berfikir (dan dari dulu juga aku sudah tahu sih) jika dan hanya jika atau seandainya aku berada di kampung sana, maka akupun akan seperti itu. Teringat betapa seringnya ibu dan bapakku mempertanyakan hal2 yang mirip2 dengan kejadian2 di tipi, apakah benar ada yang begini, apa benar ada yang begitu, dll. Pfffiiiuuhhh.....

Untunglah aku masih selalu di berikan jurus ngeles, merayu, dan berargumentasi kepada kedua orang tuaku sayang itu. Sehingga aku akhirnya bisa melancong ke sini, ke Bogor, dan belum berniat pulang kampung sampai sekarang ini. :P

I love you ibu and bapak.... i love both of you so much...
There's nothing I can give to you....
Except the promise that,
I will always take care myself and always be fine

Wednesday, April 14, 2010

Mbah Priok, Damailah Engkau Disana

Kemarin dan hari ini, hampir semua media massa heboh dalam memberitakan perang di daerah Tanjung Priok. Perang yang terjadi di dalam negriku tercinta Indonesia bagian Jakarta Utara. Perang antara satpol PP+Satpol anti huru-hara melawan ahli waris dan santri dari Mbah Priok, yang kemudian berkembang menjadi perang antara satpol pp+Satpol anti huru-hara melawan masyarakat luas.

Bentrok yang membesar menjadi perang itu terus berlanjut dari pagi, siang, hingga petang. Tanpa ada yang tahu kapan semua akan berakhir, dan akan berakhir seperti apa. Hanya Tuhan yang tahu nampaknya. Semua mencoba bertahan dan menyerang secara bergantian. Korban mulai berjatuhan dari masing2 pihak, namun justru semakin mengobarkan semangat "perjuangan" mereka.

Awalnya (ketika bentrok baru di mulai) aku merasa sedikit lega. Kenapa? karena setidaknya ada lagi berita yang berhasil meredam berita yang sebelumnya. Beritanya pak Jayus dan mbak Diva akhirnya harus sedikit bergeser ratingnya. Meskipun masih saja Insert Investigasi menampilkan mbak Diva and the gank. Pffiuuhhh.... Namun ketika bentrok berubah menjadi perang, perasaanku berubah menjadi miris.

Warga yang mengaku dirinya sebagai ahli waris dan para santri Mbah Priok terus bertahan dan siap perang sampai mati. Until the last blood.... Lengkap dengan senjatanya masing2. Begitu juga Satpol PP, polisi dan kawan2nya, siap berjuang sampai ada perintah mundur. hahahaa.... Jadi siapa sebenarnya yang bisa menghentikan peperangan ini? ck..ck..ck...

Pagi ini aku membaca berita di Korang Nasional, dan di sana di tuliskan bahwa sebenarnya Mbah Priok sudah di pindahkan ke salah satu TPU di Jakarta sana. Namun setelah kisah panjang perjanjian2 dan kesepakatan2 yang di hiasi dengan surat2 keputusan, ahli waris ingin (dan memang) membangun kembali makan Mbah Priok. (Kata pihak PT. Pelindo) mereka membangunnya tanpa ijin. Dan ketika PT. Pelindo and partner ingin memperluas wilayah pembongkaran peti kemasnya, terjadilah bentrok berdarah ini.

Terlepas dari itu semua (karena aku juga pusing dan cuma bisa miris), aku sih hanya ingin berkata, "Mbah Priok, berbahagialah engkau disana. Semoga engkau tenang dan damai di sisi-Nya..... Dan bantu para umat manusia ini untuk bisa saling menahan diri."

Jadi, intinya yaaaa pengendalian diri tho.... :P

Tuesday, April 13, 2010

Londone Ngerokok Meneh

Rokok

Banyak yang suka, tapi banyak juga yang nggak suka. Bagi yang suka, pasti di bilang merokok itu enak, membuat tentram, membuat santai, membuat hangat, membuat semangat, atau sumber inspirasi. Terkadang, mereka mengatakan bahwa orang yang tidak merokok itu nggak keren. Atau ada juga yang mengungkapkan alasan bahwa dengan merokok, mereka sudah ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama kalangan petani tembakau. Pokok'e, "bar mangan ora udud eneg.... " katanya. hahaha

Tetapi, banya juga yang tidak suka atau justru membencinya. Bagi mereka yang tidak suka, pasti dibilang rokok itu mengganggu kesehatan, bisa menyebabkan kanker, mengganggu orang yang ada di sekitarnya, membuang2 uang, membakar uang, dll. Terkadang mereka mencibir orang2 yang merokok. Pokoknya, merokok itu merugikan. hehehe

Aku? dimana posisiku ketika harus membahas tentang rokok? Entahlah.... netral saja nampaknya. Aku memang tidak suka rokok, meskipun aku pernah juga merokok. Aku tidak menjadikan rokok sebagai hobi, atau malah sebuah kebanggaan yang bisa digunakan untuk pamer. Tidak.

Tetapi, aku juga tidak membenci rokok. Aku tumbuh dan besar bersama dengan asap rokok, karena ayahku adalah perokok handal dari jaman beliau muda. Dan kakakku menyusul kemudian ketika dia menginjak bangku SMP. Di rumahku juga tidak pernah ada larangan yang bisa berlaku tanpa ACC dari ayahku, sehingga nampaknya tidak akan pernah ada larangan untuk merokok. :P

Belakangan ini di Indonesia masalah rokok menjadi masalah besar yang di perbesar dan semakin di perbesar saja. Rokok di haramkan. Artinya yang merokok akan berdosa. Mulai banyak pro dan kontra yang muncul menanggapi keputusan itu. Beberapa demo ataupun penggalangan massa melalui jejaring sosial mulai bermunculan.

Para pro-rokok yang memiliki satu visi dengan petani tembakau, buruh pabrik rokok, dan sebangsanya mengklaim bahwa peng-haraman rokok itu tidak bisa di tolerir. Akan menyebabkan banyak sekali kerugian kepada banyak pihak dan bla..bla..bla..

Para kontra-rokok semakin bahu-membahu menunjukkan bukti2 betapa rokok itu merugikan, menggalang massa dan lain sebagainya. Seru, heboh, gonjang-ganjing, dan semakin liar. hahahaha.....

Menurutku sih, memang tidak wajib kita meng-haramkan rokok. Sejauh para perokok bisa merokok dengan lebih bijaksana (halah..). Misalnya saja mbok yao kebiasaan merokok di tempat umum (yang belum tentu orang2nya suka merokok) itu di kurangi dan dihilangkan. Merokoklah pada tenpat yang telah di sediakan. Atau merokoklah pada tempat yang tidak akan di komplain atau (minimal) di cibir dan di pelototin orang.

Dan yang paling penting, jangan sampai deh merokok di tempat yang ada anak kecilnya. Kasian lho.... Mereka kan belum bisa protes. Kalau merokok didekat ibu2 atau emak2 sih, paling juga di timpuk konde kalau memang tidak mempan dengan pelototan. :P

Aku tidak bermaksud apa2 lho ketika menulis ini. Hanya saja aku sedikit tergelitik ketika tiba2 si londho yang belakangan ini eksis di rumah ini, mendadak dangdut jadi perokok (lagi). Padahal ketika dia datang, dia mengatakan sudah berhenti merokok dan belum ingin merokok lagi. Tapi sekarang, rupanya dia sudah kembali jago dan ahli dalam merokok.

Ketika secara iseng aku tanyakan padanya "Ngopo koq kowe mutuske ngrokok meneh le?" dia menjawab "Lha jarene F***N nek kanggo peneliti, ngrokok kui salah sijining perkoro sik paling penting di lakoni" hahahaha..... Bahaya nih si Tukirin... Sudah berhasil memberikan bad influence pada si londho. :P

ck..ck..ck..ck..

Sunday, April 11, 2010

Diam, dan Biarkan Semua Berlalu

Pernah nggak sih kalian merasa kurang atau bahkan tidak sreg dengan situasi di sekeliling kalian, pada suatu saat? Sepertinya aku bisa yakin berkata, pasti kalian semua pernah merasakannya. Karena aku sering sekali merasakan hal itu. Dan karena aku adalah manusia pada umumnya, maka aku simpulkan bahwa manusia di luar sana juga merasakan hal yang sama.

Aku hanya ingin berkata bahwa terkadang aku tidak suka dengan sesuatu. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku tidak bisa dan tidak mau menghindarinya. Aku mencari cara sendiri untuk menjadikannya sebagai teman keseharian.

Ketika lingkungan di sekitarku mulai tidak sesuai dengan kondisi atau suasana hatiku, aku hanya akan diam. Diam, tersenyum, dan sedikit berjalan2 sekedar ke kamar mandi atau ke halaman. Aku hanya akan berusaha melihat suatu benda (selain laptopku) yang bisa ku tertawakan tanpa protes. That's enough....

Simpel bukan? tidak perlu lagi beradu otot ataupun urat. Tidak perlu berbalas kata sampai urat2 di leher berloncatan. Cukup diam, tersenyum, dan sedikit meluruskan punggung. Setelah itu, semua akan kembali baik2 saja.

Tapi tidak selalu semua membaik setelah aku melakukan trik itu. Terkadang, muncul juga sifat membandel dari suasana hati yang kurang baik. Apa yang aku lakukan?? Baca buku cerita yang aku punya saja. Terkadang bisa membuat semua netral kembali. Tapi nggak selalu juga...hehehe

Selalu saja ada saat dimana suasana hati yang sedang kurang baik itu lolos dan bertahan. Jurus maut yang bisa aku lakukan sebagai pamungkas adalah......T.I.D.U.R.... hahahhaa... jitu sekali pokoknya. :P

Aku yakin suatu saat suasana hati yang kurang baik itu akan lolos lagi dari jurus pamungkasku itu. Mungkin suatu saat nanti, ketika bangun tidur, aku masih saja merasa "not on the good mood". Tapi aku juga yakin, ketika saat itu tiba, aku sudah bisa menemukan satu cara yang lebih jitu lagi. Aku akan selalu memikirkan cara untuk mengatasi si "suasana hati yang tidak bagus" itu.....

Dunia memang penuh dengan hal2 yang aneh, luar biasa, lebay, biasa saja, norak, dan lain2. Apa salah? ya enggak donk.... Semua memang sudah indah dan sempurna pada tempatnya. Toh enggak enak buat aku bukan berarti enggak enak juga buat orang lain kan? Jadi, nggak perlu memusingkan pihak lain yang bernama "dunia selain kita" itu yaaaa..... :P

Tenangkan diriku, dirimu, diri kalian, dan diri mereka. Maka dunia ini akan ikut tenang, aman, damai, toto tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi.... hehehhe

Karenaaaa..... "We must always be happy, wherever we are"
Hahahhaa..... okay..okay..... ^_^

Saturday, April 10, 2010

Menggunung Kembali Setelah 2 Tahun Cuti

Tanpa rencana, akhirnya aku melewati liburan paskah di puncak gunung lagi. Setelah lama sekali aku tidak melakukan perjalanan yang panjang, akhirnya aku melakukannya lagi. Gunung Ciremai ditambah dengan rayuan maut dari L-271 membuatku turut serta melangkah. Perjalanan panjang, setelah cuti yang cukup panjang pula.

2 tahun sudah aku tidak bersusah2 ria berjalan di jalanan terjal yang penuh bebatuan. 2 tahun pula aku tidak merasakan segarnya udara pegunungan dengan berbagai macam vegetasinya. Dan aku kembali.... Dan puji tuhan bahwa ternyata aku masih mampu. Syukur alhamdulillah aku masih bisa turun dengan berlari, tidak merayap. :)

Karena aku adalah korban rayuan maut, maka akupun mencoba peruntungan dengan rayuan mautku. Rasanya kurang pas jika jauh2 ke Cirebon hanya berdua saja. Terlebih lagi saat itu ada L-269 yang mau mengantarkan kami sampai Stasiun Senen. Akupun mengeluarkan jurus maut untuk merayunya agar tidak hanya mengantar sampai stasiun, tetapi langsung saja ke Ciremai. Dengan sedikit suapan dan tambahan rayuan dari L-271, akhirnya dia tergoda. yeah... we are the win.... :P

Setelah adegan konyol di stasiun dan sekitarnya, kamipun melaju dengan Bis menuju kota Cirebon. Setelah eyel-eyelan sama kondektur, turun di tempat yang salah, bertemu dengan 2 anak muda sedang mencari ibunya yang baru saja kena rampok, dan duduk2 manis di sebuah tugu yang bertuliskan "berhati besar" pada pagi buta, akhirnya kami dijemput dengan selamat ke Universitas Swaganti. Thanks to Gunati's welcome party team... hahaha

Tiba di Cirebon, rasanya kurang pas juga kalau tidak langsung berburu makanan khasnya, Nasi Jamblang. Karenanya, setelah cukup beramah-tamah dan istirahat sebentar, kamipun langsung memaksa tuan rumah untuk mengantarkan kami berburu nasi jamblang. Kami menyebutnya Nge-Jam. Oleh teman baru kami yang bernama "Busix", kami di antarkan ke sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menjual nasi jamblang. Dan untuk membuat orang percaya bahwa kami sudah makan nasi jamblang, maka kami berfoto2 ria di depannya. Nggak lucu kan kalau sepulangnya dari Cirebon, kami di bilang hanya mendongeng karena tidak ada bukti otentik? hahaha

Sayangnya, di warung yang pertama itu, persediaan nasinya sudah habis. Padahal lauk pauknya masih banyak sekali, dan perut kami (L-268 dan L-271) masih belum berasa "nendang". Akhirnya kami melaju menuju warung selanjutnya. Nge-Jam yang kedua. Maklum, kami kan sedang dalam masa pertumbuhan, karenanya membutuhkan banyak asupan makanan bergizi. :P

Dari hasil obrolan bersama penjual nasi jamblang yang pertama, aku mendapatkan beberapa informasi yang menjawab rasa penasaranku. Yang pertama adalah kenapa di sebut nasi jamblang. *menurut si ibu* Jamblang adalah nama sebuah wilayah, dimana banyak sekali penduduknya yang membuat nasi bungkus daun jati ini. Karenanya, nasinya di sebut nasi Jamblang. Lebih karena merujuk pada nama wilayah asalnya. Kemudian yang kedua, adalah kenapa di bungkus daun Jati. Apakah karena di Cirebon banyak perkebunan jati, atau untuk menghormati Sunan Gunung Jati?? Rupanya *menurut si ibu* di Cirebon tidak ada perkebunan jati. Daun jati yang di gunakan ini kebanyakan di datangkan dari Tasik Malaya. Kemungkinan jaman dahulu kala memang banyak perkebunan jati di Cirebon, tetapi sekarang tidak lagi. :)

Puas nge-Jam, kamipun beranjak menuju pasar tradisional di kota Cirebon untuk membeli logistik pendakian. Kami memasuki pasar dan memulai dengan coba2 "cengdem" tanpa membeli. (semoga mas2 yang jualan nggak dendam sama kita ya dip). heehehe

Kemudian kami memulai belanja bumbu, sayur, dll. Pasarnya rupanya memang pasar banget. Becek, wangi semerbak dimana2. Berasa lama sekali aku nggak masuk pasar tradisional. :P

Setelah selesai belanja di pasar, kamipun melanjutkan perburuan ke pasar modern. hahaha.... tanggung banget yaks... Scara masih juga belanja di pasar modern, lebih banyak lagi jumlah rupiahnya. ck..ck..ck...

Akhirnya, semua urusan perbelanjaan selesai, kamipun kembali lagi ke kampus untuk packing. Perjalanan kali itu penuh dengan tragedi yang berhubungan erat dengan becak. Kami semua hampir tabrakan dengan becak. Semua adalah antara motor dan becak. Becak...becak... (hahaha.... pokoknya yang salah becak-nya kan). :P

Setelah semua persiapan lengkap dan masuk semua ke dalam tas kami, kamipun berangkat menuju Kuningan dengan naik motor. Cukup banyak personil yang mengantar kami (ge-er dah...). Kami berhenti di rumah Wak Nana yang sudah menjadi rekanan teman2 Gunati. Bercanda, dan bercanda terus sampai mabok... :)

Karena teman2 Gunati sudah kenal baik dengan wak nana dan pihak TeEnGeCir, maka kami hanya perlu membeli 3 tiket, bukan 6. Lumayan... Satu tiket seharga Rp. 6500. Masih murah dan semoga akan selalu murah... Kamipun berpisah dengan rombongan pengantar. Kami mendaki ber-6, dengan 3 orang anak Gunati. Masih bocah2... hahahaha

Sampai di simpang jalan beton terakhir, ada tulisan Taman Nasional Gunung Ciremai. Karenanya kami berfoto dulu untuk di persembahkan pada L-270 yang tidak bisa ikut karena Kondangan. Mulai dari sana, kami akan menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan pemandangan di kanan dan kiri adalah kebun sayur. Ini mengingatkan ku pada jalur pendakian gunung gede yang melalui gunung putri. Hanya saja, kebun sayur di jalur palutungan ini sedikit sekali. :P

Selayaknya ketika masih di darat, sepanjang perjalanan kamipun selalu di iringi canda tawa (pada awalnya). Namun stamina memang tidak bisa di tipu dan di bohongi. Semakin lama, suara atau canda tawa itu kian berkurang dan lama2 menghilang. Seiring dengan berpindahnya posisi kedua tangan yang awalnya bergerak bebas menuju pinggang. Dengan berkacak pinggang, memang perjalanan sedikit lebih ringan. Tentu saja harus tahan dengan celetukan2 dari para bocah2 itu "kenapa perutnya nek? kenapa pinggangnya nek?" hehehhe

Jalur yang kami lalui sebenarnya tidak begitu sulit. Tergolong mudah malah. Hanya saja karena waktu terburu malam, maka langkah kami sedikit lambat (bukan berarti kalau siang jadi cepat juga sih). Kami berjalan perlahan namun pasti, hingga tidak menyadari bahwa kami telah berjalan selama 50 menit tanpa berhenti. Kamipun memutuskan untuk beristirahat sejenak di padang ilalang (romantis kaaannn).

Menurut informasi dari teman2 Gunati, kami akan sampai di pos Cigowong (yang ada sungainya) sekitar 2 jam perjalanan. Dan rupanya kami adalah rombongan tepat waktu. Pas sekali dengan waktu perkiraan, kami sampai di Pos Cigowong setelah menempuh 2 jam perjalanan. Di pos ini kami bertemu dengan 3 rombongan lain. 1 rombongan bersiap2 melanjutkan perjalanan, sedangkan 2 rombongan lain menyiapkan tenda untuk nge-camp di tempat itu. Kami? kami hanya mengagendakan untuk berhenti sebentar, memasak mie dan kopi, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

The next destination adalah Pos Pangguyangan Badak (PB) yang akan kami gunakan sebagai tempat menginap malam itu. Antara Pos Cigowong dan Pos PB, ada sebuah pos kecil yang bernama Pos Kuta. Dan seperti pada perjalanan awal, kami masih juga menjadi rombongan tepat waktu. :P

Kami tiba di Pos PB ketika waktu baru menunjukkan pukul setengah sepuluh. Masih cukup sore sebenarnya. Tetapi karena kami tidak begitu mengenal jalur2 Ciremai ini, maka kami menuruti saja petunjuk teman2 Gunati untuk nge-camp di Pos PB. Saat itu di Pos PB telah ada 2 rombongan pula. 1 rombongan sudah sepi karena nampaknya penghuninya sudah lelap dalam tidurnya, Sedangkan yang 1 rombongan masih menyiapkan tenda. Kami mengambil posisi di antara kedua rombongan itu. Si Bocah2 itu langsung sibuk dengan pembagian tugas masing2, sedangkan kami para wanita2 segera sibuk menyiapkan diri untuk tidur. hahahhaa

Pagi hari, kami dibangunkan oleh amukan yang mengguncang tenda. Amukan bocah2 yang sudah bosan membangunkan para ibu2 dengan suara. Rupanya, para bocah2 andalan kami ini sudah siap dengan sarapan lengkap dengan kopi hangat di depan kami. Dan para ibu2 yang mendadak menjadi pemalas ini mulai merangkak keluar dan mencari sumber kehangatan yang bisa di masukkan kedalam perut kami. Indahnya dunia ini.... :)

Agenda sarapan berjalan dengan lancar, dan kemudian di lanjutkan dengan packing tentunya. Dan perjalananpun di lanjutkan... Masih dengan tepat waktu pastinya. Boleh kan bangga2 sedikit... :p

Seperti narsis'ers2 yang lain, kamipun senantiasa mengabadikan diri berfoto di semua pos yang ada di sepanjang perjalanan. Namanya juga para dedengkot klub Akademi Cinta Gaya, jadi ya bawaannya gaayaaaaa...terus...

Namun ada satu penyakit yang aku derita yang mendadak dangdut kambuh dalam perjalananku kali ini. Jiwa narsisnya sedikit nge-drop. Sepertinya ada yang kurang dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak dalam kondisi sangat bernafsu untuk foto2. Sebenarnya aku tahu mengapa, namun sudahlah..kita lupakan saja. Karenanya, aku menitipkan kameraku kepada si Dewo, dengan sedikit pesan agar mengambil foto kami sesukanya, dan tanpa menuntut untuk sebentar2 di foto.....

Sempat terjadi sedikit perdebatan di tengah2 perjalanan mengenai tradisi meninggalkan barang di tengah jalan selama pendakian ke puncak. Untuk kami para ibu2 darmawanita Lawalata, meninggalkan barang di tengah perjalanan, mengamankan dengan baik, dan mengambilnya lagi ketika sudah turun nanti adalah hal yang biasa. Alasannya adalah hemat energi dan efisiensi.

Namun rupanya untuk teman2 dari Gunati yang bersama kami, itu adalah hal yang belum pernah di lakukan. Sedikit sulit juga meyakinkan mereka bahwa hal itu perlu dan layak di lakukan. Pada akhirnya, tetap saja para darmawanita Lawalata ini yang berhasil membujuk mereka. Jadilah 2 daypack saja yang dibawa. Daypack inti yang berisi semangka sebagai bukti dedikasi komandan 269 kepada perjalanan ini. hahahhaa

Semakin mendekati pertigaan Apuy-Palutungan, kami mendenga suara2 di sebelah kiri. Suara2 itu berasal dari para pendaki yang mendaki melalui jalur Apuy, di punggungan yang berbeda. Dari peta dan juga keterangan dari banyak orang yang sudah pernah ke Ciremai, memang kami akan bertemu di pertigaan Apuy-Palutungan sebelum beberapa pos menuju puncak. Nampaknya pertigaan itu sudah dekat di depan kami.

Ketika kami sampai di pertigaan Apuy-Palutungan, kami bertemu dengan beberapa kelompok pendaki yang sedang beristirahat. Memang sih, pertigaan itu menyediakan tempat yang luas dan nyaman untuk beristirahat. Kami bertemu dengan seorang pendaki yang sangat mirip dengan teman kami di Lawalata, dan kami langsung memanggilnya dengan nama teman kami. J-cheng.

Di pertigaan itu, kami kembali harus merasakan yang namanya menjadi center of public. Dan ingatan kamipun melayang ke beberapa waktu yang lalu, ketika kami sedang dalam perjalanan touring motor ke Citarik untuk Rafting. Mirip banget. Dimana ketika kami sedang sibuk berfoto2 ria, kemudian beberapa orang mulai mendekat dan minta photo bareng. Selain minta foto bareng, beberapa orang juga mengambil photo kami. Dasar jiwa narsis sudah mendarah daging, maka kamipun dengan senang hati melayani permintaan sessi photo dari mereka dengan berbagai gaya. hahahahhaa..... aneh...aneh...

Beberapa waktu berlalu, sessi photo sudah selesai, rasa lelah sudah berkurang, dan semangat sudah mulai kembali, kamipun melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah dari pertigaan, kami berhenti lagi karena memenemukan sebuah prasasti yang di gunakan untuk mengenang seseorang. Seseorang yang telah meninggal di Gunung Ciremai dalam sebuah acara, beberapa waktu lalu. Kami membaca tulisan yang di torehkan di atas batu itu, dimana ada nama dan umur almarhum. Yang membuat kami termenung adalah umurnya. Lahir tahun 1991 dan wafat pada tahun 2007, yang berarti wafat dalam usia 16 tahun. Too young to die bukan?

Dalam hati aku hanya berkata "Semoga tidak ada lagi anak2 muda yang meninggal di gunung manapun di dunia ini... Semoga engkau tenang di Sana dik... Kami akan selalu mencoba menjaga diri, agar selalu bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat... Rest in peace brother..." Sedikit kesedihan menyentil hatiku ketika kami berjalan kembali. Tapi ya sudahlah..... namanya juga takdir. :0

Perjalanan setelah pertigaan Apuy-Palutungan mulai berupa tanjakan2 nyata. Kamipun mulai setia dengan gigi 1 pada kaki kami. Kami juga selalu saling mengingatkan sesama untuk tidak boros dalam menggunakan gigi selama berjalan. Si bocah2 itu selalu rajin mengingatkan kami dengan teriakan2 pelan "Nek, Tante, Emak, jangan lupa.... gigi satu ya...." hahahahaha.... baiklah anak muda... :p

Di sepanjang jalur, semakin banyak pohon edelweis yang tumbuh. Namun sayang, rupanya belum tiba saatnya mekar. Jadi kami hanya menemukan beberapa pohon yang sedang kuncup. Sayang sekali, namun tidak mengurangi keindahan perjalanan kami yang really2 slow, but really2 sure.... :)

Semakin mendekati puncak, jalur yang kami lewati semakin dan semakin berbatu. Semakin terjal, namun melegakan. Yaa... kami lega karena akhirnya tanda2 puncak sudah dekat sudah semakin terasa. hehehhee.... Inilah yang namanya semangat tinggi untuk beristirahat dengan segera, disamping dorongan untuk sesegera mungkin makan semangka. Sluruuupppp....sluruppppp.... ^_*

Setelah memanjat, memilih jalan, dan bergelantungan di akar2 yang ada di jalur bebatuan sebelum puncak, kamipun sampai pada salah satu sisi puncak Gunung Ciremai. Awan sudah turun dan sempurna menutupi kawah. Tentu saja begitu, karena kami tiba di puncak sudah lewat tengah hari. Padahal waktu yang tepat untuk bisa menikmati kawah dan puncak gunung adalah pagi sampai menjelang siang. Tapi.... its okay... Nggak papa... toh waktu yang kami miliki memang tidak banyak. :)

Aku dan 269 sampai lebih dulu di puncak, dan menunggu 271 untuk berfoto bersama. Setelah 271 sampai, kamipun berfoto di bibir kawah. Sayang sekali, triangulasi puncak Ciremai ada di sisi lain kawah ini. Sehingga kami tidak bisa berfoto disana. Terlalu malas untuk menempuh perjalanan dengan kabut tebal seperti itu.
Maka kamipun iklas dan rela berfoto di salah satu rambu2 yang mengingatkan para pendaki agar tidak terpeleset. Untuk orang yang pernah mendaki Gunung Ciremai, pasti tahu bahwa kami ini sedang berfoto di salah satu sisi kawah Gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Sisi yang di tempuh melalui jalur Apuy dan Palutungan.

Namun, lain lagi cerita untuk orang2 yang belum pernah naik gunung itu dan tidak membaca ceritaku pada bagian ini. Mungkin mereka akan mengira kami sedang berfoto di depan sebuah kamar mandi/toilet. Maklum... yang biasanya ada rambu2 "awas kepleset" kan di toilet umum. Terlebih lagi background kami putih seputih dinding. Pengumuman, "Itu kabut di atas kawah boooo..." hahahahha

Akhirnya, tiba saatnya bagi kami untuk membuka perbekalan yang sudah menggoda sedari kami memulai perjalanan. Semangka.... hahahaaaa....

Kamipun mulai mencari tempat yang nyaman untuk berpesta. Lebih tepatnya mengikuti dan berusaha mendekati medan magnet yang muncul tiba2 di tengah kabut. Untukku dan 269, kami menyadari betul kenapa dan mengapa kami tiba2 bergerak ke tempat itu, tempat yang terlindung dari badai yang mulai datang. Karena ada medan magnet itu. hahahaha

Entahlah apakah 271 dan para pendekar kami menyadarinya. Yang penting pesta semangka terus berlangsung khidmat. Rupanya, kami tidak membawa banyak bekal. Mungkin karena kami saling mengandalkan ketika mempersiapkan bekal sebelum menimbun perbekalan kami yang lain dengan tumpukan rumput. Maka dari itu, kami hanya menghabiskan makanan yang kami bawa (yang sedikit) itu.

Pendaki yang lain mulai muncul satu persatu, hingga akhirnya suasana puncak meramai. Tapi tetap saja, kabut yang turun dengan cepat membuat suasana tetap dingin dan semakin dingin. Kamipun berbagi bekal dan saling bercanda tawa. Medan magnet pun bergeser dan melebar. :)

Aku lupa darimana saja asal para pendaki itu. Aku hanya ingat bahwa di antara mereka ada yang berasal dari Bandung, Kuningan, dan daerah sekitarnya. Jakarta juga ada dink....

Dari sekian pendaki, ada satu orang yang sangat nge-fans padaku. Ups.... tepatnya nge-fans kepada jaket merah kesayanganku. Windbreaker yang memang aku sangat sukai. Dia adalah mas2 yang berjaket kuning. Dari pertama dia melihatku muncul perlahan2 di belakangnya, dia sudah memperlihatkan ketertarikannya pada (jaket) ku.

Dia menyebutkan dengan detail tipe dan merek jaketku, dan membuat aku bingung karena tidak mengerti. Aku baru mengerti ketika dia menjelaskan padaku kekaguman dan keingin-punyaan-nya terhadap (jaket)ku. :p
"Adduuhh.. aku pengen banget lho punya jaket itu. Lebih2 yang warna biru. kereeenn " katanya

Hehehe.... jadi kepengen geer. Si mas itu rupanya mempunyai benda yang membuat kami, darmawanita Lawalata ter-ngiler2 untuk memakainya berfoto. Yaakk.... Topi kuning yang bertengger mesra di kepalaku. Membutuhkan waktu yang lama dan jurus2 maut untuk merayu masnya agar mau meminjamkan topinya pada kami. Mungkin tampang2 kami memang tampak seperti perampok sejati, sehingga dia tidak bisa merasa yakin bahwa kami akan mengembalikan topinya.

Aku bahkan sempat menggunakan jurus barter padanya. Aku menawarkan padanya untuk meminjamkan jaketku agar dia bisa berfoto menggunakan jaketku. Tapi kami juga harus mendapatkan topinya untuk kami pinjam. Dan rayuan itupun gagal. Akhirnya, kamipun pasrah dan mengganti jurus dengan jurus cuap2 beybeh alias ngobrol bersama ngalor-ngidul. Ujung2nya, kami mendapatkan topi itu, dan bergiliran melakukan photo session dengannya. :)

Semakin lama, kabut semakin tebal dan badai nampaknya datang dengan cepat. Suara bergemuruh mulai membuat kami yakin untuk bergegas berkemas. Untungnya, kami masih sempat ingat bahwa kami belum melakukan photo bersama dengan para Gunati'ers. Karenanya, dengan sedikit menggigil, kami melakukan beberapa jepret photo. Alhamdulillah.... :)

Inilah tim pendakian Gunung Ciremai antara 3 anggota darmawanita Lawalata-IPB dan 3 anggota muda Gunati-Unswagati. Kami menyebut pendakian ini sebagai pendakian Laguna. hahahha.... Kami adalah 3 wanita dari generasi yang berbeda, di temani oleh 3 anak2 muda dari generasi yang lebih berbeda lagi. Tapi disini, di Puncak Gunung Ciremai ini, kami selayaknya sama.... Sebagai Anak muda... Karena kami kan memang masih muda kinyis2... hehehehhe

Kemudian, kami dan juga teman2 yang lain segera turun sebelum badai menutupi jalan kami. Selain itu juga kami harus segera turun sebelum badai membuat jalanan yang lewati menjadi licin. Akan sangat berbahaya nantinya jika jalanan terjal itu licin. Tidak licin saja sudah sulit, apalagi licin? :)

Perjalanan turun berjalan dengan lancar kemudian. Barang2 kami juga aman, sehingga mungkin bisa digunakan sebagai referensi bagi temen2 Gunati dalam pendakian selanjutnya. Setelah melewati sebuah perdebatan mengenai tempat menginap, dan juga melihat bagaimana kemampuan peralatan kami, maka kamipun kembali menginap di tempat yang sama dengan tempat menginap di malam pertama.

Pagi harinya, kami baru melanjutkan perjalanan menuju perkampungan. Begitulah cerita perjalanan kami dalam rangka menemani 271 melewati liburan. Perjalananku menggunung setelah sekian lama (2 tahun lebih) istirahat dari acara gunung-gunungan. Rupanya aku masih bisa melewati perjalanan panjang. Syukur alhamdulillah aku masih turun dengan berlari, dan bukan me-ngesot. ^_*

Terimakasih untuk teman2 dari Mapala Gunati untuk semua bantuan yang telah di berikan sehingga kami bertiga bisa tertawa bersama di Sini. Dewo, Alfor, dan Kuya.... Kalian telah memanjakan kami yang biasanya mandiri ini.... hahahhaha. Temen2 yang lain, yang sudah mengantar jemput, membuatkan sarapan, menemani ngobrol dan lain2. Thanks for everything... :)


269 dan 271, terima kasih untuk kembali mengajakku bergabung menggunung. Semoga untuk perjalanan selanjutnya, kita bisa bersama2 dengan 270. ^_^