Thursday, December 7, 2017

Blusukan, Obrolan, Kekhawatiran, dan Kenyataan

Gegara semalam mimpi sedih, jadi pengen meracau lagi dimari....

------

Beberapa bulan yang lalu...

Setelah kami mencari sesuap nasi (benar-benar mencari nasi sampai ke restaurant China), aku dan salah satu teman memutuskan untuk tersesat. Kami menyesatkan diri memasuki lorong-lorong kecil, jalanan batu yang sambung menyambung seolah tak berujung.

Apa yang kami lakukan? Nggak ada... Cuma berjalan-jalan, menikmati gang, ngintip2 toko-toko kecil yang semua tutup karena Siesta (waktunya bobok siang panjang), melihat rumah-rumah tua dari batu, gereja tua, ngobrol...

Ternyata menyenangkan juga menyesatkan diri disela-sela gang itu, banyak hal baru yang bisa di lihat, yang tidak akan ditemukan kalau kami hanya berjalan lewat jalan utama di pinggir hotel, pinggir pasar, dan pinggir laut itu.

Aku dan temanku akhirnya sepakat untuk kembali menyesatkan diri dihari kemudian, dan kemudiannya lagi. Kami menikmati ketersesatan kami. Tapi demi bisa window shopping ke toko-toko kecil itu, kami harus rela mengorbankan makan siang kami. Nggak papa lah, makan siangnya juga kadang suka berantem sama lidah, dan nggak saling ngobrol... Kami perbanyak saja makan cemilan di waktu coffe break. Lumayan koq cemilannya lebih bisa ngobrol sama lidah kami... :-p

Cerita dari Shopping side:

Kami berdua sama-sama lebih suka sesuatu yang kecil-kecil, barang biasa, tapi nggak di jual di Indonesia. Contohnya? Aku akhirnya membeli penghapus pensil, yang bersusun dengan rautan, tapi warnanya kombinasi unik sekali. Si Mbak juga membeli kotak-kotak kecil dengan motif yang belum pernah aku lihat di Indonesia. Lumayan buat tempat perhiasan gitu.

Pengen beli kaos yang memang lucu, berbahan bagus. Tapi mahalnya... Secara otak langsung mengkonversi ke rupiah, jadi kurang lepas belanjanya. ahahaha

Cerita dari Craft side:

Kami berdua sebetulnya suka sekali dengan Craft. Si Mbak malah sudah berbisnis tas dari kulit, dan suka juga membuat rajutan amigurumi. Aku suka merajut (merenda) sesuatu yang lebih dipakai harian. Makanya acara blusukan itu semakin sempurna. Maklum di daerah yang musimnya beda dengan kita itu, banyak sekali toko-toko kecil yang menjual pernik-pernik merajut dan merenda (meskipun crocheting itu diterjemahkan menjadi merenda, tapi koq aku lebih suka bilang merajut. ahahha. Maksa).

Satu waktu kami dengan semangat memasuki sebuah pintu yang memajang banyak sekali benang rajut dengan warna cantik. Begitu memasuki rumah, terlihat sekitar 5-6 nenek-nenek duduk melingkari meja bundar. Mereka sedang merajut! Mereka otomatis berhenti merajut dan melihat ke arah kami. Kami dengan salah tingkat hanya melihat ke arah mereka, tersenyum, berkeliling sebentar, dan langsung kabur. Setelah itu kami tertawa-tawa karena membayangkan jangan-jangan nanti ketika tua kami akan seperti mereka. Merajut bersama.... :-p

Cerita dari Ngobrol:

Kami sempat juga ngobrol sedikit serius, tentang fenomena yang sedang terjadi saat itu. Kami merasa sedih, penasaran, kurang rela, tapi kemudian ikhlas dan sadar bahwa semua itu adalah kenyataan hidup yang memang sering terjadi. That's Life!

Aku sempat bilang "Saya sih paham kondisinya, tapi kalau saya, lebih senang kalau dibilang langsung tanpa harus (seperti dibuat) terombang-ambing ... Terasa lebih gimanaaaa gitu..."

Kemudian kami saling membuka sedikit kisi-kisi kedepan, mengenai ini, itu, anu, dan inu. Kami semakin sedih. Dan semakin blusukan.

Cerita dari Mimpi tadi malam :

Tadi pagi, saya terbangun dengan kurang nyaman. Sepertinya malam tadi adalah malam yang panjang. Sepertinya banyak yang terjadi dalam tidurku. Hanya saja aku tak ingat pasti. Beberapa hal yang bisa kuingat hanyalah Ini dan Itu (dari cerita ngobrol lalu itu) berada di antara kami, dan sedih sekali. Sepertinya kami adalah kumpulan orang yang sedang sedih. Entah kenapa.

Cerita Pagi ini:

Pagi ini aku mulai kerja seperti biasa. Membuka laptop, membuka email, menyalakan skype. Pesan pertama yang masuk membuat sedih. Anu dari cerita lalu ternyata betul-betul memutuskan untuk berpisah dari kami. Beliau mengucapkan kalimat perpisahan. Sampai aku menulis ini, aku belum menemukan kata-kata untuk membalas emailnya dan mengucapkan sampai jumpa juga. Nanti aku fikirkan bagaimana.... Aku sedang sedih.

Kadang tangisan dalam mabuk itu sepadan...
Aku jadi ingat waktu itu, waktu makan malam terakhir. Sepertinya waktu itu aku mabuk. Karena mendadak aku menangis. Hanya karena ada temanku yang mengucapkan salam perpisahan biasa. Saat itu, entah apa yang ada dikepalaku. Sepertinya sedang kosong. Isinya meleleh kedalam gelas wine. Iyyyuuuuhhhh....

Sebagai orang yang mellow, lebay, dan suka tersesat dalam ketidakjelasan, aku merasa perpisahaan kala itu terasa berbeda dengan biasanya. Tensi seperti sedang meninggi. Banyak berita berseliweran tentang perubahan. Tentang angin semilir yang perlahan semakin kencang dan berpotensi menjadi badai. #eeeaaa #mulailebay.

Seperti itu lah intinya...

Tapi kembali lagi... Hidup dan dunia ini adalah panggung sandiwara... Ceritanya yang mudah berubah. Masing-masing mendapat satu peranan yang harus kita mainkan.... #malahnyanyi

Selamat Hari Kamis!
Besok Hari Jum'at,
Lusa Hari Sabtu...
Kita kondangan lagi... :-)

No comments: