Monday, February 29, 2016

This Is The Story About Nanny

Entah harus dengan kalimat pembuka yang seperti apa, agar cerita ini menjadi sedikit dramatis.
Aku sengaja ingin menuliskan cerita ini, dan akan di update as necessary. Mudah-mudahan sih dari saat aku menulis ini, tidak perlu lagi mengupdate tulisan ini. Yang mana artinya, tidak ada lagi pergantian nanny lagi untuk K, karena nanny nya betah. Aamiin.

Jadi, rupanya masalah asisten rumah tangga itu selalu berada pada list 3 besar masalah rumah tangga, terutama untuk keluarga yang bapak dan ibu nya bekerja. Coba aja tanya kanan kiri pada teman yang punya anak, dan ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Mereka akan mengiyakan, atau bahkan akan curhat lebih dahsyat mengenai per-asisten-an ini.

Yang paling baru yang aku temui adalah di grup WA teman seangkatan kuliah. Ada salah satu temanku yang menanyakan info mengenai asisten untuk daerah Jakarta. Pertanyaannya simple, kurang lebih hanya berupa : "Teman, ada yang punya informasi mengenai asisten rumah tangga? Mau nyari nih. Istri mau lahiran pula. Di daerah Jakarta kisaran rate nya berapa ya?"

Dengan cepat aku balas pesannya dengan "Selamat datang di dunia per-asisten-an .... (lupa lagi aku bilang apa)".

Daaaannn... Bumm... tulit... tulit...
Mulailah sesi curhat dari teman-teman ku yang lain (termasuk aku), mengenai kisah suka duka mencari, merawat, mempertahankan, mencari, dan mencari asisten lagi. Dari sekian banyak yang menimpali pesan itu, tidak satupun yang memberikan kabar gembira. Kalau aku sekarang ini menggunakan asisten yang ke - 11, ternyata temanku ada yang lebih parah karena telah berganti lebih dari 15 kali. Masya Allah... Luar biasa sekali pemirsa...

Memiliki asisten juga merupakan proses pendewasaan  bagiku. Mulai dari pendewasaan dalam berhadapan dengan orang baru di rumah setiap hari, memperkerjakan orang, memberikan gaji orang, memastikan kebutuhannya tercukupi, mengontrol emosi, menahan diri, memaklumi, dan masih banyak lagi. Dan lama kelamaan, 3 hal terakhir adalah yang sering sekali muncul dan akhirnya sedikit kebal. hahaha

Karena itu aku berniat menuliskan perjalanan ku bersama dengan para asisten-asisten ku yang meskipun bagaimanapun juga, telah banyak membantuku dan keluargaku. Meskipun beberapa diantaranya hanya dalam 5 hari, 1 minggu, 2 minggu, tapi ada juga yang sampai 4 bulan. I thank for that!

1. Bi Nah (Aku tidak bisa mengingat nama lengkapnya, It's been ages. Maaf ya bi!)
Bi Nah ini orangnya sangat cepat. Itulah kata yang bisa menggambarkan dia dengan tepat. Kalau berjalan, dia sangat cepat. Kalau bahasa Jawa-nya "Ngibrit". Begitupun dengan bekerja. Dia bekerja dengan cepat. Semua dikerjakan dengan cepat. Sayangnya, jenis pekerjaan yang aku berikan adalah mengasuh bayi, jadi tidak bisa di percepat. Dan itu yang membuat dia mengundurkan diri. Dia terbiasa bekerja di beberapa rumah dalam sehari, dan penghasilannya dariku tidak bisa menutup biaya hidup nya dan anaknya. Tapi aku juga belum bisa memberikan gaji sebesar biaya hidup keluarganya. Sepertinya kita kurang ngobrol waktu itu bi. Harap maklum, saya baru pertama punya asisten. Dan Bi Nah hanya 2 minggu bersama kami.

Namun dia berbaik hati untuk membawakan aku pengganti. Namanya Teh Nisa.

2. Teh Nissa
Teh Nisa adalah anak muda belia yang baik. Dia lemah lembut, baik hati, muda, dan bergaya. Dia pulang hari, seperti hal nya Bi Nah. Hanya saja jika Mas Bojo kelapangan dalam waktu lama, aku minta dia untuk menginap. Dan dia mau. Setiap hari, dia datang ke rumah dengan busana rapi. Sepatu, celana jeans, kemeja, dan kerudung rapi, dan tak lupa tas slempang. Selalu begitu. Dia datang sekitar jam setengah 8, ketika aku sudah selesai mencuci dan memandikan K. Dia tinggal jemur kemudian menjaga K di dekat box nya, Ketika K tidur, dia akan ikut serta tidur di samping box nya. I am fine with that.

Sebelum bekerja denganku, dia bekerja di Day Care. Jadi dia sangat terampil mengurus K, menemani main, nyanyi, dan menidurkan. Memanaskan Asi juga dia sangat terampil. Dia sudah terbiasa. Besar sekali harapanku terhadap Teh Nisa ini. Sampai aku sudah bilang padanya bahwa kalau dia betah lama dengan kami, ketika kami pindah kerumah kami (saat itu masih kontrak), saya akan bantu kreditkan motor untuk dia pulang pergi seminggu sekali. Aaahhh... it's too good to be true.

Sampai pada saat dimana ada long weekend. Hari Jum'at yang merupakan tanggal merah. Aku pikir, aku dan mas bojo libur, dan akan berada di rumah saja. Sehingga tidak perlu bantuan menjaga K. Karenanya Teh Nisa aku ijinkan untuk tidak masuk. Hari bebas. Aku minta datang lagi hari Senin.

Hari berlalu, Senin pun berlalu. Selasa. Aku kirimkan SMS. Rabu. Masih belum ada tanda kemunculan Teh Nisa. Akhirnya SMS ku hari Selasa berbalas. Rupanya dia sakit. Berjanji masuk ke-esokan harinya. OK. See you tomorrow.

Akupun lega karena teteh yang cekatan dan mengerti kebutuhan K ini kembali bekerja. Hari berganti sampai dengan 2 bulan yang aman. Tiba lagi saatnya long weekend lagi. Kali ini, Senin adalah tanggal merah. Kejadian yang sama terulang lagi. Sampai dengan Hari Rabu dia tidak muncul. SMS juga tidak berbalas lagi. Hiks... Mas Bojo bilang "Jangan-jangan dia tidak betah, tapi takut bilang sama kamu?"

Aku yang kurang terima dengan pernyataan Mas Bojo, berusaha mencari rumahnya. Tanya sana sini, akhirnya ketemu juga. Aku merasa penasaran karena selama ini kami berhubungan baik. Dia juga nampak betah dan baik-baik saja. Kalau memang tidak betah, kenapa tidak terus terang?

Setelah sampai rumahnya, ternyata dia memang tergolek sakit dengan muka yang merah hitam karena masuk angin parah dan demam. Kasihan Teh Nisa. Ibunya bilang besok nya akan disuruh berangkat, tapi aku minta sembuh dulu saja baru kemudian berangkat kerja.

Setelah kurang lebih 3 bulan, kejadian serupa berulang, aku mulai merasa kewalahan. Ketika pekerjaan sedang perlu konsentrasi penuh, Mas Bojo ke lapangan, dan tidak ada teman main untuk K, adalah saat-saat aku kepingin mengunyah bantal. Tak berdaya, galau, marah, tapi entah pada siapa. Sepertinya si teteh merasakan gejolak jiwaku, dan akhirnya menyatakan kemunduran dirinya karena nggak enak bolos terus. zzzzzzzzzzzzzzz

3. Teh Ati
Akhirnya pencarian nanny mulai melibatkan keluarga besar. Rupanya ada saudara jauh dari pihak mas bojo yang sedang tidak ada kegiatan, karena menunggu masa dilamar. Namanya Teh Ati. Cuma karena memang pada awalnya niat memang hanya sambil menunggu waktu di lamar, jadi dia tidak bertahan lama. Semua jurus gesekan sudah di lancarkan agar tetap bekerja dulu, tapi kurang mempan karena lawannya adalah cinta. ea...ea...

Akhirnya Teh Ati hanya bertahan selama 4 bulan (sudah bonus sebulan dari awalnya 3 bulan). Hiks. Sedih karena sebenernya Teh Ati ini yang menurutku seorang nanny yang mendekati sempurna. Masakannya enak-enak, kerjanya paten, sama anak juga OK.

Ada hobi unik yang aku ingat dari Teh Ati. Dia hobinya nonton film horor macam Susana dan sejenisnya. Iyyuuuhh... Jadi, kalau dilihat nanti malam ada acara film susana, sorenya dia pasti bilang "Bun, ngopi ya...". "Mau begadang teh?" "Iya, mau setrika. Tapi sambil nonton Susana". hahahaha

*Menurut kabar terakhir hingga tulisan ini dibuat, Teh Ati sudah punya anak 1, dan tinggal di Bekasi atau mana gitu. Bahagia selalu ya teeehh....

4. Teh Nur
Sepeninggal Teh Ati, kami mendapatkan pengganti yang juga ditemukan oleh keluarga besar Mas Bojo. Namanya Teh Nur. Teh Nur ini pendiam sekali. Kerjaan bagus juga, karena dirumah juga terbiasa kerja, bahkan kerja di kebun membantu bapak ibunya.

Kekurangan Teh Nur ini, kekadang suka pasang tampang galau. Kalau di ajak ngobrol/dinasehatin/ditegur, suka melihat ke arah yang lainnya. Itu yang kadang bikin barbie aku rada emosi. Berasa nggak di anggap gitu.... :-p

Oh iya, satu lagi yang aku ingat dari Teh Nur. Pas pertama kali datang ke rumah untuk bekerja, aroma sriwing-sriwing menyerbak mewangi di rumah mungil kami. Akhirnya mertuaku bekerja keras dengan ramuan herbal untuk mengatasi sriwing-sriwing itu. Meskipun diawal K jadi ikutan beraroma sriwing-sriwing, namun hanya sebentar dan kemudian jadi wangi. :-)

Sepertinya si Teteh Nur ini tidak betah, entah karena aku suka negur dia kalau lagi pasang tampang galau itu atau apa. Yang jelas, dia memutuskan untuk tidak kembali lagi, hanya sekitar 3 jam setelah aku drop di rumahnya untuk libur lebaran. Alasan yang kata orang klasik nya dilarang orang tua. Meskipun kemudian ada drama susulan antara keluarga besar Mas Bojo dengan si teteh dan keluarganya, I don't wanna know... It's out of my business... 

5. Teh Uun
Setelah di tinggal Teh Nur, akhirnya kami pindah ke rumah kami sendiri, tak lagi mengontrak. Alhamdulillah. Sekali lagi, keluarga besar Mas Bojo mencarikan asisten dari kampung sana. Di dapatlah Teh Uun. Si teteh putih mulus montok yang suka berdandan. Uhuyyyy

Sayangnya, K kurang nempel sama Teh Uun ini. Setiap aku ada skype call, dan K digendong oleh Teh Uun, maka sepanjang call ku itu lah K menangis. Dan rupanya juga kami tidak berjodoh. Si Teh Uun mengundurkan diri untuk katanya pulang kampung dengan alasan klasik lagi mengurus nenek nya yang sakit . Entahlah apakah kepulangan dia berhubungan dengan kaki meja baru kami yang patah karena dia atau tidak... Yang jelas beberapa hari kemudian dia kembali untuk mengambil kain nya yang ketinggalan :-p

5-1/2. Lek Surami
Kenapa aku meletakkan nya di angka 5-1/2? Karena beberapa hari setelah Teh Uun mengundurkan diri, adalah saat aku harus berangkat untuk annual meeting di Bali selama 2 minggu. Karena tidak adanya waktu untuk mencari asisten baru, aku mengambil jalan pintas dengan mengimpor Ibuku beserta dengan asisten nya, dan juga mertua. Semua berkumpul di rumah untuk menjaga K.

Jadi, Lek Surami ini adalah asisten ibuku yang diperbantukan sementara, selama kurang lebih 3 minggu. Sayangnya, beliau sudah berkeluarga, sudah banyak tanggungan, dan dikampung sudah punya mata pencaharian yang penghasilan per bulannya jauh lebih besar ketimbang bekerja di rumahku.

6. Teh Yanti
Setelah menyerah dengan kisah sedih asisten yang dicarikan oleh pihak Mas Bojo, akupun berjuang untuk mencari sendiri melalui tetangga, satpam, teman, dll. Alhamdulillah tak berapa lama langsung dapat. Namanya Teh Yanti dari daerah Leuwiliang sana. Teh Yanti ini orang nya baik. Rajin juga. Namun kisahnya penuh drama. Baru sekitar seminggu dia bekerja penuh Senin - Jum'at, minggu depannya sudah mulai Ijin tidak masuk dengan alasan ibunya sakit. ijin 3 hari. masuk 2 hari. Minggu depannya begitu lagi, dan lagi, dan lagi.

Di saat aku merasa galau karena Teh Yanti yang ijin melulu, akupun curhat kepada tetanggaku yang punya warung, kalau sedang mencari asisten yang menginap. Gayung bersambut, dan ada yang mau kerja, saudara dari asistennya tetanggaku. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku berhentikan Teh Yanti dengan alasan agar fokus merawat ibunya saja dulu. Dan dia pergi membawa payung ku... hiks :-p

7. Teh Munawaroh
Akhirnya Teh Munawaroh di antarkan kerumah oleh teteh nya tetanggaku. Dia adalah teteh yang baik, tidak banyak bicara dan cekatan dalam bekerja. Teh Mun adalah teteh pertama yang mengejutkanku di pagi hari sekitar Jam 4, karena dia sudah bangun dan mulai mengepel. Rupanya sudah menjadi kebiasaannya bangun jam 4 dan langsung bekerja, seperti yang biasa dia lakukan ketika di Jakarta.

Rupanya drama baru dimulai oleh Teh Mun. Saudaranya tetehnya tetangga yang membawa dia kesini pulang dan menikah. Mulailah adegan galau menggalau dalam diri Teh Mun. Dia mulai tidak nyaman bekerja, terlihat sering termangu, sering bertelpon, dan sedih. Aku tanya kenapa, dia bilang mau pulang saja untuk menjaga saudaranya yang mau nikah itu. Lho? Mau nikah koq dijagain? Katanya dia di santet sama orang yang suka sama dia, atau apalah apalah... Frekuensi bicaraku mulai tidak sama dengan Teh Mun. Yang aku ingat adalah, beberapa kali dia bilang mau pulang karena ini atau itu, beberapa kali pula aku yakinkan untuk bertahan. Akhirnya pertahanan jebol dengan alasan "Saya juga pengen nikah. Kalau di kampung, siapa tahu jodohnya dekat". ea...ea...  Sayang sekali. Padahal masakan genjer bikinan Teh Mun enak sekali. hahhaa

*Beberapa bulan yang lalu ada asisten tetanggaku yang bilang ke asisten #9 bahwa si Teh Mun ini bilang kalau bekerja disini nggak ada istirahatnya. Helllooowww? seriussss? Semua asisten yang kerja padaku, selalu aku suruh istirahat ketika K tidur siang. Tidak jarang mereka juga ikut tidur siang. K mandi sama aku juga. Dan setiap maghrib, semua teteh purna tugas. Sudah boleh masuk kamar atau nonton TV kalau memang mau. Semuanya memilih masuk kamar dan berbuat bebas di kamar (nelpon atau apalah apalah). Mengherankan sampai ada pernyataan seperti itu. Hiks

8. Mbak Bekti
Akhirnya aku angkat bendera putih ke keluargaku, agar dicarikan asisten dari kampungku dan sekitarnya. Bapak dan Ibuku bertanya-tanya sana sini, tapi susah juga rupanya. Jiwa merantau orang-orang Jawa, tidak lagi seperti nenek moyang jaman dahulu. Tapi akhirnya mereka menemukan 1 anak dari pekerja Bapak. Namanya Mbak Bekti. Diantarkan lah Mbak Bekti ke Bogor oleh ibu dan bapak ku. Aku ingat mereka tiba di rumah Hari Jum'at sore.

Long short story, ternyata pahit sekali memang kisah dunia per-asisten-an kami. Mbak Bekti ikut pulang lagi bersama Ibu dan Bapak ku pada Hari Selasa. Dia tidak jadi kerja. Alasannya panjang kali lebar. hahahaha

*Rupanya, ketidak jodohan Mbak Bekti dengan kami, justru memberikan berita baik pada Ibuku. Mbak Bekti akhirnya menjadi asisten Ibu ku di Kampung. Dan sejak saat itu sampai skarang, aku tak lagi perlu khawatir terhadap makanan ibu dan bapak. Ada Mbak Bekti yang taking care of them. Baik-baik ya Mbak Bekti... :-)

9. Teh Nengsih
Akhirnya aku menyerah dengan pencarianku yang gagal, dan kembali mengangkat bendera putih ke keluarga Mas Bojo, untuk dicarikan yang mau kerja lagi. Akhirnya ketemu lagi satu asisten namanya Teh Nengsih. Teh nengsih ini adalah teteh yang tidak terlalu banyak berkata2. Susah hemat makan, karena katanya kalau di rumahnya, dia hanya makan satu kali satu hari, itupun pasti melibatkan mie instan.

Teh Nengsih ini cukup lama bersamaku, kalau tidak salah lebih dari 4 bulan. Dia termasuk teteh yang berjiwa atasan bersih. Pekerjaan yang berhubungan dengan ngepel, kamar mandi, nyapu halaman gitu dia malas hemat. Dia juga kurang paten masalah makanan. K setiap hari disuapin dengan makanan yang resepnya paling susah sedunia nasi putih dan telur dadar.

Hubungan dengan Teh Nengsih juga berakhir dengan drama. Dia mau pulang dengan alasan untuk menikah. Dan seperti biasa, selalu saja ada drama babak tambahan antara keluarga Mas Bojo dengan dia. Again, i am not interested because it's out of my business. Buatku, yang penting selama kerja di rumahku kami berhubungan baik, dia bilangnya betah dan nyaman, tidak clemer, masalah kemudian dia berbohong dengan tidak jadi menikah, ya suka-suka dia saja :-)

10. Teh Reni
Akhirnya aku ditawari oleh teman sewaktu masih nge-kos seorang teteh baru. Teteh ini sedianya akan di perbantukan oleh temanku itu untuk kakak nya, namun karena kakak nya sudah menemukan yang kerja sendiri, jadi yang ini di tawarkan padaku dan langsung aku ambil. Namanya Teh Reni. Rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku, namun dia bersedia menginap dan pulang setiap 1 atau 2 minggu sekali. Dia single parent untuk anak nya yang masih SD dan namanya mirip dengan K. haha

Teh Reni ini kerjanya bagus, masakannya lumayan, dan cukup telaten dengan K. Aku sudah berharap dia betah lama disini dan nanti aku akan biayai sekolah anaknya ketika dia sudah lebih dari 4 bulan kerja disini. Namun apa daya, baru 2 minggu kerja, anaknya sakit dan dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama. Sempat terjadi drama juga ketika dia belum mengundurkan diri, drama tentang uang. Ah tapi sudahlah... Akhirnya dia merasa tidak enak karena cuti lama sekali padahal kerja juga belum sampai 2 minggu dan memutuskan untuk mundur saja. Duh, sayang sekali aku memang sedang tidak bisa menunggu untuk dapet teteh, karena pekerjaan sedang cukup banyak.

Yang paling menonjol dari teteh ini adalah dia suka sekali berpenampilan sexy. Dengan baju harian semrawang dan tali BH warna-warni dan kemana-mana, serta baju tidur yang sangat ketat dan sangat pendek sekali. hahahaha. Aku sempat merekomendasikan si teteh ini ke tetangga, namun nomornya sudah tidak ada yang bisa dihubungi. Mudah-mudahan anaknya sudah sehat ya teh...

11. Teh Dewi
Ketika aku sedang dalam masa mencari, tetiba di grup RT ada yang menawarkan orang yang mau kerja. Langsung aku follow up dengan cepat. K aku gendong dengan kain dan kami cuss dengan motor menanyakan langsung ke mamang sayur komplek. Gayung bersambut, ternyata yang mau kerja adalah adek iparnya. Setelah ngobrol masalah kerjaan dan gaji, akhirnya sepakat untuk diantarkan nanti malam. Alhamdulillah

Namanya Teh Dewi, dari Brebes bagian Sunda. Anaknya masih kinyis-kinyis sekali. Belum bisa apa-apa karena memang baru lulus SD dan sempat masuk pesantren sebentar. Tapi dia mau belajar. Rupanya masalah peng-hire an dia ini juga sudah melibatkan drama. Drama rebutan asisten dengan tetangga. Ada tetanggaku yang merasa sudah ditawari si teteh ini, namun karena baru bisa memberi kepastian 2 atau 3 hari setelahnya, jadi kalah cepet dari aku. hehehe. Piss ya Bu N... :-p

Si teteh ini kreatif dan mau belajar. Dia melihat banyak buku resep punyaku, dan dia mempraktekan nya untuk masakan keluarga, serta makanan untuk K. Dia ulet sekali masalah K. Kalau K tidak suka dengan menu1, dia akan bikin menu 2, menu 3 sampai K cukup makannya. Makasih Teteh Dewi!

K juga langsung nempel sekali dengan dia. Alhamdulillah. Harapanku sangat besar terhadap Teh Dewi ini. Mudah-mudahan dia betah dan kerasan dan terbebas dari gangguan-gangguan yang membuat dia mundur dari kerjaan. #fingercrossed.

Minggu ini aku sempat mendapatkan shock therapy dari Teh Dewi yang menyatakan diri mau pulang karena mau di jodohkan. Lagii????? Oh no... Aku sudah sempat hopeless dengan kondisi. Aku cuma bilang ke Teh Dewi untuk telpon bapaknya dan bilang sejujurnya. Kalau memang mau di jodohkan ya sudah tidak apa-apa pulang. Tapi kalau tidak mau ya bilang saja tidak mau. Akhirnya dia tidak jadi pulang. Yaa Allah... Mudah-mudahan engkau jodohkan kami dalam hubungan pekerjaan ini sampai lama. Mudah-mudahan si Teh Dewi bertahan bekerja disini sampai bertahun-tahun dan tetap baik seperti sekarang. Aamiin.

Mudah-mudahan cerita ini tidak perlu di update dalam waktu dekat. Mudah-mudahan aku baru perlu meng-update 5 atau 10 tahun lagi. Aamiin :-)


Update as per 29 February 2016:

Seharusnya ini adalah update as per 23 February 2016. Namun rupanya membutuhkan waktu seminggu bagiku untuk lepas dari baper dan move on. Jadi korban PHP lagi itu rasanyaa... Malesssss... Dan dengan ini resmilah sudah aku punya Tim Kesebelasan Mantan Pembantu... hahahahaa

Iya. Jadi akhirnya si Asisten #11 itupun cuti dan tak kembali. Dia bertahan selama 4 bulan dengan full vacation (Pantai Oar dan sekitarnya dan juga Jogjakarta), tapi tak berminat lanjut lagi sepertinya. Entah terkena godaan apa dia di kampungnya sana. Atau memang dia pintar ber akting. Either one. Karena pas sebelum berangkat untuk cuti pertamanya, dia dengan sangat meyakinkan kami bilang bahwa Hari Selasa Pagi jam 6 pasti sudah sampai rumah lagi. Karena dia masih betah, en de ble en de bla. Tapi hari berlalu dan malam berganti #halah. Dan dia pergi tak kembali.... Lupakan. End.

Tadi pagi, ada calon asisten baru yang datang melamar. Kali ini aku akan mencoba peruntungan untuk menggunakan jasa ART yang pulang pergi. Mudah-mudahan K bisa cocok dengannya.

#12. Bi Sri
Orang Sunda tapi namanya Sri. Orang nya sudah berumur, punya anak 1 sudah SMU. Suaranya besar. Rumahnya di belakang komplek. Dia datang berdua dengan tetangganya yang juga sama-sama mencari kerja. Bi Sri kayaknya bingung dengan rate dia sendiri. Mungkin dia sekedar mencoba peruntungan ketika bilang rate nya ******. Karena begitu aku iyakan, dan diajak ngobrol ngalor-ngidul hingga akhirnya pamitan pulang (mulai kerjanya besok), dia nanya lagi "Bu, tadi saya bilang berapa ya gaji saya?" Pas aku bilang ****** (dikurangi 150.000 sambil tertawa), dia cuma bilang "oh segitu ya tadi saya bilang? Bukannya ****** (dia kurangi sendiri 50.000)?" hahahaha

Terus saya bilang "Gini aja bi... kita coba dulu 1 bulan apa K cocok apa enggak sama bibi. Jadi 1 bulan ini gaji bibi ****** (angka yang dia bilang terakhir), nanti kalau cocok, saya tambahi lagi jadi ****** (angka kesepakatan pertama)." Eh dia malah bilang "ya udah deh bu... ****** (angka yang dia bilang terakhir) aja, nggak usah pake 50 ribu. Di pasin aja." hahahaha.... Baru sekarang ada bibi yang menolak di gaji lebih... Sepertinya ibu itu galau.... :-p

Yaaaa kita lihat dulu ya bi ya gimana nanti K sama bibi. Cucok apa enggak... Masalah angka mah gampang sama saya sih... :-p

Sekian dulu.

Update as per 01 March 2016

Memang sih dari February ke Maret itu jaraknya sebulan. Tapiii, ini sungguh tragis. Kembali lagi aku jadi korban PHP dari asisten. Bi Sri yang kemarin (Iya, kemarin. 29 February 2016) bilang mau datang hari ini, tidak jadi datang.

Aku pikir Mbak B yang dari Jogja Hari Jum'at dan pulang Hari Selasa itu adalah yang paling tragis. Tapi rupanya ada lagi yang lebih tragis dari yang ter tragis. Datang kemarin cuma buat mengiyakan dan tahu gaji aja, terus kabur nggak jadi datang. Oh My.... Oh My... Oh My...

Mas Bojo dan aku hanya bisa meraba2 kenapa dan mengapa. Mungkin saja si bibi itu kemarin dapet tawaran kerja yang lebih deket dari rumah nya? Atau dapet kerja yang gajinya lebih tinggi? Atau dapet kerja yang deketan sama temennya kemarin? Atau dia dapat kerja yang bisa pulang siang karena nggak ngasuh? Entahlah... entahlah... entahlah...

Lowongan kembali di buka! Sekian.

Update as per 03 March 2016

Hari ini adalah hari ke-2 dari #13 Nek Yati. Nek Yati sudah sepuh, mungkin hampir seumuran dengan simbahku. Dilema sebetulnya mempunyai asisten sepuh. Karena aku jadi sungkan kalau mau minta ini itu. Dan juga sungkan kalau mau nunjukin kerjaan ini atau itu. Tapi karena ketidak mampuanku menolak, jadi aku iyakan saja kemarin. Kisahnya panjang... Sedikit banyak aku ceritakan sebentar lagi.

Jadi, sebetulnya Nek Yati ini mungkin bisa di bilang asisten #13.5. Ceritanya, tanggal 1 malam aku mulai lagi membuka lowongan kerja ke 2 orang tetanggaku. Yang satu Mbak M yang asistennya sudah 5 tahunan ikut dia, dan satu lagi H yang baru dapet asisten juga. Tetanggaku, H, mengatakan bahwa bibi-nya (asistennya) punya saudara ipar yang ingin sekali kerja, jadi besok akan dimintanya datang ke rumahku pagi2. Sambil ngobrol ngalor-ngidul sama H, aku minta brief guidance ke dia tentang bagaimana menginterview calon asisten. Dari sekian banyak list pertanyaan yang dia sarankan, rupanya hanya sedikit sekali yang pernah aku tanyakan. Kata H, kita harus jual mahal sedikit agar mereka tidak melunjak. Aku rasa, selama ini aku langsung pasang tampang mupeng begitu ada orang datang ingin bekerja. hahahahhaa

Aku bilang ke H kalau besok pagi ketika calon asistenku datang, aku akan bacakan itu list pertanyaan dari dia. Karena asisten H biasa datang jam setengah 7, maka aku sudah harap2 cemas ketika sampai dengan jam 7 keesokan harinya, si asisten juga tak kunjung datang.

Sekitar setengah 8, ada yang mengetuk pintu, aku pikir asisten dari H itu. Eeeehhh... ternyata si emak dari Mbak M yang datang bersama dengan seorang nenek yang akhirnya aku tahu namanya Nek Yati. Dalam hati aku sudah merasa eng ing eng, karena sebetulnya aku berharap bibi kiriman nya H yang datang. Tapi ya sudahlah... toh ditunggu sampai setengah 8 belum sampai juga. Akhirnya aku memberi kabar kepada H bahwa sudah ada yang kerja karena bibi nya nggak datang2. Eh rupanya si bibi nya juga sudah otw to my home. Oh my.... Setelah aku ceritakan ini itu, akhirnya H bilang untuk memberi bibi nya uang ongkos aja kalau memang tidak jadi diperlukan.

Akupun melancarkan pertanyaan seperti yang sudah dicontohkan oleh H kepada Nek Yati. It works... kekekkeeke

Akhirnya pekerjaan pertama Nek Yati adalah menyeterika. Ketika Nek Yati sedang asyik menyeterika, si bibi nya H dan saudaranya datang. Akupun menceritakan bagaimana kondisi yang ada. Mungkin karena merasa sedikit kecewa, akhirnya saudara bibinya H yang awalnya mau kerja itu jadi pasang bargaining position dengan menceritakan betapa beliau sebetulnya masih diharapkan untuk kerja di beberapa tempat, hanya saja dia tolak karena jauh, dll. Aku maklum.

Begitulah ceritanya. Meskipun sedikit gegar budaya karena K biasanya diasuh oleh remaja, dan sekarang diasuh oleh nenek2... :-)

Sekian.

Update as per 28 July 2016

#14

Jadi ceritanya berlanjut. Tentang Nek Yati. Akhirnya si nenek hanya bertahan kurang dari 2 bulan. Sakit dan mengundurkan diri. Mungkin karena nggak terbiasa kerja seharian dan ngintilin anak kecil jadi lelah nek yati.

Akhirnya kami juga ikutan lelah memikirkan asisten dan butuh piknik untuk sekedar melupakan masalah perasistenan. Bulan Mei lalu kami hijrah 3 minggu ke Jogja. Alasannya dibuat banyak. Lelah mikir asisten, dan juga mumpung K belum sekolah. Karena kan July K sudah sekolah, dan kalau sudah sekolah bisa susah pulang ke Jogja.

Karena Juni adalah Bulan Puasa, kami memutuskan tidak memakai asisten dulu. Beberapa tetangga yang baik menawarkan, tapi kami merasa waktunya sangat nanggung. Masuk pas puasa, pasti minta THR juga kan nanti. hehehe... maklum, sekarang jadi pelit karena patah hati berkelanjutan sama asisten. :-p

Setelah mudik lebaran, kami akhirnya mulai membuka peluang kerja untuk asisten rumah tangga yang PP saja. Sambil mulai tanya-tanya kanan-kiri, kami menyiapkan K untuk sekolah.

Tiba-tiba minggu lalu (lupa tepatnya hari apa), ada yang mengetuk pintu. Dan coba tebak siapa yang berdiri sambil tersenyum di depan pintu kami? Teteh #7 donk... Iya, Teh Munawaroh. Aku sudah feeling sih kalau si teteh ini pasti mau nyari kerja. Tapi secara basa-basi aku tanya juga sih. Dan benar, dia mau kerja lagi. Aku tanyain katanya mau nikah, katanya jodohnya belum ada. Dia pernah kerja didaerah Cimanggu Bogor, tapi katanya anaknya bandel banget dan nggak betah (entahlah, aku belum cek kebenarannya). Aku tanya mas bojo, katanya suruh terima saja karena masakannya lumayan enak. hahahaha. Murah sekali kita ini sama asisten ya.... :-p

Singkat kata, akhirnya si teteh #7 kerja lagi sama kami. Mudah-mudahan kali ini dia balik for good, lama betah dan berkah. Aamiin.

5 comments:

Safinah Hakim said...

bu, saya perlu pundi2 lagi nih. Daftar boleh?

Ini Wilis said...

Boleh... Kamu pasti akan senang sekali bekerja di rumah saya. Karena saya membuka koleksi buku saya untuk para asisten.

Tapi tunggu, kamu nggak minta gaji dengan rate S2 kan? ~_~

yudi nofiandi said...

hahaha... (hanya bisa tertawa bu..) sabar ya...

Ini Wilis said...

Terima kasih banyak untuk tertawanya pak yudi... Saya sudah kulakan sabar dari pasar mbutuh. Mudah2an cukup untuk seabad... Zzzzzzzzzz

Unknown said...

Kuueju moco kisahmu dan ke13 asistenmu. Mantapp...
Ingat,, dalam kesuksesan seorang ibu ada asisten handal dibelakangnya.
Gud lak ya bu...