Friday, January 20, 2012

Aku Hanya Ingin Sebuah Teko Kopi


Pagi ini, ketika aku sedang khusyu' di kamar mandi sambil seperti biasa - membaca buku - aku menemukan sebaris kalimat yang cukup menarik buatku. Kalimat sederhana, yang mungkin sudah melenceng dari arti ungkapannya yang sebenarnya, karena itu adalah buku terjemahan. Mungkin jika membaca ungkapan itu dalam bahasa aslinya, kita bisa mengambil kesan yang lebih dalam (biasanya sih). Tetapi dengan hasil terjemahannya itupun aku sudah merasa cukup tertarik.

Buku ini aku beli atas dasar rekomendasi temanku. Dia berkata, buku ini sangat bagus dan recomended untuk dibaca. Isinya mengupas tuntas mengenai hubungan 2 orang berlainan jenis kelamin yang sedang mencari dan mempelajari lebih dalam arti dan maksud dari pernikahan. Judulnya 'Commited', ditulis oleh Elizabeth Gilbert yang juga menulis buku Eat, Pray, and Love sebelumnya.

Belakangan ini, aku meninggalkan bukunya Anita Shreve yang berjudul Rescue, untuk membaca buku Commited ini. Pendapatku? Yaa... namanya juga pendapat orang, kan boleh berbeda donk ya... Ini adalah masalah selera dan pemikiran masing2 orang yang jikapun di debat sampai perang dan bunuh2an pun tidak akan menjadi benar. Namanya juga selera, taste... :p

Aku berpendapat bahwa ternyata aku kurang menyukai buku ini. Aku sangat suka dengan desain dan bahan sampul yang di gunakan untuk buku terjemahan ini, namun aku tidak terlalu suka dengan cara si Gilbert ini bercerita. Banyak bab yang akhirnya menurutku menjadi kisah yang monoton dan sedikit membosankan. Padahal, apa yang diceritakannya adalah kisah yang menarik, namun entah kenapa, aku gagal mengalir bersama ceritanya.

Tapi, bukan mengenai isi dari buku itu yang ingin aku bagi disini. Aku hanya ingin membagi kalimat yang menurutku cukup menarik untuk di bagi. Di salah satu halaman dari buku ini, ada kalimat yang berbunyi "Aku hanya ingin sebuah teko kopi".

Awalnya, aku berfikir "oh... ya ampun. Jadi si cowok ini ngambek karena pengen teko kopi? ck..ck..ck... kayak anak kecil aja sih?"

Tapi ternyata, setelah dia menjelaskan pada teman wanitanya "Aku ingin berada di rumah, tinggal bersamamu di suatu tempat yang aman. Aku ingin rutinitas. Aku ingin teko kopi milik kita sendiri. Aku ingin bangun pada jam yang sama setiap hari dan membuatkan sarapan untuk kita, di rumah kita, dengan teko kopi milik kita sendiri".

Ouch...ouch... Pendapatku mengenai seorang bocah tua nakal yang ngambek gara2 teko kopi langsung menguar sudah. Berganti dengan ketakjuban yang disertai mata berbinar2 (kalau di komik, mencuatlah daun cinta berwarna pink - berkedut2 di depan mata). hehehe... lebay.... Tapi beneran lho... Pemilihan kalimat yang indah untuk mengungkapkan sebuah hasrat kebersamaan. Kalau ada yang mengatakan hal itu kepadaku, sepertinya aku langsung meleleh laksana putri lilin yang terkena panas matahari dalam jangka yang lama. :p

Sedikit banyak emosi yang terkandung dalam kalimat itu, hampir serupa tapi tak sama dengan emosiku dan emosi dia yang namanya tak boleh di sebut. Dalam rangka menuju hari yang dinanti semua masyarakat dipenjuru dunia itu (hahah... sumpah kalau ini lebay banget), aku dan dia sedang berjuang keras untuk menemukan tempat untuk menyimpan dan menggunakan teko kopi kami. Ya, kami juga sedang dalam masa mencari dan mencari rumah tinggal. Hanya saja, kami tidak berkelana keliling dunia untuk mencarinya, seperti yang di lakukan Gilbert dan Felipe.

Aku dan dia hanya semakin rajin membuka2 internet, keluar masuk perumahan, dan sibuk bertanya kesana dan kesini tentang rumah, rumah, dan rumah. Maksud hati ingin membeli, namun apadaya uang belum sampai, jadi sepertinya kami ingin menjadi kontraktor saja dulu. Alias orang yang mengontrak rumah terlebih dahulu. Jika rejeki sudah mengalir dan mengarah pada kepemilikan rumah, Insya Allah kami akan membelinya. Amin :)

Mari kita kobarkan semangadh juang untuk mencari tempat berlindung bagi teko kopi kita. huuuuyyyeeeaaaahhh....!!!! ^_^

No comments: