Monday, December 19, 2011

It's About Working

Ketika kecil, kita selalu di tanya orang seputar 'nanti besar mau jadi apa?'. Dan sebagian besar dari kita (aku yakin) akan menjawab dengan jawaban 'dokter', atau 'presiden', atau 'pilot', atau 'astronot', dan lain2. Itu yang biasanya dibilang dengan 'cita-cita'...

Seiring dengan berjalannya waktu, maka cita-cita dan impian kita untuk jadi apa itu akan banyak yang berubah dan beralih ke bidang yang lain, yang mungkin dulu (ketika kecil) belum masuk ke ranah anak kecil. Anak kecil kan tidak pernah berfikir bahwa ada pekerjaan yang bernama peneliti, wartawan, photografer, bussinesman-bussiness woman, pekerja bank, sekretaris, bahkan mungkin anak kecil juga belum pernah berfikir bahwa ada pekerjaan yang bernama PNS. Anak kecil adalah dunia dengan pemikiran yang hebat2 sedunia, namun dunia yang masih terbatas ruang lingkupnya.

Terlebih lagi, ketika kita sudah benar2 memasuki dunia kerja, maka tidak jarang apa yang dulunya menjadi cita2 masa kecil kita itu, akan semakin jauh dan jauh saja. Hingga akhirnya realita dunia membawa kita pada apa yang ada di depan mata kita saat ini, di Hari Senin ini. Inilah kita sekarang.... Kalau aku tinjau lagi ke belakang sana, ketika aku masih bergelantungan di pohon jambu dikebun bapakku bersama dengan teman2ku, atau ketika aku dan teman2 SD ku berlompatan kesana kesini di miniatur Peta Indonesia di belakang sekolah kami, maka apa yang ada di depan mataku sekarang ini adalah dunia lain dari apa yang kami impikan kala itu. :p

Tapiii.... Aku menyadari betul kenapa, mengapa dan bagaimana bisa semua itu bisa berlalu. Aku menikmati semua proses yang terjadi, dan menyadari sepenuhnya setiap pilihan dan konsekuensi yang muncul setelah pilihan2 itu. Sehingga, semua yang pernah kami ungkapkan saat itu, menjadi kenangan indah yang tetap menjadi kenangan indah, tanpa terlukai oleh akhir yang tidak sejalan ini. Dan apa yang ada didepan mataku saat ini, adalah kenyataan yang indah, yang akan menjadi kenangan indah pula suatu saat nanti... ehehehe

Pekerjaan, bekerja, mengerjakan, dan dipekerjakan...

Menurutku adalah kata2 yang terpisah, namun menjadi satu paket ketika kita berada di dalamnya. Tidak bisa dipisahkan oleh perasaan, emosional, egoisme, ataupun idealisme.

Meninggalkan bangku kuliah (atau sebelumnya), membuat kebanyakan dari kita diharuskan menerima kenyataan bahwa tibalah saatnya kucuran dana dari pusat moneter keluarga di hentikan. Dan tiba saatnya pula bahwa kita harus segera membuka mata, telinga, dan pikiran untuk berdiri tegak, dan melangkah tegap kedepan, menyongsong hidup dengan tanggungjawab sendiri. Dan mau tidak mau, langkah pertama yang harus di ambil adalah mencari pekerjaan.

Banyak di antara kita yang beruntung dengan langsung mendapatkan pekerjaan, namun banyak juga di antara kita yang kurang beruntung dalam hal mencari pekerjaan ini. Keberuntungan dan ketidakberuntungan inipun masih saja bisa digolongkan kedalam berbagai macam tingkatan, tergantung dari bagaimana orang menikmati semua proses dalam memanen hasil kerjanya. hehehe...

Dan aku, alhamdulillah termasuk orang yang sangat-sangat beruntung dalam hal mencari pekerjaan. Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan, dan terima kasih tiada terhingga untuk semesta atas apa yang aku lalui, yang aku dapat, dan yang aku jalani hingga saat ini. I am very lucky...

Untuk yang sudah mendapatkan pekerjaan, maka langkah yang kemudian dijalankan adalah bekerja. Kita bekerja di tempat kita mendapatkan pekerjaan. Di dalam bekerja ini, kita akan mengerjakan berbagai hal yang bermacam2 dan berbeda2 untuk setiap orang dan setiap tempat pekerjaan. Yang jelas, kita akan bekerja dan melakukan pekerjaan yang ada.

Terkadang, bagaimana kita mengerjakan pekerjaan juga menjadi sesuatu yang unik. Karena terkadang ada orang yang memang terbiasa dengan idealismenya, sehingga hanya mau mengerjakan apa yang tertulis di kontrak kerjanya, dan hanya mau berhubungan kerja dengan orang yang namanya ada di surat perjanjian kerjanya. Tidak dengan bagian2 yang lainnya.

Aku pernah berbincang dengan teman seperjuangan yang sudah bekerja dalam satu bidang pekerjaan. Sebut saja namanya "bunga". :)

Malam itu kami saling menceritakan pengalaman2 kami dalam bekerja di tempat pekerjaan kami, dan membicarakan apa yang kami kerjakan. Temanku menceritakan bahwa dia mendapatkan request pekerjaan dari beberapa atasannya akhir2 ini. Dan dia merasa tidak suka dengan itu, karena menurutnya dia hanya bertanggung jawab pada satu orang saja. Kamipun mendiskusikan perasaan terganggunya itu.

Menurutku, temanku itu berhak untuk merasa tidak suka di perintah atau diminta mengerjakan pekerjaan orang lain, jika dia sudah memiliki job description sendiri. Banyak orang melakukan hal yang sama dengannya, yaitu hanya akan mengerjakan apa yang menjadi bagiannya saja. Sah2 saja dan tidak melanggar peraturan koq. Hanya saja itu berbeda dengan paham yang aku anut. Aku yang menganut paham akan kukerjakan selagi bisa, dan akan aku kerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan tempat kerjaku, karena aku tidak hanya bekerja untuk orang, melainkan untuk tempat kerjaku. Secara otomatis aku menganggap semua pekerjaan orang2 di tempat kerjaku adalah untuk tempat kerjaku, jadi memang sudah sepantasnya aku mengerjakannya. Itu pahamku.... bagaimana dengan pahammu? Hehehehe.... korban iklan deeehhh.... :p

Belakangan ini aku menemui teman yang lebih berbeda dariku dan dari temanku yang sebelumnya. Temanku ini kelihatannya sangat tahu pasti apa yang di inginkan nya, tahu pasti bagaimana cara untuk meraih impiannya, dan tahu pasti apa yang harus di lakukan dan tidak dilakukan untuk membuat apa yang diimpikannya itu tercapai. Hanya saja dari kacamataku, dia melupakan kenyataan bahwa selalu ada kekuatan selain jabatan di suatu lingkungan kerja.

Sepertinya temanku ini memiliki cita2 yang lebih tinggi untuk perjalanan karirnya. Ya memang seharusnya begitu kan... Namun dia menjadi lepas kendali dan hanya bersedia mengerjakan sesuatu yang menurut dia menjadi porsinya, dan menolak mentah2 tugas lain, meskipun sebenarnya dilihat dari kaca mata kudapun adalah tanggung jawabnya. Temanku yang percaya diri ini justru menganggap harga dirinya akan turun jika dia mengerjakan tanggung jawabnya itu. *tepok jidat* Pelik sekali dunia pekerjaan bukan? Hahhahaa....

Yaaa.... seperti yang sudah aku bilang, semua itu hanya tergantung pada bagaimana kita merasakan, mencintai dan menjalankan roda kehidupan kita. Yang dipekerjakan tidak akan merasa dipekerjakan jika kita mencintai pekerjaan kita. Yang ada hanyalah kita yang mengerjakan pekerjaan yang kita cintai... hohohoho....

Jadi, antara cinta dan pekerjaan janganlah di kotak2an.... Betul? Betuuullll..... :p

No comments: