Monday, October 31, 2011

Teriakan Melalui Asap Rokok yang Mengepul

Melihatnya termangu dibangku kayu depan rumah. Asap mengepul dari ujung rokok yang bertengger dimulut,disanggak oleh tangan yang bertelekan di lutut. Matanya menerawang jauh ke arah kota yang jelas terlihat tanpa tertutup apapun. Duduk diam, diam, dan diam.... Sesekali beliau menghela nafasnya dalam2, dan dikeluarkannya desahan kecil seiring dengan putaran2 asap rokok itu....

Usia dan juga permasalahan yang menggerogoti kulitnya. Beban yang harus ditanggungnya bukanlah sesuatu yang ringan. Semua terlihat jelas dari kantong mata, keriput, dan ubannya yang mulai banyak.

Tanpa kata, pandangannya meneriakkan harapan. Benarkah orang2 di kota sana peduli padanya? Pada rakyatnya? Pada keberlanjutan beberapa generasi dari ratusan manusia terpinggirkan ini?

Dia sadar bahwa dia hanyalah rakyat kecil yang tidak memiliki harta dan tahta. Dia tidak pula punya daya untuk menuntut ini dan itu. Namun dia menjadi tumpuan banyak kepala manusia untuk bisa bertahan dalam keyakinan. Keyakinan untuk apa? Keyakinan untuk bisa kembali meneruskan generasinya di tanah tumpah darahnya. Dia, bukan siapa2 dimata negara, tetapi dia adalah seseorang di mata warganya, dan yang paling penting, dia adalah seseorang yang sangat2 berjasa untuk keluarganya.

Sekarang? Setelah semua daya upaya dilakoninya dengan susah payah, sepertinya hasilnya mendekati nihil. Dia dan juga orang2 yang dicintainya harus hengkang dari tanahnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya, selain diam, menikmati rokoknya, sambil sesekali menghela nafas dalam2....

Rasa marah ini muncul manakala melihatnya seperti itu. Lebih tenang rasanya melihatnya marah kepada siapapun, daripada berdiam diri seperti itu. Rasa marah ini tertuju pada bangsa yang selalu mengagungkan kejayaannya, namun tak pernah belajar dari rakyatnya ini.... Marah ini karena terlalu banyak orang pintar yang ingin membodohi rakyat miskin dan bodoh.... Rasa marah ini, karena ketidakmampuanku melakukan sesuatu halpun untuk membuatnya kembali tertawa.... Rasa marah ini karena kesedihan yang tiada tara....

Dia yang berdiam diri di bangku kayu, menikmati rokok sambil sesekali menghela nafas dalam2 itu adalah.... Bapakku...

Mudah2an Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kebahagiaan untukmu di hari tuamu ini pak.... Doa kami selalu bersamamau. Amin

No comments: