Kenyamanan....
Sesuatu yang menyenangkan, menggiurkan, menenangkan, memuaskan, namun sekaligus mematikan. Siapa sih yang tidak menginginkan kenyamanan? Siapa sih yang tidak menginginkan tiba dizona nyaman? Siapa sih yang menolak diberikan proses yang membuat kita merasa nyaman? Jarang2 deeehh....
Kebanyakan dari kita, berjuang agar bisa mendapatkan rasa nyaman. Kebanyakan dari kita, berlomba2 agar cepat tiba di zona nyaman. Kebanyakan dari kita mau dan mampu melakukan apa saja untuk bisa menikmati area nyaman. Dan kebanyakan dari kita akan menerima segala konsekuensi agar dapat merasa nyaman.
Ketika sudah sampai di zona nyaman?
Apa yang terjadi?
Mungkin kita akan merasa merdeka. Mungkin kita akan merasa di surga dunia. Mungkin kita akan merasa jauh dari marabahaya. Mungkin kita akan merasa bebas dari segala derita. Mungkin kita akan merasa tak akan pernah sengsara.
Ups.... tunggu...tunggu....!!!
Sepertinya itu adalah rumus jaman dahulu yang belum di update oleh perkembangan Jaman. Rumus yang berlaku ketika jaman, waktu, dunia, dan semesta belum memunculkan banyak pilihan didepan mata kita. Rumus dimana kaki kita masih saja diganduli dengan beban masa depan suram karena tidak adanya kepastian. Rumus dimana kita masih mempunyai pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban sepenuhnya atas diri sendiri dimasa senja.
Sekarang? Oh no.... It have to left far behind....
Kenyamanan adalah titik awal ancaman. Kenyamanan adalah titik awal kewaspadaan. Kenyamanan adalah titik awal perubahan. Kenyamanan adalah titik awal sesuatu yang baru. Laksana orang naik gunung, titik nyaman adalah puncak, dimana semua orang harus segera bersiap dan bergegas untuk turun kembali ke dasar.
Ketika kenyamanan sudah berlalu, dan saatnya turun telah mencapai dasar, maka tibalah saatnya untuk kembali melanjutkan detak langkah. Bisa mendatar dan lurus tanpa liku, bisa datar dan berliku, dan bisa pula kembali menanjak. Terlalu banyak pilihan untuk diciptakan dan dijalani.
Sekarang, sepertinya sedang berliku saja. Jauh didepan sana, terlihat sebuah garis mendatar meskipun samar. Oh, sepertinya itu adalah garis puncak yang lain. Tidak perlu terburu2 untuk mencapainya, sudah cukup dengan berjalan saja, asalkan tidak berhenti melangkah.
Lebih sulit? Mungkin....
Tapi belum yang tersulit koq... :p
'Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain ikannya'

No comments:
Post a Comment