*Notes : cerita dibawah ini adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, tokoh, dan lain2nya, itu bukanlah sebuah kesengajaan. Ingat!!! No Hard Feeling Yaaa.... :))))))))
Negara, presidennya satu. Mobil, supirnya satu. Kapal, nakhodanya satu.
Itu kata orang2 yang selalu mengingatkan aku akan pentingnya menyadari fondasi kehidupan. Dimana2, untuk sesuatu yang melibatkan pemimpin dan kemajuan organisasi, hanya perlu memerlukan 1 pemimpin. Punya banyak anggota berjiwa pemimpin dan punya anggota yang memimpin itu sedikit berbeda maknanya. Kalau semua anggota kepengen menjadi pemimpin, apa kata dunia???? :p
Bayangkan,
Organisasi di sebuah angkot Bubulak - Beranang Siang saja.... Akan selalu memiliki 1 pemimpin (supir), wakil pemimpin (kernet), dan anggota (penumpang). Keanggotaan organisasi angkot ini sangat terbuka, karena setiap orang bebas daftar masuk dan keluar sesuka mereka. Tergantung dari tujuan yang ingin mereka capai. Kalau tujuan mereka sudah tercapai, mereka boleh berhenti sebagai anggota, tanpa harus mengikuti perjalanan angkotnya sampai Beranang Siang.
Bayangkan lagi,
Kalau semua anggota organisasi angkot ini kepingin menjadi pemimpin alias supir... Apa yang terjadi? Apakah angkotnya akan berjalan kesegala arah? Akan pecah dan terbagi menjadi sejumlah anggotanya? Atau akan bergerak menyalahi rute karena secara bergantian mengikuti perjalanan masing2 supir? Enggak laaahh.... yang ada adalah, angkotnya berhenti di tempat, dan terjadi perang mulut antara supir, kernet, dan para penumpang itu. Kadangkala perang mulut itu bisa berujung perang pedang lho kalau masing2 tidak ada yang bisa menahan diri.... See? Nggak bener kan?
Bayangkan lagi,
Kalau supir mendadak dangdut nggak pengen nyupir. Kalau hanya nggak pengen nyupir saja, nggak papa. Tinggal pulang, tidur nyenyak, besok mulai nyupir lagi. Tapi??? Kalau supirnya pengen tukeran posisi sama penumpang??? Berabe nggak tuh? Misalkan saja si supir tiba2 jiwa sosialnya meningkat tajam dan kepengen semua penumpangnya bisa nyupir, makanya dia memberikan kesempatan pada mereka untuk menyupir. ????? Tujuannya sih bagus pak.... tapi? Apakah itu wajar? Ya tentu tidak lah.
Kemudian apa yang terjadi kalau si supir terus mendesak dan mendesak? Dari dia yang bertujuan mulia dan luhur untuk menyebarkan ilmu menyupirnya, berubah menjadi mewajibkan semua penumpangnya bisa menyupir. Apa yang terjadi? Si penumpang pasti bengong lah. Penumpang yang awalnya salut, senang, dan berlangganan pada angkot ini pun pasti akhirnya mempertanyakan kewarasan si supir.
Lalu, apa lagi yang bisa terjadi kalau ternyata si supir punya maksud yang lebih ajaib lagi daripada tindakannya itu? Misalkan saja, dia pengen mewariskan angkotnya pada para penumpang karena dia ingin menjadi supir pribadi untuk mobilnya yang akan disewakan? Hahahhaa..... Pusing kan? Jadi supirnya itu ternyata sudah bosan menyupir angkot, jadi dia mulai mencari2 kemungkinan untuk menjadi supir pribadi saja. Diapun mulai mencicil mobil, tanpa ada penumpangnya yang tahu tujuannya. Menurutnya, kalau menjadi supir pribadi dari mobilnya sendiri, dia akan lebih merdeka jaya karta. Semua yang dia lakukan akan bergantung pada dia seorang. Tapi dia tidak ingin angkotnya nganggur. Karenanya dia ingin menjaring penumpangnya untuk mengemudikan angkotnya. hahhaaha.... kacau sudah dunia persilatan ini....
Karena para penumpangnya tidak menunjukkan ketertarikan pada dunia supir menyupir, si supir menjadi sedikit kebakaran jenggot. Dia menyalahkan para penumpang yang tidak ingin menyupir angkotnya. Laaaahh???? Dia berusaha menjadikan alasan ketidakmauan para penumpang untuk menyupir adalah hal yang membuat dia lelah dan tak ingin lagi menyupir. Lho, koq jadi gitu? Pokoknya, alih2 dia menginstropeksi dirinya, dia malah menyalahkan penumpang dan kernetnya. huuhuhuhu... kasian....
Mungkin pak supir ini harus belajar caranya berorganisasi. Organisasi perangkotan. Dia lupa bahwa semua bagian dari organisasi punya job description masing2. Dan Yang paling penting, dia lupa bahwa tidak semua orang ingin menjadi supir. Banyak orang yang menikmati menjadi seorang penumpang. :)
Oh iya, salam deh buat istrinya pak supir. Memang sulit menjadi istri seorang supir angkot yang sudah tidak berniat nyupir angkot. Tapi bu supir tidak perlu sibuk dengan istri penumpang juga kayaknya. Misalkanpun urat bu supir keluar semua karena bersitegang dengan istri penumpang, terus mau apa? Hehehe.... Supir angkot itu kan orang pinterrrr, jadi udah tahulah ya kalau dunia perangkotan itu memang keras. Dan dia mungkin sedang lupa pada kenyataan bahwa dia tidak bisa dan tidak boleh memaksakan diri untuk membuat para penumpangnya menjadi supir.
Mungkin yang bisa dilakukan olehmu wahai istri supir angkot, adalah selalu mendukung suamimu agar tidak salah langkah. Dan mengingatkan dia tentang apa yang sudah aku sarankan diatas. Ingatkan dia kalau kewajibannya sbg supir adalah menyupir angkot dan mengantarkan penumpangnya ke tujuan. Mengingatkan dia kalau tidak semua penumpang ingin menyupir. Dan ingatkan dia kalau kewajiban seorang supir angkot adalah memberikan rasa aman dan nyaman pada para penumpangnya.
Daripada sibuk berdebat dan memulai gosip yang akhirnya bisa menimbulkan perang urat, lebih baik ingatkan suamimu akan hal itu. Hehehehe....

No comments:
Post a Comment