Thursday, July 7, 2011

Not Green Enough

Aku pernah membaca sebuah tulisan, di sebuah layar tempat orang bisa berinteraksi dengan teman2 lainnya. Jejaring yang menjamur dan semakin menjamur di bumi kita tercinta, Facebook namanya. Bunyinya? Kalau tidak salah seperti ini... "Menunggu merapi menghijau kembali".

Aku bukan tidak mengerti makna dari sebuah kata, arti dari sebuah kalimat. Aku hanya tidak mengerti bagaimana cara menjawabnya, sehingga setiap kepala bisa mengangguk dengan yakin. Bukan hanya mengangguk karena iba.

Merapi yang hijau, adalah tempatku lahir, tumbuh, dan menghabiskan waktu selama 26 tahun. Ya, selama lebih dari 18 tahun aku hidup disana, dan selama 26 tahun aku dihidupi olehnya. Mungkin juga aku akan hidup 100 tahun untuknya, oh tidak, 100 tahun terlalu kebanyakan nampaknya. Berapapun itu, hidupku adalah untuk mereka. Untuk mereka yang setia dengan hijaunya merapi.

Ketika merapi tak lagi menghijau, maka dia menjadi abu-abu. Dia tak lagi dingin dan menyejukkan, namun panas dan membakar. Dia meluluh lantakkan setiap keping cinta dan harapan dari orang2 yang setia padanya. Dia memancing jatuhnya hujan air mata. Dia memancing keributan di tengah malam buta.

Akankah hal itu menyebabkan kebencian di antara mereka? T.I.D.A.K..... Tentu saja tidak. Mereka hanya kecewa, mereka hanya berdua, tetapi mereka tetap setia. Mereka akan tetap setia, sampai waktu yang tak berbatas. Mereka akan melawan sekuat tenaga ketika ada yang berusaha membuat mereka berkhianat padanya. Mereka tak akan pernah meninggalkan tempat itu.

Merapi yang abu2 dan membakar, tidak akan bertahan selamanya sebagai sesuatu yang menyiksa dan menyakitkan. Dia akan kembali menghijau. Menghijau dan memberikan kesejukan seperti sedia kala. Menghijau dan memberikan penghidupan dan kehidupan seperti semula. Menghijau dan mengembalikan gurat tawa pada raut2 yang kucinta. Dia akan kembali menghijau dan berjaya....

Saat merapi menghijau nanti, tidak akan ada yang berubah. Semua tetap akan berjalan seperti adanya. Hanya saja aku yakin saat itu, gelak tawa dan canda ria tak lagi langka. Dan satu hal lagi, bahwa akan ada kehidupan baru diantara kita. Insya allah... :p

Satu hal yang harus aku dan dia mengerti dan sadari adalah, bahwa hijau yang ini bukanlah sekedar hijau-nya warna. Hijau ini adalah hidup, semangat, kebahagiaan, berkumpulnya kembali pecahan2 yang terserak, dan berdetak kembalinya semangat untuk maju. Bukan hanya sekedar semangat untuk hidup.

Aku merangkainya dalam sebuah kalimat "Akan ada saatnya untuk kami kembali berjalan tegap, namun saat ini kami sedang berusaha untuk bisa berdiri tegak"

Selain melongok kalender untuk memastikan bahwa umur kita terus bertambah, aku juga sering melongok ke jendela. Hanya untuk melihat, apakah kau sudah cukup hijau merapi? Dan untuk saat ini, aku bilang... Belum.... :)

Ppfffiiuhh.... Tuhan menciptakan kita lengkap dengan otak dan hati. Saat ini, sulit. Antara otak di kepala dan hati ini sedang tidak singkron. Hati ini ingin sekali melipat rapi sejumput memori dan kenangan yang tidak bisa di bilang indah itu, sehingga tak perlu lagi di ingat dan dianggap ada. Tapi? Kepala ini ingin sekali mengurainya satu persatu dan menjalin serta memilinnya menjadi rangkaian tulisan. Bisa? Entahlah... kita pikirkan nanti saja.... :p

No comments: