"Beli map dulu di samping tempat fotocopy-an"

Kata seorang petugas di depan pintu gedung itu. Suasana pagi itu, ramai sekali. Rupanya benar kata temanku, aku harus sampai di depan pintu sebelum jam kantor dimulai, jika kepingin cepat selesai semua urusan. Ya sudah, tidak apa2. Nikmati saja alurnya. Kataku dalam hati.
Akupun bergegas ke ruangan samping tempat fotocopy-an yang dimaksud si bapak. Ruangan kecil itu tidak kalah ramainya. Si bapak dengan kecepatan tangan dan kelihaian sebagaimana orang yang telah bergelut sekian lama dengan hal2 yang sama, memberikan petunjuk bagi yang syaratnya kurang sambil mem-fotocopy berkas2 yang di syaratkan.
Setelah semua berkas lengkap di fotocopy, akupun bergegas kembali ke bagian pengisian formulir. Punggung2 berbaris rapi menghadap meja tempel panjang, sambil menunduk. Rupanya mereka semua sedang mengisi formulir. Menyempillah aku di barisan itu. Berhubungan pengalaman baru dan pertama kali, akupun banyak bertanya ini itu kepada mas-mas yang berjaga di pintu. "Aduh, berisik banget deh si mbak yang satu ini" Mungkin saja dalam hati si mas2 itu berkata begitu. :p
Setelah semua berkas selesai terisi, akupun mengambil nomer antrian. Oleh ibu yang ramah sekali, aku diberi 1 form lagi dan harus di isi. Hahhaa.... keluar lagi lah aku untuk mencari meja sebagai landasan menulis. Setelah selesai, kembali lagi aku ke tempat si ibu ramah. Ketika aku menyadari bahwa formulirku salah isi, aku kembali lagi pada si ibu ramah. Ketika aku bertanya apakah perlu membawa surat keterangan kerja dari kantor, akupun kembali ke si ibu ramah. Selalu ke ibu yang ramah. Syukurlaaaahh.... disitu ada ibu yang ramah itu. Kalau tidak ada beliau dan misalkan hanya ada ibu2 judes, mungkin aku sudah bosan dan pulang lagi.
Ketika pantatku bertemu dengan kursi empuk tempat mengantri, aku melihat di kotak nomer antrian memunculkan angka 30. Matakupun melintas ke atas map kuning yang aku pegang, dan melihat angka indah tertera disana, 61. PPffiiuuhh..... lumayan. Dan ternyata hari itu aku sangat cerdas sekali. Sudah tahu akan terlibat dalam aksi antri mengantri dan tunggu menunggu, malah tidak membawa buku bacaan. Great job Willis....!!! Jadi kepengen menyanyi "Sudah tau luuukaaa.... di dalam hatiiikuu.... sengaja kau siiiraaaammm, dengan air gaaarrraaammm....." hhahahaa....
Alhasil, aku hanya bengong dan bengong saja memperhatikan orang yang sliwar-sliwer di depanku. Ada anak2 kuliahan, ada bapak2 (yang terlihat seperti) pejabat, ada bapak-ibu-bayi, ada ibu2 pejabat, dan ada juga kakek-kakek. Sepertinya, semua orang memiliki kepentingan yang sama denganku. Atau aku yang punya kepentingan yang sama dengan mereka? Entahlah.... kurang begitu penting untuk di perdebatkan. :p
Kurang lebih sejam setelah aku mulai akrab dengan kursi tunggu itu, akhirnya aku mendengar angka keberuntunganku di panggil melalui audiospeaker. "Nomer antrian 61, silakan ke loket 2", di ulangi 2 kali. Berdirilah aku. Kuulurkan map kuningku kepada petugas yang ada di depanku, lengkap kutambahkan bonus dengan seyuman lebar ala Wilis Juharini. :))
Si bapak memeriksa berkasku, dan tertawa lirih. Kuangkat alisku, dan menatapnya sambil bertanya dalam hati "ada yang lucu pak?". Namun si bapak langsung melihat kearahku dan bertanya kepadaku,
"Lahir tanggal piro dik?"
Hahahhaa..... pantesan saja dia tertawa. Dia pasti merasa seperti pulang kampung dengan bertemu denganku (bukan karena mukaku semanis gudeg lho....). Tapi lebih karena ada banyak sekali tulisan "Sleman"dan "Yogyakarta" di situ. Seperti biasa, berbincanglah kita dengan bahasa internasional "Bahasa Jawa". Nama beliau adalah Pak Gede.
"Lho, pak, namanya Gede koq dari Jawa?"
Goblok nggak tuh pertanyaanku? Perasaan aku cuma pernah tinggal 2 bulan di Bali, tapi koq udah sok ke-Bali-Bali-an ya? Padahal kan di Jawa juga ada istilah Gede. ck...ck...ck... Dan beliaupun berkata, "Hohoho.... lha iya. Wong Gede-nya pake bahasa Jawa koq".
Hehehe.... akupun ikut tertawa (sedikit) garing. Malu juga sedikit. Tapi untungnya beliau tidak suka mengambil hati, jadi ya obrolan ngalir terussss.... :p
Akhirnya aku pun di berikan 1 lembar kertas yang berisi informasi tentang kapan aku harus dandan cantik dan ngoceh panjang lebar (istilah untuk photo dan wawancara). hehehe.... Asyiikk.... Ups... Ternyata masalah photo dan wawancara ini akan menimbulkan satu bab masalah tersendiri di kemudian hari. Tapi biarlah.... nanti di bahas di bab lain saja. :p
Keputusannya, Hari Selasa 06 June 2011, aku akan ber-photo2 ria.... Dan urusan Passport inipun akan segera tuntas...tas...tas.... Insya Allah.... ^_^
Ok, next.... !!!
Ini tidak ada hubungannya secara langsung dengan urusan passport2-an, tetapi ada hubungannya secara tidak langsung. Dan hubungannya apa, akan aku ceritakan belakangan. Biarkan aku bercerita terlebih dahulu.... hahahha, lebay....!!!
********
Buku Nikah

Sudah tahu kan apa itu Buku nikah? Tahu kan bagaimana caranya agar kita bisa dapet Buku nikah? Tahu kan apa fungsinya Buku nikah?
Aku juga belum begitu tahu benar mengenai Buku yang satu ini. Namun sedikit banyak aku tahulah, paling tidak tahu ukuran, tahu isi, dan tahu beberapa hal mengenainya. Kan sering dateng ke nikahan temen dan melihat adegan pamer buku nikah. hahahaha.... *kedengeran kalau nadanya sedikit ngiri nggak ya?* :p
Apa ceritanya tentang buku nikah? Nggak ada!!! Aku hanya ingin berkata bahwa semakin lama, orang2 semakin banyak dan semakin sering yang kepengen bisa melihat buku nikahku. Mungkin buku nikah orang lain juga ya, tapi aku hanya ingin membahas mengenai buku nikahku saja, karena kalau kebanyakan ngebahas buku nikah orang lain bisa dibilang gossyiiiippp... :))
Sadar nggak sih, semakin bertambah (atau berkurang) umur kita sebagai wanita.... (bukan berarti nanti kita akan berubah jadi setengah wanita dan kemudian menjadi lelaki lho....), maka pertanyaan mengenai keberadaan buku nikah ini akan menjadi hal yang (rasanya) paling penting oleh dunia. Memang sih, pertanyaannya tidak akan berbunyi, "woi, tunjukkan buku nikahmu!!!"
Tapi akan berbunyi (sedikit) lebih sopan, seperti :
"Jadi kapan?"
"Mana nih undangannya?"
"Sudah, kalau sudah yakin jangan ditunda2 lagi. Jadi kapan?"
"Kapan nih aku di undang ke Jogja?"
"bla...bla...bla...."
Sebenarnya, bisa saja kita pura2 bodoh dan tidak mengerti apa pertanyaan mereka, dan menjawab dengan " Apanya? Ada di laci. Yang penting nggak di cancle. Sekarang juga bisa. bla...bla...bla....". Tapi, makin lama kalau kita jawab dengan jawaban begitu terus, yang ada kita bener2 jadi bego dan gendheng sendiri deh. haahhaaaa
Melewati usia 25 tahun, pertanyaan2 di atas akan semakin sering menghujam bagaikan rintik hujan yang mulai menderas. Awalnya kecil2 dan menyentil2 kulit, namun lama kelamaan jadi semakin besar dan menyakitkan. :))
Dengan menanyakan kapan hari-H kita, bukankah itu berarti menanyakan kapan kita punya buku nikah? Toh tidak pernah ada orang yang menanyakan kapan-kapan- dan kapan itu untuk "Kapan hamil diluar nikah (amit2 jabang bayi*ketok lantai 2 kali*)" atau "Kapan kumpul kebo? *ketok lantai lagi 3 kali*" atau "Kapan kamu nikah siri? *ketokin kepala langsung ke lantai* " Bukan kan??? BUKAN!!! Pasti yang mereka tanyakan adalah pernikahan sakral yang penuh makna, lengkap dengan tanda tangan-pamer buku-dll nya. See.... Buku nikah !!!
*******

Dan kembali lagi pada masalah Passport. Aku dengar dari cerita teman2ku dan juga pengalamanku sendiri ketika mengurus passport, ternyata benar bahwa kantor imigrasi (khususnya Bogor, nggak tau kalau kota lain) selalu penuh dan ramai. Quota selalu penuh, dan selalu menyisakan sejumlah orang yang tidak terlayani hari itu. Ck....ck...ck...
Pada mau kemana sih orang2 ini? Apa iya semua orang pada mau pergi ke luar negri? Busyeeett.... Buang2 uang nggak sih? (hahaa, kalau ini 100% pasti dengan nada iri). Atau mungkin, belum tentu semua orang ingin keluar negri? Bisa jadi mereka hanya ingin memiliki passport untuk berjaga2 sambil hunting tiket Air A*** ? Bisa jadi juga.... Bagus juga ada tiket promo jor2an seperti itu. Paling tidak, itu sudah bisa mengantarkan teman2 tercintaku go abroad buat jalan2 ke negara tetangga. Meskipun belum bisa membawaku serta. hehehehe.....
Membuat passport juga tidak gratis lho sodara, perlu beberapa rupiah dikeluarkan. Tapi, tetap saja antrian orang yang ingin membuat passport tidak berhenti. Bahkan cenderung semakin panjang dan semakin rapat. How come? I dunno.... Let's asked to the moving grass.... Tanyakan pada rumput yang bergoyang maksudku. :))
Dewasa ini (duileeehhh....), mulai sering terdengar pertanyaan2 (sedikit) nyinyir yang berbunyi ,
"Lho, belum punya passport toh?"
"Hah??? Seriuss, belum punya passport?"
"Sudah punya passport kan?" (pake pandangan setengah memicing alias menyindir)
"Apppaaaa???? *pake acara melotot* Kamu belum punya passport?? " Hina...hina..... (ini sih tambahan doank)
"Oh tidaaaaakkkk.... kamu belum punya passport? (gantung diri deh) " :))
"bla...bla...bla..."
Semakin lama, banyak orang semakin heran ketika bertemu dengan orang lain yang (kebetulan atau sengaja) belum memiliki passport. Kesannya, passport itu sudah mulai menjadi wajib gitu lho.... :p
So, sepertinya tidak salah manakala aku berfikir seperti ini ketika melangkah keluar dari Gedung Imigrasi kemarin :
"Kata siapa orang Indonesia miskin? Setiap hari Kantor Imigrasi penuh dengan orang-orang yang ingin membuat paspor. Mungkin aturan hidup di Indonesia ini sudah berubah, dan setiap orang merasa wajib memiliki paspor? Atau mungkin kepemilikan paspor sudah selayaknya kepemilikan buku nikah ketika kita berumur 25 tahun keatas? :p

2 comments:
ini cerita paspor nyerempet buku nikah ato sebaliknya sih mba? whehehehe...
oia, ngomong2 paspor gw jg blm punya tuh. sbagai seorang yg up to date n eksis agaknya gw harus bergegas tuk bikin neh mb, haha =))
Hahaha.... Ya, bisa di bolak-balik koq ubo. Laksana selembar mata uang, yang hanya berbeda ketika kita melihatnya dengan sisi yang berbeda (ceileeehh... nggak kuat deh bahasanya) :p
Ayooo... bikin pasport. Lumayan buat nambah2 tebel file surat2 penting dan berharga. :))
Post a Comment