Ada dua kata yang beberapa waktu belakangan ini menggelayut mesra dimulutku. Berdesakan dan berebutan ingin meloncat keluar sebagai kloning berjuta2 jumlahnya. Dua kata yang akan keluar sebagai jutaan kata yang terdiri dari dua kata.
Kenapa keduanya belum juga meloncat dan berhamburan keluar? Karena aku masih menahannya. Aku masih belum bisa dan belum berani mengeluarkannya, meskipun aku tahu dengan pasti bahwa mereka adalah orang yang layak, pantas, dan seharusnya mendapatkanya. Aku belum berani. Entah kenapa.
Sepertinya, apa yang telah kulalui, telah mengubahku sedikit demi sedikit. Membuatku mengkerut dan akhirnya tidak punya nyali untuk menghadapi dunia. Dan aku bersembunyi di dalam cangkang sepanjang waktu. Bukan karena aku berfikir bahwa hidup ini pendek, bukan. Tetapi hanya karena aku masih belum keluar dari apa yang disebut pengecut. Tenggelam dalam kapal sendirian, tanpa mau menembakkan suar ke udara. Berkhayal bahwa ada satu negri dongeng di ujung cakrawala, dan berharap bahwa Matahari, Awan, Hujan, Bulan, Bintang dan burung2 akan senantiasa tertawa bersamanya.
Dari balik jendela cangkang ini, aku melihat dedaunan bergoyang2 riang, begerak2, bergemerisik mendendangkan suara alam. Aku juga melihat angin terbang membawa serta debu2 yang tidak berpegangan erat pada temannya. Dan aku melihat awan kelabu diam membisu di atas sana. Aku berkata pada mereka semua melalui mata dan pandanganku, "Aku harap, mereka semua baik2 saja. Mudah2an mereka tidak menganggapku lenyap, karena aku hanya sedang berada di tempat lain. Sampaikan salam hormat dan terimakasihku pada mereka, dan berikanlah semua damai, sehat, dan bahagia kepada mereka".
Hanya dua kata yang masih selalu aku simpan dan pelihara dengan baik, "Maaf" dan "Terima Kasih"
Curhatnya Keong Racun di Balik Cangkang :))
Kenapa keduanya belum juga meloncat dan berhamburan keluar? Karena aku masih menahannya. Aku masih belum bisa dan belum berani mengeluarkannya, meskipun aku tahu dengan pasti bahwa mereka adalah orang yang layak, pantas, dan seharusnya mendapatkanya. Aku belum berani. Entah kenapa.
Sepertinya, apa yang telah kulalui, telah mengubahku sedikit demi sedikit. Membuatku mengkerut dan akhirnya tidak punya nyali untuk menghadapi dunia. Dan aku bersembunyi di dalam cangkang sepanjang waktu. Bukan karena aku berfikir bahwa hidup ini pendek, bukan. Tetapi hanya karena aku masih belum keluar dari apa yang disebut pengecut. Tenggelam dalam kapal sendirian, tanpa mau menembakkan suar ke udara. Berkhayal bahwa ada satu negri dongeng di ujung cakrawala, dan berharap bahwa Matahari, Awan, Hujan, Bulan, Bintang dan burung2 akan senantiasa tertawa bersamanya.
Dari balik jendela cangkang ini, aku melihat dedaunan bergoyang2 riang, begerak2, bergemerisik mendendangkan suara alam. Aku juga melihat angin terbang membawa serta debu2 yang tidak berpegangan erat pada temannya. Dan aku melihat awan kelabu diam membisu di atas sana. Aku berkata pada mereka semua melalui mata dan pandanganku, "Aku harap, mereka semua baik2 saja. Mudah2an mereka tidak menganggapku lenyap, karena aku hanya sedang berada di tempat lain. Sampaikan salam hormat dan terimakasihku pada mereka, dan berikanlah semua damai, sehat, dan bahagia kepada mereka".
Hanya dua kata yang masih selalu aku simpan dan pelihara dengan baik, "Maaf" dan "Terima Kasih"
Curhatnya Keong Racun di Balik Cangkang :))
No comments:
Post a Comment