Tuesday, May 31, 2011

Passport Vs Buku Nikah

"Beli map dulu di samping tempat fotocopy-an"

Kata seorang petugas di depan pintu gedung itu. Suasana pagi itu, ramai sekali. Rupanya benar kata temanku, aku harus sampai di depan pintu sebelum jam kantor dimulai, jika kepingin cepat selesai semua urusan. Ya sudah, tidak apa2. Nikmati saja alurnya. Kataku dalam hati.

Akupun bergegas ke ruangan samping tempat fotocopy-an yang dimaksud si bapak. Ruangan kecil itu tidak kalah ramainya. Si bapak dengan kecepatan tangan dan kelihaian sebagaimana orang yang telah bergelut sekian lama dengan hal2 yang sama, memberikan petunjuk bagi yang syaratnya kurang sambil mem-fotocopy berkas2 yang di syaratkan.

Setelah semua berkas lengkap di fotocopy, akupun bergegas kembali ke bagian pengisian formulir. Punggung2 berbaris rapi menghadap meja tempel panjang, sambil menunduk. Rupanya mereka semua sedang mengisi formulir. Menyempillah aku di barisan itu. Berhubungan pengalaman baru dan pertama kali, akupun banyak bertanya ini itu kepada mas-mas yang berjaga di pintu. "Aduh, berisik banget deh si mbak yang satu ini" Mungkin saja dalam hati si mas2 itu berkata begitu. :p

Setelah semua berkas selesai terisi, akupun mengambil nomer antrian. Oleh ibu yang ramah sekali, aku diberi 1 form lagi dan harus di isi. Hahhaa.... keluar lagi lah aku untuk mencari meja sebagai landasan menulis. Setelah selesai, kembali lagi aku ke tempat si ibu ramah. Ketika aku menyadari bahwa formulirku salah isi, aku kembali lagi pada si ibu ramah. Ketika aku bertanya apakah perlu membawa surat keterangan kerja dari kantor, akupun kembali ke si ibu ramah. Selalu ke ibu yang ramah. Syukurlaaaahh.... disitu ada ibu yang ramah itu. Kalau tidak ada beliau dan misalkan hanya ada ibu2 judes, mungkin aku sudah bosan dan pulang lagi.

Ketika pantatku bertemu dengan kursi empuk tempat mengantri, aku melihat di kotak nomer antrian memunculkan angka 30. Matakupun melintas ke atas map kuning yang aku pegang, dan melihat angka indah tertera disana, 61. PPffiiuuhh..... lumayan. Dan ternyata hari itu aku sangat cerdas sekali. Sudah tahu akan terlibat dalam aksi antri mengantri dan tunggu menunggu, malah tidak membawa buku bacaan. Great job Willis....!!! Jadi kepengen menyanyi "Sudah tau luuukaaa.... di dalam hatiiikuu.... sengaja kau siiiraaaammm, dengan air gaaarrraaammm....." hhahahaa....

Alhasil, aku hanya bengong dan bengong saja memperhatikan orang yang sliwar-sliwer di depanku. Ada anak2 kuliahan, ada bapak2 (yang terlihat seperti) pejabat, ada bapak-ibu-bayi, ada ibu2 pejabat, dan ada juga kakek-kakek. Sepertinya, semua orang memiliki kepentingan yang sama denganku. Atau aku yang punya kepentingan yang sama dengan mereka? Entahlah.... kurang begitu penting untuk di perdebatkan. :p

Kurang lebih sejam setelah aku mulai akrab dengan kursi tunggu itu, akhirnya aku mendengar angka keberuntunganku di panggil melalui audiospeaker. "Nomer antrian 61, silakan ke loket 2", di ulangi 2 kali. Berdirilah aku. Kuulurkan map kuningku kepada petugas yang ada di depanku, lengkap kutambahkan bonus dengan seyuman lebar ala Wilis Juharini. :))

Si bapak memeriksa berkasku, dan tertawa lirih. Kuangkat alisku, dan menatapnya sambil bertanya dalam hati "ada yang lucu pak?". Namun si bapak langsung melihat kearahku dan bertanya kepadaku,
"Lahir tanggal piro dik?"

Hahahhaa..... pantesan saja dia tertawa. Dia pasti merasa seperti pulang kampung dengan bertemu denganku (bukan karena mukaku semanis gudeg lho....). Tapi lebih karena ada banyak sekali tulisan "Sleman"dan "Yogyakarta" di situ. Seperti biasa, berbincanglah kita dengan bahasa internasional "Bahasa Jawa". Nama beliau adalah Pak Gede.
"Lho, pak, namanya Gede koq dari Jawa?"

Goblok nggak tuh pertanyaanku? Perasaan aku cuma pernah tinggal 2 bulan di Bali, tapi koq udah sok ke-Bali-Bali-an ya? Padahal kan di Jawa juga ada istilah Gede. ck...ck...ck... Dan beliaupun berkata, "Hohoho.... lha iya. Wong Gede-nya pake bahasa Jawa koq".

Hehehe.... akupun ikut tertawa (sedikit) garing. Malu juga sedikit. Tapi untungnya beliau tidak suka mengambil hati, jadi ya obrolan ngalir terussss.... :p

Akhirnya aku pun di berikan 1 lembar kertas yang berisi informasi tentang kapan aku harus dandan cantik dan ngoceh panjang lebar (istilah untuk photo dan wawancara). hehehe.... Asyiikk.... Ups... Ternyata masalah photo dan wawancara ini akan menimbulkan satu bab masalah tersendiri di kemudian hari. Tapi biarlah.... nanti di bahas di bab lain saja. :p

Keputusannya, Hari Selasa 06 June 2011, aku akan ber-photo2 ria.... Dan urusan Passport inipun akan segera tuntas...tas...tas.... Insya Allah.... ^_^

Ok, next.... !!!

Ini tidak ada hubungannya secara langsung dengan urusan passport2-an, tetapi ada hubungannya secara tidak langsung. Dan hubungannya apa, akan aku ceritakan belakangan. Biarkan aku bercerita terlebih dahulu.... hahahha, lebay....!!!

********

Buku Nikah

Sudah tahu kan apa itu Buku nikah? Tahu kan bagaimana caranya agar kita bisa dapet Buku nikah? Tahu kan apa fungsinya Buku nikah?

Aku juga belum begitu tahu benar mengenai Buku yang satu ini. Namun sedikit banyak aku tahulah, paling tidak tahu ukuran, tahu isi, dan tahu beberapa hal mengenainya. Kan sering dateng ke nikahan temen dan melihat adegan pamer buku nikah. hahahaha.... *kedengeran kalau nadanya sedikit ngiri nggak ya?* :p

Apa ceritanya tentang buku nikah? Nggak ada!!! Aku hanya ingin berkata bahwa semakin lama, orang2 semakin banyak dan semakin sering yang kepengen bisa melihat buku nikahku. Mungkin buku nikah orang lain juga ya, tapi aku hanya ingin membahas mengenai buku nikahku saja, karena kalau kebanyakan ngebahas buku nikah orang lain bisa dibilang gossyiiiippp... :))

Sadar nggak sih, semakin bertambah (atau berkurang) umur kita sebagai wanita.... (bukan berarti nanti kita akan berubah jadi setengah wanita dan kemudian menjadi lelaki lho....), maka pertanyaan mengenai keberadaan buku nikah ini akan menjadi hal yang (rasanya) paling penting oleh dunia. Memang sih, pertanyaannya tidak akan berbunyi, "woi, tunjukkan buku nikahmu!!!"

Tapi akan berbunyi (sedikit) lebih sopan, seperti :
"Jadi kapan?"
"Mana nih undangannya?"
"Sudah, kalau sudah yakin jangan ditunda2 lagi. Jadi kapan?"
"Kapan nih aku di undang ke Jogja?"
"bla...bla...bla...."

Sebenarnya, bisa saja kita pura2 bodoh dan tidak mengerti apa pertanyaan mereka, dan menjawab dengan " Apanya? Ada di laci. Yang penting nggak di cancle. Sekarang juga bisa. bla...bla...bla....". Tapi, makin lama kalau kita jawab dengan jawaban begitu terus, yang ada kita bener2 jadi bego dan gendheng sendiri deh. haahhaaaa

Melewati usia 25 tahun, pertanyaan2 di atas akan semakin sering menghujam bagaikan rintik hujan yang mulai menderas. Awalnya kecil2 dan menyentil2 kulit, namun lama kelamaan jadi semakin besar dan menyakitkan. :))

Dengan menanyakan kapan hari-H kita, bukankah itu berarti menanyakan kapan kita punya buku nikah? Toh tidak pernah ada orang yang menanyakan kapan-kapan- dan kapan itu untuk "Kapan hamil diluar nikah (amit2 jabang bayi*ketok lantai 2 kali*)" atau "Kapan kumpul kebo? *ketok lantai lagi 3 kali*" atau "Kapan kamu nikah siri? *ketokin kepala langsung ke lantai* " Bukan kan??? BUKAN!!! Pasti yang mereka tanyakan adalah pernikahan sakral yang penuh makna, lengkap dengan tanda tangan-pamer buku-dll nya. See.... Buku nikah !!!

*******

Dan kembali lagi pada masalah Passport. Aku dengar dari cerita teman2ku dan juga pengalamanku sendiri ketika mengurus passport, ternyata benar bahwa kantor imigrasi (khususnya Bogor, nggak tau kalau kota lain) selalu penuh dan ramai. Quota selalu penuh, dan selalu menyisakan sejumlah orang yang tidak terlayani hari itu. Ck....ck...ck...

Pada mau kemana sih orang2 ini? Apa iya semua orang pada mau pergi ke luar negri? Busyeeett.... Buang2 uang nggak sih? (hahaa, kalau ini 100% pasti dengan nada iri). Atau mungkin, belum tentu semua orang ingin keluar negri? Bisa jadi mereka hanya ingin memiliki passport untuk berjaga2 sambil hunting tiket Air A*** ? Bisa jadi juga.... Bagus juga ada tiket promo jor2an seperti itu. Paling tidak, itu sudah bisa mengantarkan teman2 tercintaku go abroad buat jalan2 ke negara tetangga. Meskipun belum bisa membawaku serta. hehehehe.....

Membuat passport juga tidak gratis lho sodara, perlu beberapa rupiah dikeluarkan. Tapi, tetap saja antrian orang yang ingin membuat passport tidak berhenti. Bahkan cenderung semakin panjang dan semakin rapat. How come? I dunno.... Let's asked to the moving grass.... Tanyakan pada rumput yang bergoyang maksudku. :))

Dewasa ini (duileeehhh....), mulai sering terdengar pertanyaan2 (sedikit) nyinyir yang berbunyi ,
"Lho, belum punya passport toh?"
"Hah??? Seriuss, belum punya passport?"
"Sudah punya passport kan?" (pake pandangan setengah memicing alias menyindir)
"Apppaaaa???? *pake acara melotot* Kamu belum punya passport?? " Hina...hina..... (ini sih tambahan doank)
"Oh tidaaaaakkkk.... kamu belum punya passport? (gantung diri deh) " :))
"bla...bla...bla..."

Semakin lama, banyak orang semakin heran ketika bertemu dengan orang lain yang (kebetulan atau sengaja) belum memiliki passport. Kesannya, passport itu sudah mulai menjadi wajib gitu lho.... :p

So, sepertinya tidak salah manakala aku berfikir seperti ini ketika melangkah keluar dari Gedung Imigrasi kemarin :

"Kata siapa orang Indonesia miskin? Setiap hari Kantor Imigrasi penuh dengan orang-orang yang ingin membuat paspor. Mungkin aturan hidup di Indonesia ini sudah berubah, dan setiap orang merasa wajib memiliki paspor? Atau mungkin kepemilikan paspor sudah selayaknya kepemilikan buku nikah ketika kita berumur 25 tahun keatas? :p

Saturday, May 28, 2011

Space and Time

Sometimes, we only need some 'space' to think about everything....
Sometimes, we only need some 'time' to make sure about everything....
Before we go to make the decision,
Let's think carefully..

Sometimes, peoples choose the thing that they think right,
Sometimes, peoples choose the thing that they feel make sense,
Sometimes, peoples choose the thing that they think simple,
Sometimes, peoples choose the thing that they feel easy

I believe that every thing doesn't as simple as right or wrong
It's more complicated than right or wrong
But, we still can make this easier
Or maybe, we also can make this more difficult

Every choice is in our hand....

I'll let everyones go, when i saw they would go


Friday, May 27, 2011

I'd be happy alone

Here isn't a goodbye letter....
It's only ones of the best closing season of my favorite TV series.
It's so sad, but very interesting.
Hardly to wait the next season.

******

There's a reason I said I'd be happy alone.
It wasn't 'cause I thought
I'd be happy alone.
It was because I thought
if I loved someone...
And then it fell apart...
I might not make it.
It's easier to be alone.
Because what if you learn
that you need love...
And then you don't have it?
What if you like it
and lean on it?
What if you shape your life around it...
And then...
It falls apart?
Can you even survive that kind of pain?
Losing love is like organ damage.
It's like dying.
The only difference is...
Death ends.
This?
It could go on forever.

******

I love the way you say, mer..... I think everything's gonna be ok
For you, D, Zola, and every single one that you loved and that loves you :)
See you on September...

Tuesday, May 17, 2011

Laksana Mahasiswa Yang Kebablasan

"Aduh, gw koq merasa seperti mahasiswa penganut aliran freesex yang kebablasan hamil, terus aborsi, terus numpang ngubur bayi di kampung orang yak?"

Bisikku pada teman yang duduk disampingku. Setelah menyikut perutku karena merasa bahwa kami senasib sepenanggungan, diapun mengangguk2 dan kamipun terkikik-kikik. Sungguh, hari yang aneh.....

Semua berasal dan berawal dari sebuah teriakan nyaring tadi pagi. Teriakan nyaring yang membuatku terlonjak dari tidur, dan 100% meninggalkannya (dia yang namanya tak bisa disebut) dalam mimpiku. Mimpi indahku, berakhir buruk karena sebuah teriakan yang disusul dengan teriakan2 yang lainnya.

"Aaaaaahhhhh........."
"Haaahh? Mbak *** kenapa?Jatuh ya?"
"Enggaaaakk.......Itunya keluaaaaarrrr......"
"Apanya....?"
"Bayinyaaaaa......."

Jleb...jleb....jleb.... aku langsung membuka pintu kamar tidurku, dan melihat teman2ku yang lainnya berdiam terpaku dengan raut muka pucat pasi antara campuran panik dan bangun tidur. Mereka semua memegang mulut sambil bergeleng2 menandakan ketakutan akan sesuatu yang kemungkinan berwarna merah, darah. Nyaliku yang sempat bangkit, akhirnya ikut2an menciut dan amblas kedasar lantai, dan akupun ikut terpaku di pintu. Untung ada beberapa orang teman yang berani dan pantang mundur mendekat dan menghibur si embak yang sedang kesakitan.

Terbayang malam sebelumnya, masih tentang teriakan. Bedanya, teriakan itu adalah teriakan bahagia.....
"Waaahhh..... Mbak *** hamil teman2...."
"Horeeee.... selamat ya mbak... berapa bulan?"
"Kata dokter sudah 4 bulan lebih...."
"......................."

Hening sejenak, karena aura syok dan terkejut sedang menyebar ke segala penjuru. Keheranan dan pertanyaan bermunculan dari segala penjuru, namun berakhir ceria dan gembira ria.
"Waah, seru ya, kita bakalan memperhatikan perkembangan kehamilan...."

Dan pagi ini, semua keceriaan yang muncul tadi malam langsung terhapus pupus tak berbekas. Kejutan yang sangat kuat untuk pagi hari yang cerah ini. Satu suara menyadarkanku, dan sekaligus menghindarkanku dari kebekuan.
"Siapa yang mau nemenin aku nyari ambulan?"
"Gw"

Akupun langsung bersiap dan ngacir dengan temanku itu ke salah satu klinik terdekat untuk meminjam ambulance. Gemetar, dag-dig-dug, dan juga sedikit panik masih menggelayuti kami sehingga kami sedikit khawatir dengan nasib kami di atas motor ini. Akhirnya, dengan ambulance yang kami pinjam sewa tersebut, si embak di antar ke rumah sakit ibu dan anak.

Singkat kata, sang baby harus pergi dalam usia yang teramat sangat muda. Dengan wujud yang sempurna, dia meringkuk diam tak bergerak di sebuah kotak kaca. Sepertinya, dia sudah tumbuh menjadi sosok seorang baby, dan tinggal tumbuh dan menyempurnakan diri saja. Sayang, Tuhan jauh lebih sayang kepadanya daripada keluarganya. Teman2kupun mengabadikan sosoknya dengan kamera2 yang mereka punya, dengan catatan tidak akan di tunjukkan kepada ibunya, sampai pada saat ibunya bertanya.

Dikarenakan ayahnya sedang berlayar dan ibunya masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit, maka aku dan teman2ku memutuskan untuk pulang ke kosan dan memikirkan dimana dan bagaimana prosesi untuk sang baby. Beruntung, kami memiliki penjaga kosan yang baik dan mengerti benar akan hal2 yang seperti ini.

"Saya carikan dukun beranak dulu ya...."
"Lho, koq pakai dukun mas?"
"Iya, nanti dia yang akan mengurus semuuanya...."
"Oh, ok deh kl gitu"

Berdasarkan rekomendasi dari si mas itu, kamipun diajak ke sebuah kampung di tempat yang lokasinya tidak begitu jauh dengan kosan kami. Disana, kami duduk mengelilingi si baby sambil menunggu bapak ustadz yang akan mendoakan dan mengadakan prosesi. Si bapak ustadz pun memanggil tetua dikampung itu dan memintanya untuk membantu men-sholat-kan si baby. Aku dan beberapa teman yang lain menunggu di luar rumah sambil duduk dan mengobrol.

Aku perhatikan sekeliling rumah itu, ada beberapa warga yang lalu lalang dan terkadang menengok ke arah kami. Akupun sedikit berfikir,
'aduh, sedih sekali pasti rasanya melahirkan tanpa didampingi suami, dan tanpa keluarga. Mudah2an nanti aku tidak harus mengalaminya.'

Dan entah kenapa, lama2 fikiranku mulai mengarah ke hal2 yang kurang senonoh. Tiba2 melintas dalam benakku, bagaimana orang2 di sekitar kami ini melihat kami sekumpulan remaja datang untuk menguburkan bocah mungil, dan kemudian pergi lagi? Maka akupun langsung mengeluarkan uneg2ku itu dengan terlebih dulu menyenggol perut temanku,

"Aduh, gw koq merasa seperti mahasiswa penganut aliran freesex yang kebablasan hamil, terus aborsi, terus numpang ngubur bayi di kampung orang yak?"

Yang sabar ya temanku, mungkin Tuhan masih ingin memberikanmu, suamimu, dan juga keluargamu untuk menyiapkan segala sesuatu yang lebih sempurna untuk si baby. Dan mungkin Tuhan sedang merancang kembali sesuatu yang lebih baik untuk kalian semua. Be tough....!!!

Saturday, May 14, 2011

Terkadang Kepala Bisa Terasa Berat


Kepala bisa terasa berat,
Terlebih lagi kalau memang lebih besar
Perlu penyangga berupa 2 tangan sesekali

Jadi, kalau ada yang bertanya padamu,
Apa fungsi kedua tangan kita?
Jangan lupa untuk menyebutkan pada gurumu,
"untuk menyangga kepala, ketika kepala terasa berat bu guruuuuu......" :)

Thursday, May 12, 2011

The Hardest Moment is the Sweetest Moment

Ketika yang satu ini bisa terlewati, maka sejarah akan berubah... Tapi jika tidak bisa terlewati, maka yang berulang akan terus menjadi perulangan yang abadi...^_^ *KisahWayangSepanjangMasa


We will make it if we want, but also we can end it if we won't.... :)

Every moment with you, is the sweetest one... :p

Friday, May 6, 2011

Lucky i'm in Love with My Bestfriend

Based on conversation with my roommate this morning, i realized how lucky i am more and more... What i've got, it was a wonderful things that others can't get. My thankful to God, for everything that given to me by now.... And my best wish to everybody in the world, to get their happiness, blessed, joyful, lucky, and always be happy where ever they are....

Let's sing a lovely song from Jason Mraz "Lucky"


Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying

Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

Lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair

Though the breezes through trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

I'm lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

When you finished, i hope all of you already know which best friend that you loves. Good luck with your love gals !!! ^_^