Friday, February 4, 2011

Supposed to be Fine

Mungkin karena terlalu mudah berbohong daripada berkata jujur.

Meskipun dengan kebohongan kecil, kita akan selalu di tuntut untuk kebohongan2 kecil lainnya setelahnya.

Terlalu mudah untuk berkata "i'm fine" daripada berkata "i'm not fine".

Karena fine adalah bohong dan not fine adalah jujur.

Lari, menghindar, dan bersembunyi di suatu tempat yang tidak ada kepedulian tentang bohong atau jujur.

Karena tempat yang seharusnya adalah tempat yang tidak bisa dibohongi. Tempat dimana aku tidak bisa berbohong.

Maaf.... aku sedang ingin berbohong, karenanya aku tidak kesana.

Sulit untuk mengatakan bahwa "no... i'm not fine"

Wednesday, January 26, 2011

Go Home... Sleep on it... We Talk More Tomorrow...

Malam ini, aku merasa sedang bersama dengan semua orang di dunia yang sedang merasa 'lelah' dan 'bingung'. Aku membaca banyak sekali coretan2 didinding yang menyiratkan kelelahan dan kebingungan.

Mungkin lelah akibat pekerjaan fisik yang telah mereka lewati hari ini, mungkin lelah karena masih ada sisa dari tanggung jawab hari kemarin yang belum terselesaikan, atau mungkin lelah karena sudah terbayang didepan mata gambaran mengenai esok harinya. Mereka nampak dan terlihat lelah.

Mungkin bingung karena hari ini berjalan tidak seperti yang diharapkannya, mungkin bingung karena tidak tahu harus berbuat apa, mungkin bingung karena tidak tahu esok akan jadi apa. Mereka bingung dan kebingungan karena berbagai macam alasan.

Disini, aku baik-baik saja. Tidak lelah, dan tidak bingung. Aku hanya sedang merasa berempati pada setiap jiwa yang lelah, kelelahan, bingung, dan kebingungan. Ingin sekali kurengkuhkan kedua tangan ini mengelilingi semua yang lelah dan bingung, namun itu takkan mungkin terjadi. Setiap yang lelah dan yang bingung, pasti memiliki cara penyembuhan tersendiri.

Aku pernah merasa lelah. Aku lelah setelah berlari, aku lelah setelah berjalan lama sekali. Aku lelah ketika terlalu bersemangat mengejar mimpi. Karenanya sekarang aku tidak lagi berlari. Aku hanya berjalan, tetap berjalan, dan terus berjalan tanpa henti. Lelah itu jarang datang kembali....

Aku sering merasa bingung. Aku bingung jika harus memilih, aku bingung jika harus menawarkan pilihan. Aku kebingungan ketika menyadari bahwa aku diharuskan memilih. Karenanya sekarang aku berdamai. Aku berdamai dengan pilihan yang ada, sehingga aku tidak lagi kebingungan. Bingung itu menjelma menjadi semangat.....

Pulang.... darimanapun, bagaimanapun, selama apapun, dan seperti apapun, kita masih bisa pulang kerumah untuk sekedar beristirahat. Istirahat dari semua lelah dan bingung yang muncul dan disebabkan oleh angin diluar sana. Rumah.... adalah tempat dimana kita bisa merasa 'pulang' dan merasa aman. Hati juga rumah, kataku. Ketika lelah, bingung dan berbagai macam rasa sedang berkecamuk didunia, maka aku hanya perlu menyentuh hatiku dengan kedua tanganku, dan aku merasa sedang berada dirumah.... :)

Meskipun sekarang aku tidak sedang lelah dan tidak sedang bingung, tapi aku punya satu rahasia. Rahasia mengenai sebuah kotak pandora, yang kusimpan rapat di dalam kantung yang dimasukkan dalam sebuah kardus, yang dililit dengan kain, yang dibungkus dengan kertas kado, dan akhirnya aku simpan disuatu sudut agar tidak bisa dilihat dan dibuka orang lain. Tersimpan rapi, hingga nantinya mudah bagiku membuka, mengeluarkan isinya, dan menanyakan pada Tuhan.

Kotak yang berisi semua lelah dan bingungku, atas sebuah kekuatan yang tak bisa kulihat dengan mata kepalaku, namun terlihat jelas dengan mata hati ini. Semua tersimpan rapi, tak akan keluar dari tempatnya, sebelum aku mengatakan "ini saatnya....".

Yuhuuuuu.... Tidak ada waktu untuk manusia berlelah dan berbingung ria.... Pergerakan tidak boleh berhenti. Ada tempat dan cara tersendiri untuk membuat semua lelah dan bingung menjadi semangat dan harapan untuk sebuah senyuman indah... :p

Karenanya, untuk semua orang di dunia yang sedang merasa 'lelah' dan 'bingung', aku hanya bisa berkata "Go home... Sleep on it... We Talk More Tomorrow..."

Tak ada yang bisa menolak untuk menunggu sampai besok, karena esok akan selalu ada. Esok masih ada hari yang lebih cerah, dimana kita bisa menyelesaikan semuanya....

Say Hi to the World, With Love Song

Morning world.....!!!

Pagi yang mendung tralala, dipadupadankan dengan dinginnya alat pendingin ruangan. Menggiring suasana pada kesyahduan tralala.... :P

Mendadak secara tidak sengaja, aku menyenandungkan lagu lawasnya Rossa... Segera saja aku berburu lirik lagu lawas ini. Mari kita sapa pagi hari ini dengan lagu cinta. Biarkan semangat dan kekuatan cinta merebak dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Karena cinta yang bisa berkata, karena cinta yang bisa berkarya, dan karena cinta membuat kita merasa ada. :p

Rossa - Kini -

Kusadari....
Semua jalanku....
Tak berarah kepadamu....

Mungkin salah....
Diri ini....
Memikirkanmu....

Aku kini....
Tlah berdua....

Dan tak seindah cinta yang lalu....
Yang jalan dan jalin tanpa restu....

Kuakhiri,
Namun tak berakhir....
Kuhindari,
Hati tak ingin berpisah....

Bila kau dengan yang lain....
Sesungguhnya....
Aku tak rela....

******

Tidak ada alasan kenapa lagu ini yang kusenandungkan dan kutulis. Hanya karena lagu ini yang pertama kali muncul ketika aku ingin bersenandung pagi ini. Seperti kebanyakan dari kita, yang sering menyenandungkan lagu2 lama, tanpa alasan. :)

Toh memang tak selamanya alasan itu diperlukan, hanya untuk menyenandungkan sebuah lagu.... ^_^

Wednesday, January 19, 2011

I Will Let You Go, When You Said "I Quit"

Malam ini, sedikit sendu.
Mungkin karena ini malam Kamis? mungkin karena ini sudah malam? mungkin karena malam ini sepi? mungkin karena malam ini gelap? sepertinya bukan.... karena semua itu sudah biasa ada ketika malam tiba. Mungkin karena hal lainnya.....

Membaca beberapa tulisan teman di FB yang mengatakan bahwa cuaca di luar bagus dan bulan bersinar terang, membuatku ingin keluar dan menikmatinya. Namun mengingat betapa banyak syarat dan aturan yang diberlakukan tempat ini, aku jadi malas. Cukuplah dengan melongok di jendela dan melihat langit dengan bayangan terang. Cukup memberikan gambaran bahwa bulan memang sedang bersinar. Sepertinya sedang purnama...

Sebersit sedih melintas sesaat. Mengingat mimpi2 yang pernah, telah, sering, dan selalu aku bangun untuk melewati hari2ku. Banyak mimpi yang telah terpenuhi, beberapa mimpi belum tercapai, dan beberapa lainnya musti diganti dengan mimpi yang lainnya.

Mimpi yang hanya tentang aku, tak mengapa jika memang belum berhasil, bahkan mungkin menjadi lebih indah karena kutambah atau kumodifikasi sedemikian mungkin. Mimpi yang melibatkan orang lain, memerlukan beberapa kali pertimbangan karena terkadang jalan yang dipilih menemui percabangan. Dan mimpi yang di bangun bersama orang lain, memerlukan banyak sekali review dan peninjauan ulang karena tak selamanya orang bisa mengikuti alur mimpi kita...

Jika dikatakan aku tidak mengupayakan terwujudnya mimpi2 itu, sepertinya keliru. Aku selalu memupuk dan mengupayakannya. Hanya saja, sebagaimana manusia pada umumnya dan juga manusia sebagaimana kodratnya, ketok palu bukan padaku. Sekuat apapun aku berupaya, ketika Dia tidak mengetukkan palunya ke Bumi, maka mimpi itu masih harus bertahan di Surga. Belum saatnya diturunkan ke bumi untuk ku, untukmu, dan untuk orang2 yang memimpikannya.

Mimpi adalah perjuangan. Bukan sebuah hastakarya yang bisa sekejap mata kita buat, bisa sekejap mata kita ciptakan, bisa sekejap mata kita hancurkan. Mimpi adalah perjalanan. Bukan sebuah tempat tujuan wisata yang bisa kita tuju ketika kita mau, meskipun kita tahu bahwa keduanya sama2 indah. Mimpi adalah hidup. Bukan tidur yang bisa kita kendalikan dengan obat ataupun kopi, menolak dan meminta sesuka hati kita. Mimpi adalah aku.....

Aku ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku melewati salah satu momen indah dari momen2 indah lainnya. Perjalanan untuk menjaga mimpi, melindungi mimpi, dan memperjuangkan mimpi. Ketika seorang bayi tergolek lemah di kotak kaca, dengan beberapa selang dan peralatan tersambung di tubuhnya. Beberapa orang dewasa mengelilinginya dengan sebuah harapan besar, dan mimpi yang panjang. Harapan agar si anak mendapatkan sehatnya, dan harapan agar si anak bisa melewati kesakitan yang sedang di rasakannya. Mimpi panjang untuk dapat melihat si anak tumbuh besar, membekali dengan jutaan cinta dan sayang, serta ilmu untuk masa depan.

Aku melihat bagaimana usaha, semangat, daya, dan upaya sudah dicurahkan. Seluruh energi dikerahkan untuk memperjuangkan si anak yang tergolek lemah. Perjalanan panjang yang sunyi, beriramakan doa sebagai pengantar si bayi dalam mendapatkan upaya yang lebih baik lagi pun di lalui. Sedih, cemas, khawatir, dan putus asa tersapu dengan besarnya harapan dan doa yang terpancar. Semua berusaha untuk meraih mimpi mereka.

Meskipun Dia yang memiliki segalanya, namun Dia selalu menciptakan cara yang indah bagi umat-Nya. Dia tidak mengambil apa yang telah diberikan-Nya begitu saja. Dia meminta keikhlasan. Ketika orang2 dewasa itu mengikhlaskan dan mengembalikan si bayi pada-Nya, dia mengambilnya. Dia menjaga dan melindungi si bayi untuk semua yang ditinggalkannya. Dia pergi.... Mengutip tulisan Totto-chan dalam buku keduanya, bahwa ......anak-anak kecil meninggal dalam diam, mempercayai kita orang-orang dewasa.

Aku tahu, selalu ada yang harus diikhlaskan manakala Dia meminta. Begitu juga dengan mimpi2 yang sudah dan selalu aku bangun. Aku percaya bahwa kita memelihara mimpi, seperti layaknya menyusun persediaan batu untuk digunakan adik kita membangun rumah2an. Kita mencari, menambah, dan memberikan batu yang semakin bagus, tapi kita akan selalu kehilangan ketika adik kita memerlukannya. Ikhlas bukan? Aku juga tahu bahwa kita menyusun mimpi demi mimpi bukanlah seperti menyusun kartu2 domino dalam kondisi berdiri menjadi sebuah piramida. Dimana ketika kita ambil salah satu darinya, maka semua akan hancur. Bukan... bukan seperti domino. Hanya seperti persediaan batu untuk saudara kita. Ikhlas sewaktu2 dan setiap saat... Karena adik kita, bisa membuatnya menjadi istana yang sangat2 indah.... :)

Untuk yang selalu menunggu dan menunggu di seberang sana.... Ketika semua terasa sulit, tidak ada yang perlu dipaksakan. Cukup dengan kita bicara, sebagaimana biasanya kita selalu membicarakannya. Ya... kita akan bicara. Jika semua terasa berat, aku akan berusaha membuatnya menjadi sedikit lebih ringan. Mimpi memang indah. Bermimpi bersama memang menyenangkan. Namun ketika mimpi2 itu terlalu berat untuk di raih, dan memberatkan dalam melangkah, let it go....

I will let you go, when you said "i quit".

Tuesday, January 18, 2011

Sekarang Sudah Berbeda

Siang ini, aku dan teman duduk manis di sudut sebuah warung gado2, daerah Pejaten. Kami menanti 2 porsi gado2 yang telah kami pesan, sebagai pengganjal perut yang melapar. Beberapa anak remaja putri, siswi SMU masuk ke warung dan duduk di sudut yang lain. Mereka asyik bercanda dan berdiskusi ala remaja2 lainnya.

Aku dan teman yang masih menunggu makanan tiba, melewati waktu dengan ngobrol pula. Tentunya dengan bahan obrolan berbeda, meskipun terkadang nyaris bersinggungan temanya. Tema umumnya adalah.... cinta.... :p

Makanan kami datang, dan akupun mulai memberikan ransum kepada cacing2 yang mulai menggeliat di perutku. Obrolan kami berhenti, namun tidak demikian dengan obrolan remaja2 SMU itu. Mereka juga memesan gado2 rupanya. Dan rupanya juga, anak dari pemilik warung adalah salah satu dari remaja itu, sehingga mereka terlihat lebih leluasa dan santai menguasai medan (warung_red).

Sambil makan, aku dan teman rupanya (tidak sengaja) melakukan hal yang sama, yaitu mendengar pembicaraan para remaja itu. Jadi, ketika ada pembicaraan para remaja itu yang menarik, kamipun tertawa bersama.

"Eh, lu tau nggak sih kalau si Seli itu.... bla..bla..bla... sama Andi. Terus Shinta itu bla..bla..bla..."
"Eh masa sih, bukannya si bla..bla..bla.. itu deket sama bla..bla..bla..?"
"Lha nggak tau deh... udah gitu kemarin si Ani itu nangis di bla..bla...bla... "
"Serius lo?kenapa...kenapa...?"
"Nggak tau deh... pokoknya bla...bla..bla..."
"Eh, gw kemarin telpon Billy, terus bla...bla...bla..."

Senyum ku dan senyum temanku-pun melebar...
"Obrolan anak muda..." kataku
"Ternyata sama aja ya temanya" kata temanku
"Iya, dari tahun ke tahun ya mbak.... Tentang cinta"
"Iya, cuma bedanya sekarang sudah banyak teknologi. sms... telpon... "
"Kalau dulu surat... pager..."

Hahahhaa.... kamipun tertawa....

"Berapa ya uang saku anak2 jaman sekarang ini?" tanyaku
"Nggak tau deh... gado2 aja berapa. Udah 7 ribuan kan..."
"Iya, dulu aku waktu kuliah, uang sakuku cuma 300 ribu. Sekarang rata2 udah di atas 1 juta"
"Kosan aja sekarang berapa...."

Dan obrolan pun mengalir menuju bisnis kos2an yang prospeknya bagus. :)

"Aku tahu, bedanya lagi anak SMU sekarang dan anak jaman dulu" kata temanku tiba2.
"Apaan tuh?"
"Anak sekarang masih SMU udah merokok"
"Heh? " dan refleks kepalaku menengok ke arah remaja yang tadi.

Jreng...jreng.... sekotak rokok Marlboro hitam bertengger manis di meja. Dengan lihai salah satu remaja itu mengangkat, mengetok2, dan membuka bungkusnya untuk mengambil isinya. Luar biasa.... lihai sekali nampaknya.... :p

Entah bagaimana nanti aku harus membekali anak2ku dengan ilmu, jika melihat betapa lingkungan sekarang ini teramat sangat cepat menjadi berbahaya. :(

Monday, January 17, 2011

Sensitif = Horrible

Seperti sumbu yang berdekatan dengan korek yang menyala
Seperti kulit yang berdekatan dengan ujung peniti
Seperti kapas yang berdekatan dengan air

Pasti terbakar
Pasti sakit sekali
Pasti meresap

Semua menjadi pasti
Semua terlihat pasti
Tapi pasti menurut diri sendiri saja

Bisa saja api mati sebelum menyambar sumbu
Bisa saja peniti jatuh sebelum menyentuh kulit
Bisa juga kapas terbang sebelum di jamah air

Sudahlah,
Tak ada yang pasti didunia ini kecuali matematika, IPA, dan sejenisnya
Itulah mengapa mereka di sebut ilmu pasti

Yang lainnya,
Masih bisa di goyang-goyang seperti kereta yang kunaiki ini
Goyang maaang....

^_^

Thursday, January 13, 2011

Antara Remaja Masa Kini dan Ibu Sederhana

Seorang remaja masa kini, dengan gaya masa kini, dan polah tingkah masa kini pula. Bersepatu cinderela, bercelana jeans model pensil, ber-bolero warna coklat, dan kerudung warna abu2. Bersandar santai di dekat pintu gerbong khusus wanita, asyik masyuk mendengarkan lagu atau entah apa dari handphone yang tersambung dengan earphone, pagi ini. Benar2 gaya masa kini....

Aku yang beruntung mendapatkan tempat duduk, tenggelam dalam perjalanan Totto-Chan yang telah dewasa. Mengalir bersama si Totto chan yang berkelana ke negara2 berkembang untuk menyambangi anak2 yang kelaparan, sebagai duta dari UNICEF. Terkadang pandanganku beredar ke segala penjuru untuk sekedar melihat2, seperti yang kulakukan pada si remaja masa kini itu. :)

Sayang di sayang, jarak antara Bogor-Depok hanyalah sekejap mata. Hanya memerlukan beberapa bab dari Totto-chan. Ketika kereta tiba di stasiun depok lama, aku sudah beranjak dari tempat duduk dan memberikan tempat duduk pada penumpang yang lain. Akupun berjalan menuju ke pintu tempat si remaja masa kini itu.

Sambil menunggu kereta sampai di stasiun depok baru, aku mengamati kembali sekitar. Nampak seorang ibu2 paruh baya dengan penampilan sederhana, bersendal jepit, memakai rok warna hitam yang megar, baju warna hijau telor asin, dan kerudung putih, berjalan ke arahku. Dia bergabung denganku dan para penumpang lain yang sama2 berdiri di dekat pintu.

Tiba2, si remaja masa kini itu melepas sebelah earphone-nya dan menengok ke arah si ibu sederhana.
"Stasiun pasar minggu masih jauh nggak?" tanyanya remaja masa kini pada si ibu sederhana.
"...masih...." Kata si ibu sederhana setelah beberapa saat terdiam.
"Ini stasiun apa?"
"Depok"
"Habis ini stasiun apa?"
"Ini depok lama, setelah ini depok baru"
"Ibu turun dimana?"
"Manggarai"
"Manggarai sama pasar minggu, duluan mana?"
"Pasar minggu"
"Nanti kasih tahu saya ya kalau kereta sampai di pasar minggu"
"Iya"

Dan si remaja masa kini pun kembali memakai earphone nya untuk mendengarkan lagu. Terhanyut dalam lantunan entah suara siapa. Aku? diam, mengelus dada (dadaku sendiri), dan sedikit menghela nafas. Tidak lupa bergeleng2 kepala sedikit. :p

Percakapan pendek, biasa, namun menurutku sedikit janggal. Atau mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Entahlah... yang jelas, kejanggalan itu membuatku berfikir sampai sekarang ini, 2,5 jam setelah kejadian itu.

Mungkin aku kurang jeli dalam (tidak sengaja) mendengar percakapan tadi pagi itu. Sehingga mungkin saja ada beberapa kata yang terlewat olehku. Tapi... mungkin juga memang kata2 itu tidak pernah ada di dalam percakapan tadi pagi itu. Mungkin dan mungkin saja.... terlalu banyak kemungkinan... :p

Menurutku, akan lebih indah percakapan tadi pagi itu seandainya disisipkan beberapa kata. Misalkan *puter ulang kaset rekam kejadian* ketika si remaja masa kini melepaskan earphone dan menengok ke arah ibu sederhana, terus dia senyum dikit dan berkata,
"Maaf bu, numpang tanya.... Stasiun ...bla..bla...bla..."

Dan mungkin juga akan semakin manis jika setelah si ibu sederhana berkata, "iya", kemudian si remaja masa kini itu berkata "terima kasih bu". Bayanganku sih itu akan menjadi percakapan yang indah di pagi hari... :)

Ps. Untuk yang suka naik taksi warna kuning di daerah Depok, hati2 yaaa.... Suka ada supir taksi yang pandangannya terganggu, sampai2 mengatakan bahwa umurku pasti belum sampai 20 tahun. ck...ck...ck... :p