Tahu kan kenapa saya berusaha untuk selalu "sibuk" atau "melakukan sesuatu"?
Ya karena ini... Kalau saya diam, otak saya yang berkeliaran... :-p
Seperti hari ini
Siang terik sepanjang hari, membuat mata mengerenyit
Ketika suasana mendadak sepi, tiba-tiba saya mulai terfikir (#eeeaaa)
Saat ini, lebih kurangnya sudah hampir 2 tahun saya "Ngantor" di tempat ini...
Lebih tepatnya 20 bulan, dikurangi libur 3 bulan dan 3 minggu...
Setiap pagi, saya bangun dari tidur, kemudian menikmati teh manis sambil melakukan rutinitas pagi.
Jam 7.15an berangkat mengantarkan anak sekolah, terkadang bersama Mas Bojo, terkadang saya ngojek...
Jam 8 kurang 5 menit biasanya saya sudah drop off K di sekolahnya, untuk melewati hari bersama temannya.
Setelah itu, saya akan duduk manis didepan laptop saya tercinta... Terkadang menetap terkadang berpindah...
SOLO... Small Office Laptop Office.
Tahun lalu, jam 11 saya berhenti kerja karena anak saya pulang jam 11.30 WIB
Tahun ini, jam 11.30 saya berhenti kerja karena anak saya pulang jam 12.00 WIB (kecuali jum'at)
Tahun depan, anak saya pulang jam 12.20 WIB, saya belum tahu skenario seperti apa yang akan saya mainkan...
Kembali lagi ke otak saya yang mulai berfikir...
Detik demi detik... menit demi menit... jam demi jam... hari demi hari... akhirnya tahun demi tahun...
Semua adalah rangkaian titik detik yang berjejer rapat, bertambah setiap detiknya. Satu detik satu titik...
Adapun hal-hal yang terjadi pada setiap detiknya, adalah sambungan titik yang bercabang dari titik utama. Kebayang apa yang saya maksud? :-p
Bagaimana kita melihat, merasakan, menilai, dan membahasakan hari demi hari yang berlalu tanpa bisa di pause, tanpa bisa di rewind, tanpa bisa di hapus jejaknya itu?
Mungkin hanya saya yang kejauhan mikir begini... Namanya saja otak nggak bisa di ikat dengan tali atau webbing. hehehee
Kalau saya suka iseng, saya suka bilang dan mengatakan pada diri saya bahwa itu adalah perjalanan kita. Kita berjalan diatas tali dengan jaring penyelamat dibawahnya, yang tidak boleh mundur lagi. Bisa jatuh, tapi kita bisa bangun, naik, dan berjalan lagi. Tapi tidak boleh dan tidak bisa mundur.
Orang kadang suka berkata "itu sih namanya kita berjalan mundur". Tapi koq menurut saya itu sedikit kurang tepat. Karena waktu, tidak akan pernah bisa kita tarik ke belakang bukan?
Mungkin yang lebih masuk akal, adalah "kita sedang tergelincir, atau tersangkut talinya. Sehingga perjalanan maju kita terhambat. Tapi toh kalau kita terus berusaha, lambat laun kita akan maju lagi kan?"
Bagaimana kalau kita sedang down? tersandung masalah?
Mungkin itu karena kita sedang terpeleset, dan jatuh. Kadang levelnya ringan? Karena ketika kita jatuh, kita sudah sadar bahwa kita akan jatuh, jadi kita sudah persiapan jatuh. Bangkitnya akan lebih mudah dan meneruskan perjalanan maju. Ketika levelnya berat? Mungkin karena kita tidak menduga akan jatuh? Atau kita tidak pernah membayangkan bisa jatuh? Jadi ya terjatuh dengan keras tanpa persiapan, sudah pasti sakit, dan cukup lama untuk bisa bangkit lagi.
Kenapa saya bilang ada jaring penyelamatnya?
Ya karena toh meskipun kita jatuh terjerembab, terkena masalah sampai kadang bisa dibilang remuk redam hancur terurai burai, kita masih hidup di dunia kan? Meskipun sebagai manusia kita sudah merasa terpuruk ke jurang paling dalam, namun sebagai manusia juga kita masih hidup. Jika kemudian kita tidak mampu, tidak sanggup, dan tidak ingin lagi bangkit berjuang meneruskan perjalanan, beberapa kemudian memilih untuk merobek jaring penyelamat dan terjun bebas keluar arena... Mendahului aturan main kehidupan...
Tapi tidak sedikit juga bukan yang setelah terjatuh keras hingga rasanya tak ada lagi semangat untuk membuka mata, akhirnya berusaha untuk berdiri, bangkit, menaiki dan meniti talinya kembali pelan-pelan, meneruskan perjalanan hidupnya sampai garis yang di tetapkan. Mungkin dalam menuju garis yang ditetapnya Tuhan, kita masih harus jatuh dan bangun lagi. Tapi ya mau bagaimana lagi. Namanya juga meniti tali... Kita berjalan di jalan raya saja terkadang bisa jatuh atau melenceng, apalagi berjalan di seutas tali... Dimengerti...
![]() |
| Kata Orang Yang Penting adalah = Jumlah Jatuh + 1 |
Btw kenapa tiba-tiba saya mikirnya berat-berat begini ya? Sepertinya ini berhubungan dengan obrolan saya bersama teman kemarin lewat WA. Mengenai Stephen Hawking Almarhum.
Turut berduka cita atas meninggalnya salah satu orang jenius di dunia, Stephen Hawking. Di kantor saya, ada teman yang menyampaikan duka citanya dengan berkata bahwa dia akan menyelesaikan membaca salah satu bukunya. Menurut saya itu ide brilliant. Terlebih untuk saya yang sedang ingin lebih banyak membaca. Akhirnya saya ikuti saja ide teman saya itu. Saya niatkan untuk membeli dan membaca buku yang sama.
Ketika saya sampaikan niat saya di Status WA saya, akhirnya ada teman yang mengajak ngobrol saya lewat wa juga. Kami sharing mengenai Uwa' Stephen (jiah... kek kenal aja). Obrolannya mengalir dan sambung sinambung temanya... Sampai akhirnya pada "lo pernah mikir kek gini nggak sih?"... Kemudian "menurut lo yang begini..." disusul dengan "Gw pikir cuma gw doank yang mikir gini...". Ahahahaa.... Begitulah kami, absurd. Sebagaimana absurd nya kami di masa lalu, nonton film Bioskop Cintapuccino, yang berujung ekspedisi mencari mantan dan mengisi lembaran2 kosong yang terlewat. bwahahahahahahhaha...
Bisa juga karena ini efek menyambut long weekend untuk saya... Jadi otak perlahan sudah slowing down sendiri, padahal kerjaan masih membutuhkan dia speed up... Yaaaa... Kembali lagi yaa... Namanya juga otak tidak bisa di ikat pake tali... ehhehehee
#SepertiItu
#SelamatMenikmatiAkhirPekan
#UntukSayaSihAkhirPekanPanjang
#HariSeninLiburPenggantiNyepi
#Assseeeeeekkkkkk


No comments:
Post a Comment