********
"Rumah" ini. Adalah tempatku, tempatnya dan tempat orang2 lain yang merasa nyaman meneduhkan kepalanya. Seperti juga pendahulu2 kami yang pernah tinggal disini, aku dan dia berusaha membuat rumah ini senyaman mungkin untuk kami dan untuk semua orang. Dan betapa senangnya kami ketika akhirnya tidak hanya kami yang merasa nyaman, dingin, adem, dan selalu ingin kembali kesini.
"Aa atau Mbak, aku main kesana yaaaa....."
"Mbak atau aa, aku nginep yaaa...."
"Kak atau mbak, aku nggak bisa pulang nih. Mampir sana yaaa...."
"I definitely should be come back here again... God, it's cozy..."
Dan beberapa kalimat pendek itu, seringkali membahagiakan aku dan dia. Tanpa banyak yang harus kami lakukan, kamipun tidak pernah merasa kesepian. Pintu rumah ini selalu terbuka. Semakin hari, semakin hangat dan hangat saja....
Tapi... "Rumah" adalah buatan manusia. Dia tidaklah abadi seperti harapan kita. Dimulai dari kerusakan kecil di sebelah sana, kebocoran kecil di sebelah sini, dimakan rayap di pojokan itu, atau juga digali semut di depan sini. Ada saja hal2 kecil yang mengurangi keindahan "rumah" ini.
Aku mulai merasa kurang nyaman di "sini". Tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan "Rumah" ini begitu saja. Banyak sekali hal2 indah di dalam sini. Namun suatu saat, aku "Harus" pergi. Dilema....
*********
Pakaianku sudah rapi, begitu juga pakaiannya. Kami sudah siap pergi bersama, dengan arah dan tujuan yang sama. Rebutan kunci rumah, clingak-clinguk pilih2 sepatu atau sendal, clingak-clinguk pilih2 helm. Begitulah rutinitas kami di "Rumah" ini.
Kamipun menyiapkan kendaraan untuk melaju menjalani hari. Ketika sedang bersiap2, tetanggaku memanggil dan bertanya ini itu:
"Eh, sudah siap...mau pergi semuanya?"
"Iya nih, mau pergi ke kantor... Perginya sih barengan, padahal tujuannya beda2..."
"Oohh... Rumah kosong donk kalau di tinggalin berdua begitu?"
"Iya, skarang kosong. Tapi ngggak papa lah... Kan belum punya banyak barang. Insya alah aman kan. Dan belum terlalu banyak yg harus di khawatirkan..."
"Mau nginep ini teh koq bawaannya banyak gitu?"
"Oh, enggak. Setiap pergi memang begini bawaannya. Hartanya komputer saja sih. Jadi kemana2 di gendong aja. Saya paling sore udah pulang. Kalau suami mungkin malam..."
Dan akupun dengan lihai dan santai melanjutkan obrolan2 pagi dengan ibu2 itu. Mulai menceritakan bahwa "Rumah" ini sudah mulai bolong disana dan disini, bocor disana dan disini. Aku tidak melihat dan memperhatikan bahwa raut muka dia sudah berubah dari sumringah menjadi surem. Lama2, alarm tanda bahayakupun menyala (meskipun terlambat). Aku permisi kepada tetanggaku, dan kamipun melaju.
Beberapa waktu kemudian, dia menepikan bahteranya, dan mengajakku bertukar pikiran. Kalimat pertama yang muncul darinya adalah:
"Kenapa kamu nggak sekalian aja tunjukkan dimana letak kamu menyimpan kunci rumah? Atau kamu kasih aja sekalian kunci rumahnya sama orang itu?"
Aku diam.... Tau kalau salah.... Speachless....
"Kamu tau nggak, semua yang ada di dalam rumah kita, adalah milik kita. Harta kita. Rahasia kita. dan Aib kita. Kamu nggak boleh membuka aib itu kepada orang lain. Meskipun kepada orang yang dekat dengan kita."
Masih diam....
"Kalau misal nanti ada orang yang berniat buruk dengan "Rumah" kita gimana? Kalau nanti orang jadi berfikir macam2 tentang "Rumah" kita gimana? Kalau orang jadi nyalahin yang punya rumah karena tidak memperbaiki rumah kita, gimana? Itu kan namanya kamu memancing orang untuk berpendapat. Rawan fitnah dan bisa2 menzolimi orang tau...."
Makin speachless....
"Kita boleh saja marah dan kecewa dengan kondisi yang ada dirumah kita. Bolong, kecil, nggak bagus, dll. Tapi, itu kan rumah kita untuk sementara ini. Kita yang memilih untuk tinggal disitu, menghabiskan waktu bersama disitu, mencari kebaikan bersama dan juga dengan orang lain disitu. Jadi kita nggak boleh menjelek2an "Rumah" kita itu. Kalau memang kita nggak suka, ya kita keluar aja dari rumah itu. Bukan malah mengumbar kejelekan dan aib "Rumah" kita itu kemana2...."
*******
Satu pembelajaran yang mungkin harus di perhatikan adalah, ketika rasa marah dan patah hati itu berhasil memakan dan menguasai hati, maka tak ada lagi istilah "Rumah Kita". Marah dan patah hati itu akan berkumpul dan menjelma menjadi bola api, bergerak liar kesana kemari, menyambar dan menjilatkan panas pada setiap yang di lewatinya. Hingga akhirnya menghantam keras pada sesuatu yang lemah dan tak berdaya.
Teman, ingatlah....
Ketika engkau menggulirkan bola api, selalu ada pihak yang tersakiti. Belum tentu orang yang tersakiti itu adalah orang yang layak untuk merasa sakit. Tetapi karena engkau sendiri sudah tidak mampu menahan diri, jadi engkau binasakan saja sekalian dia yang lemah, tak berdaya, dan seolah di korbankan.
Jika sekarang ini aku bisa berkata kepadamu yang sedang marah dan patah hati, maka aku akan bilang : Engkaulah yang selayaknya keluar dari "Rumah" itu... Karena engkau tak lagi peduli pada "Rumah" itu. Engkau marah dan patah hati, sehingga engkau melupakan rasa cintamu pada "Rumah" itu, dan berlaku seperti layaknya si picik penggalang massa. Sudahlah... Kau pilih jalan sendiri untuk melangkah dari pintu, jangan kemudian kau lemparkan bom molotov kedalamnya... Pergilah dengan damai... :-p
Jika sekarang ini aku bisa berkata kepadanya yang lemah dan terdzolimi, maka aku akan bilang : Sabarlah... Mungkin akan banyak yang bertepuk tangan melihatmu melemah dan menghilang, terbakar dalam panasnya bola api yang menggelinding. Namun sesungguhnya, perjuanganmu untuk bertahan masih perlu dilakukan. Untuk sekedar menghentikan tepuk tangan riuh di luar sana, agar tergantikan dengan tundukan kepala dan pipi bersemu karena malu.... :-p
Dan terakhir, jika aku bisa berkata kepadamu yang selalu berada disampingku, maka aku akan menyanyi:
Apapun yang terjadi.... Ku kan slalu ada untukmu....
Janganlah kau bersedih.... Coz everything gonna be OK... :-)
*******
Akhir kata... yuk semangadh nyari rumah beneran yuuuukkkk..... hehhehehehee

No comments:
Post a Comment