Hari ini aku mendapatkan sebuah pesan sms dari seorang teman yang berusaha memberikan semangat padaku. Dia bilang padaku : “Wilz, sekarang aku lagi baca Sang Pemimpi. Bab Sungai Lenggang. Coba lu baca lagi, barangkali bisa menginspirasimu untuk sebulan kedepan.” Katanya.
Aku memang sudah membaca buku Andrea Hirata mulai dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Dan saat ini aku masih menunggu keluarnya buku ke empat Andrea yang berjudul Maryamah Karpov. Namun aku tidak ingat betul secara detail isi dari buku-buku itu. Karena rasa penasaran, maka aku segera membuka lemari kaca tempat aku menyimpan koleksi buku-ku dan meraih buku berwarna abu-abu itu. Aku buka daftar isi dan mencari Bagian Sungai Lenggang. Ternyata Bagian Sungai Lenggang ada pada Halaman 141.
Perlahan aku mulai membaca kembali cerita itu.
Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari. para kuli ngambat……
Perlahan aku mulai membaca untaian kata yang cukup membutuhkan pemahaman dari para pembacanya itu. Sampai dengan paragraph 5 aku masih biasa saja. Tak ada yang bisa aku anggap sebagai motivasi atau pendorongku menyelesaikan semua targetku.
Namun ketika aku membaca paragraph 6, aku mulai sedikit lupa dengan tujuanku membaca cerita ini. Aku merasa mulai akrab dengan kisah didalamnya.
Aku sendiri, jimbron, dan arai yang kusaksikan membersihkan meja restoran…………..tak lain adalah manifestasi dari sikapku yang telah bisa realistis………………..kini aku sadar…………nasibku akan sama saja……..yang cerdas malah tak sempat menyelesaikan SMP……….
Berada dalam pergaulan melayu yang seharian membanting tulang……………...mempengaruhiku untuk menilai situasiku secara realistis. Namun tak pernah kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.
Sekarang………………………………melongok kedalam kaleng celenganku…………………..tak akan pernah mampu membawaku keluar………………………pungguk merindukan dipeluk purnama…………………..orang yang menggadaikan seluruh kesenangan masa muda pada kehidupan darmaga yang keras…………..
Kini aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar……………….tak mampu melanjutkan…………………ceritakan mimpimu, agar Tuhan bisa tertawa.
Tapi sebaliknya, demi Tuhan, sahabatku…………………memang makhluk yang luar biasa………………tapi ia sangat optimis.
Paragraph demi paragraph tentang jimbron dan 2 celengan kudanya……………..
“Meskipun kaupenuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku jimbron, tak’kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayaimu sekolah diperancis….demikian kata hatiku. Dan dengarlah itu kawan. Siratan kalimat sinis dari orang yang pesimis. Sungguh berbisa sengatan sikap pesimis. Ia adalah hantu yang beracun……………..memuatku menjadi pribadi yang gelap dan picik…………………
Cerita berlanjut tentang kemerosotan prestasi haikal….disalah satu kalimat dalam kemarahan pak bustar kepada ikal, ada kalimat “ pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedy terbesar dalam hidup manusia.” Sungguh kata-kata yang dalam dan mampu menusuk pori-pori ikal, dan juga aku.
Sikap pesimis juga telah mengkhianatiku bulat-bulat. Sepertinya aku juga masuk dalam kategori anak yang tak mampu memenuhi harapan orang tua. Yang terbaik dari orang tuaku hanya diberikan untukku seorang, tidak kepada orang lain.
Aku lanjutkan membaca cerita itu sederet demi sederet kalimat. Bagaimana ikal sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya dan menyesali karena dia tidak bisa lagi memutar waktu untuk memperbaiki kesalahannya.
Beberapa kalimat arai yang sempat nyangkut dalam hatiku adalah :” orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu”.
“tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”
Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.
Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang selalu diam, tak pernah menuntut apapun……………………….ayahku yang pendiam, ayah juara satu seluruh dunia………………mengandung tenaga mistis, dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.
Akhirnya aku menyelesaikan satu cerita Andrea Hirata yaitu Bagian Sungai Lenggang. Setelah membaca cerita itu, aku mengerti kenapa temanku itu menganjurkanku untuk membaca kembali guna mencari inspirasi. Sebagian besar memang aku resapi sebagai inspirasi dalam hari-hariku kedepan. Karena sedikit banyak perjalananku tak jauh beda dengan perjalanan ikal.
Satu hal kunci yang akhirnya beberapa hari lalu berhasil aku ungkap secara lisan dari hatiku yang paling dalam adalah :
Ketakutanku terhadap kemungkinan yang belum tentu terjadi itu terlalu berlebihan, dan akan aku coba hentikan mulai sekarang (20 Juli 2008). Tuhan mengerti mana yang terbaik untukku dan untuk orang-orang yang aku sayangi disekitarku, karena itu semua aku pasrahkan pada-Nya. Saat ini aku hanya sedang menguatkan hati bahwa tidak akan pernah ada yang di ambil Tuhan dariku.
# Kubenahi lembaran yang mulai terserak…. .#
# Untukmu….orang-orang yang mencintaiku… #
No comments:
Post a Comment