Tuesday, June 11, 2019

Anak Adalah Kanvas Putih Polos

Berbagi kisah receh disiang hari yang panas ini, boleh yekaaan...

Flashback beberapa tahun lalu ketika saya menyampaikan niat untuk (nantinya) menyekolahkan anak di sekolah yang sekarang kepada Mas Bojo:

Saya : "Yah, nanti kalau anak kita lahir (iya, beneran ini obrolan pas anaknya masih diperut), kita sekolahin di sekolah Cil****a itu ya"
Bojo: "Yang dimana?"
Saya: "Yang di sana itu lho.... " (Jelasin lokasinya)
Bojo: "Emang mampu?" (pesimis sekali - pikirku)
Saya: "Semoga di mampukan... Aamiin"

Setelah anak kami lahir, dan tumbuh semakin mendekati umur sekolah, Saya semakin rajin menggali informasi seputar sekolah itu dari internet medsos.

Saya : "Jadi deh K kita sekolahin di situ"
Bojo : "Di situ kan semuanya pada pake mobil... Nanti kita nggak diterima lagi..."
Saya : "Ya kalau memang itu alasannya, setidaknya nanti mereka akan bilang Pak/Bu, maaf anak anda tidak diterima sekolah disini karena naik motor" ahahahaa...
Bojo : "Kamu kuat iman nggak nanti? Jangan2 kebawa arus ikut-ikutan lagi..."
Saya : "Ya dilihat sambil jalan aja kalau itu mah..."

Akhirnya, kami dimampukan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah itu, yang ternyata ya tidak semengerikan yang terdengar di luar sana pula :p

Dan kisah berlanjut....

Diawal-awal masa anak saya sekolah, saya sering mendengar kisah tentang sekolah lain dari para emak-emak... Contohnya:

Emak 1: "Tau nggak.... Di sekolah A itu, anak-anaknya udah pada geng-geng an lho..."
Emak 2: "Ah masak sih?"
Emak 1: "Iya... Katanya kalau yang nggak pake Smi**e nggak diajakin nge-geng"
Emak 3: "Oh ya? Wah, parah banget itu...."
Emak 2: "Oh iya kalau itu aku juga denger... Katanya kalau dateng dianter mobil Av***a, ada yang di cibir gitu...."
Saya : "Ahahhaa... Apalagi gw donk ya kalau disana, naik motor. Dikira tukang ojek kalik...."

Daaaan... Beberapa waktu lalu, drama tentang "Merek" ternyata mampir juga ke kelas K, yang mana adalah kelas TKB... Dan ini membuat saya dan ayahnya K tertawa cukup keras... Betapa polos anak-anak, dan betapa kita sebagai orang tua jadi banyak belajar cara menerima aduan anak TK...

Ceritanya begini...

Ada salah satu orang tua dari teman sekelas K yang menyampaikan uneg2nya di WAG kelas... Intinya adalah beliau menanyakan apakah disekolah sedang ada demam Sepatu Merek Ske*****s. Karena anaknya mendadak minta dibelikan sepatu dengan merek itu. Dan menurut beliau, anaknya bilang bahwa kalau nggak pakai sepatu merek itu, nggak diajak temen sama yang lain...

Seketika ingatan saya kembali pada obrolan emak-emak tentang sekolah sebelah dan Merek Smi**e ataupun Mobil Av***a... Jreng... Jreng....

Para emak di WAG pun mendadak heboh... Ada yang fokus pada "masak anak TK udah tahu merek", ada juga yang fokus pada "Sepertinya anak-anak nggak tau merek". Tapi yang jelas, hampir semua emak berkata bahwa mereka menanyai anaknya, atau berniat menanyai anaknya keesokan harinya. Saya beritahukan perihal ini ke suami, dan kamipun tertawa. Sepertinya setiap anak KGB 2 diinterogasi para emak malam itu dan pagi harinya. Dan kebanyakan anak yang ditanyai tentang Merek sepatu itu, mereka bilang tidak tau. Oh iya, saya juga menanyai K tentang ini...

Saya : "K, kamu tau nggak sepatu Sk******s itu apa?"
K : "Enggak..."
Saya : "Kamu tahu nggak sepatu kamu merek apa?"
K : "Nggak tau... Apaan sih Bunda... Nggak jelas banget..."

Ahahaha... Baique lah...

Akhirnya ada salah satu emak yang memberi pencerahan...

"Aku udah tanya anakku si M... Dia bilang kalau di kelas memang banyak yang pake sepatu merek itu... Terus namanya juga anak-anak, mungkin seneng aja kalau samaan. Jadi bikin Team gitu. Mungkin yang nggak pakai sepatu sama, jadi merasa nggak diajak Team. Tapi kata M, nggak dijauhin koq... Masih diajak temenan..."

Akhirnya semua emak mengamini dan sepakat untuk tetap menjaga anak-anak dari pertemanan sehat tanpa pengelompokan berdasarkan merek barang mereka... :-)

Iseng-iseng saya dan ayahnya K membahas hal ini sambil leyeh-leyeh manjah...

Saya : "Kamu bisa ngebayangin nggak... anak TKB bilang - Kamu sepatunya nggak merek SK******s, jadi kamu nggak boleh main sama kita. Kita nggak se-team"
Bojo : "Enggak... "
Saya : "Kalau menurutku ya... Bayangin. Di kelas ada sekitar 6 boys yang pakai sepatu merek itu. 6 out of 10 itu kan banyak banget. Si M tu bahwa sepatu yang tulisannya S itu artinya adalah SK******s. Ya iyalah wong M itu tajir melintir. Mungkin dia bilang ke temen-temennya... "Hei, sepatu kita sama ya SK******s, Kita team S" tanpa maksud apa2. Nah, yang nggak pakai sepatu itu, mikir kalau mereka nggak bisa se-team karena sepatunya nggak sama. Pulang sekolah dia bilang ke neneknya "Nenek, aku mau sepatu S juga donk. Soalnya kalau nggak pakai sepatu S, aku nggak di ajak team sama teman-teman". Neneknya bilang sama ibunya "Anak kamu minta sepatu S karena katanya kalau nggak pakai sepatu S samaan temannya, nggak diajak Team. Nggak diajak teaman". Dan ibunya menangkap dan menyampaikan ke WAG bahwa kalau nggak pakai sepatu S, anaknya nggak diajak temenan lagi". "
Bojo : "Iya, paling juga gitu. Orang tua kan kadang menerima pesan anak itu suka beda"

Begitulah kisah tentang Sepatu S...

Eeeeh, ternyata cerita berganti beberapa bulan terakhir ini... Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak tantangan orang tua kismin seperti saya ceritanya.... hehehehee

Sekitar 2 bulan yang lalu, ketika saya berdinas kerja sambil nunggu sekolah anak bubar, saya melihat beberapa anak KGA menggunakan jam tangan canggih yang bisa nelpon, you know what lah ya. Waktu itu ya saya nggak kepikiran hal lain selain "Edaaan, anak-anak ini canggih benerrrrr".

Tapi hanya berselang beberapa hari dari situ, K mulai memunculkan wacana...

K : "Bunda, tau nggak Im** itu apa?"
Saya : "Nggak tau. Apaan emang?"
K: "Itu lhoooo.... Jam yang bisa nelpon..."
Saya: "Ooooh... Iya bunda pernah lihat..."
K: "Aku mau jam Im** donk bun..."
Saya: "Nggak usah deh... Mahaaallll"

Obrolan selesai... Untuk saat itu... :-p

Beberapa kali K mengulang permintaannya, dan selalu saya jawab No... No... dan Big No...

Sampai pas pulang mudik, dia meminta lagi,
K: "Bun, aku kan mau jam Im**"
Saya: "Buat apa sih? Itu kan cuma jam aja..."
K: "Itu kan bisa buat nelpon..."
Saya: "Kamu mau nelpon siapa? Kan dianter sama bunda, dijemput sama bunda"
K : "Ya kan bisa telpon bunda, ayah, sama temen-temen aku..."
Saya: "Itu mahal banget K... Itu cuma buat yang uang nya banyak aja..."
K: "Tapi kan uang lebaran aku banyak..." Eeeaaaa.... Emak cepet-cepet ngeles...
Saya: "Kan katanya uangnya mau dipake ke salju....?"
K: "Aku nggak jadi aja ke saljunya...."
Saya: "Nggak usah, belum perlu...." Case closed.

Hari ini, saya ngobrol dengan sesama wali murid juga sambil menunggu anak pulang...

Emak 1: "Anak gw mau dipindahin aja kayaknya nanti SMP nya... Nggak di situ lagi..."
Saya : "Lho, kenapa?"
Emak 1: "Papanya rada mulai ilfeel gitu... ahahaha...."
Emak 2: "Koq ilfeel?"
Emak 1: "Iya. Masak anaknya nanya ke dia - Papa, punya jam Ro**x nggak? Kan Jam Ro**x bagus pa, mahal kan ya pa?. ahahaha... Kayaknya temen sekelasnya tuh ada yang tajir gitu terus nanya2in anak gw. Laki gw nggak seneng gitu. Baru kelas 4 bo' sekarang... ahahaha"
Saya : "Iya ya... Kadang suka dilemma ya. Kan kita nggak bisa ngontrol penilaian sama ucapan anak. Anak gw aja suka bilang "Ini kan kaca mata mahal ya bunda... Aku keren banget karena ini kaca mata mahal ya?" padahal itu kacamata 15rebuan doank..."
Emak 2: "Eh, tapi mending lu kacamata 15rebuan doank. Koq anak gw skarang suka merengek2 minta apa coba. Jam tangan Im** donk... Katanya disekolah banyak yang pake"
Saya: "Ahahaha... D ikut2an juga? K udah dari 2 bulan lalu minta melulu. Gw bilang nggak sampe sekarang"
Emak 2: "Iya, dia minta terus. Gw beliin aja yang KW murah di onlen. Cuma 300rebuan."
Saya: "Gw biarin aja K. Nggak mau gw beliin. Sayang." ahahahahah

Begitulah obrolan receh emak-emak sambil menanti anak-anak pulang sekolah...

#haveablessedday





No comments: