Monday, September 7, 2009

Seminggu Dalam Karantina

Selama ini aku hanya mendengar istilah karantina untuk audisi2 di TV, serta untuk hewan yang unik, berpenyakit aneh, atau hendak dikirim ke daerah lain. tapi sekarang aku tahu bahwa karantina bukan hanya untuk hal-hal di atas. tepatnya, aku merasakan betul bagaimana rasanya di karantina.

berawal dari rasa lemas pada tubuhku yang menyebabkan aku malas pulang dan memilih tidur di sekret saja bersama anak2 pada hari jum'at, seminggu yang lalu. waktu itu, aku merasakan badanku panas dan aku menggigil. demam seperti biasa sepertinya. mungkin karena dua hari sebelumnya aku bolak-balik jakarta dengan naik kereta yang kebetulan dengan jadwal penumpang yang padat. sampai-sampai aku tak perlu berpegangan pada apapun saat berdiri, karena badan ikut terdorong ke kanan dan ke kiri tak menentu.

hari sabtu, badanku masih saja terasa lemas. bahkan diikuti dengan rasa ngilu pada sendi-sendi tulangku. aduh....mau bergerak saja rasanya sudah seperti orang mau melahirkan saja...:P

akhirnya sabtu malam aku tetap diam ditempat dan bergolek ke kanan dan kekiri bersama dengan keriuhan sekret. anak-anak yang lain sudah banyak yang mulai bertanya "kenapa, bagaimana, apa yang terjadi" padaku karena konon katanya mukaku sudah mulai memucat. namun aku tetap diam saja karena memang linu, ngilu, dan lemas ini masih saja bercokol di badan. saat sore hari aku memutuskan untuk berjalan2 keliling kampung di belakang kampus dengan-nya, aku melihat ada benjolan melepuh di sela jari tangan ku antara kelingking dan jari manis tangan kananku. aku bilang padanya :
"lho, koq muncul kayak gini ya?"tanyaku
"oh, kamu kayaknya panas dalam" katanya.

ya...mungkin saja aku kena panas dalam. soalnya tenggorokan ini memang berasa panas2 gimanaaa gitu. maka setelah puas keliling, aku kembali ke sekret dan bersantai. saat aku secara tidak sengaja meraba muka dan rambutku, entah kenapa aku menangkap sesuatu yang lembek dan pecah mencair. ada beberapa bagian seperti itu. aku langsung berdiri dan berjalan ke arah kaca sambil melihat2 bagian yang tadi seperti terkelupas. anak2 yang melihat perbuatanku kembali bertanya "kenapa, ada apa, apa itu". sedangkan akupun belum tahu.

lalu ada seorang anak yang rupanya si mpinx yang berkata padaku.
"wah, jangan2 kamu kena cacar air mbak..." toeeng....mungkin juga ya...
ok. diagnosa amatir selanjutnya adalah cacar air. dan hebohlah kami membahas tentang cacar air. ada banyak pendapat megenai tindakan selanjutnya setelah (kalau memang) aku terkena cacar air.
"kalau kamu kena cacar air mbak, kamu jangan kesini dulu."
"kalau kamu kena cacar air mbak, aku nggak mau deket2 kamu."
dan berbagai macam vonis mengerikan lainnya bermunculan setelah itu. hwaaaa.....mengerikan sekali jika memang cacar air itu muncul padaku.

dan Hari minggu pagi, badanku tetap saja belum menjadi enak, dan benjolan lepuh bertambah lagi di dadaku. hwaaa.....sepertinya memang something wrong with my body. minggu pagi itu, aku putuskan untuk mampir ke klinik dokter Katili dulu sebelum pulang. disana aku ditangani oleh seorang perawat sebelum akhirnya dokter turun tangan.

kata perawat : "kenapa mbak?"
Kataku : "nggak tahu nih mbak, badan 2 hari ini nggak enak banget, linu2. terus dari kemaren muncul ini (kataku sambil menunjukkan lepuhan yang pertama muncul di jari)"
Katanya : wah, ini sih cacar air...
(oh my god. sekarang diagnosa semi professional cacar air. what next?)
dan ketika dokter laki2 yang lucu dan ramah itu menanyakan hal yang sama dengan suster tadi aku menjawab dan melakukan hal yang sama. dokter itu langsung bilang :
Katanya : "oh, ini sih alergi" sambil menimang2 jariku. (walah, sekarang jadi alergi)
Kataku :" alergi apa cacar air dok? di dada juga ada nih..."
Katanya : " boleh liat yang didada?"
Kataku : "boleh aja"
Katanya : "oh iya dink...ini sih cacar air...ini bagian ininya...bla..bla...bla..."
(dan akhirnya diagnosa final dan profesional menyebutkan bahwa aku kena cacar air sodara2).
setelah urusan periksa, administrasi, obat selesai, akupun langsung menelpon induk semangku dan mengabarkan berita heboh abad ini.
Kataku : " mbak'e, aku kena cacar air nih..."
Katanya : "waduh...jangan deket2 donk kalau gitu.."
kataku : " makanya itu...gimana ya mbak..kalau rumah samping boleh aku pakai nggak mbak?"
Katanya : " oh, mau gitu aja?boleh aja. biar dibersihin dulu kalau gitu. nanti di antar2 ajah gitu ya.."
Kataku : " oh, itu sih gampang mbak. biarin aku aja yang bersihin mbak..."

dan bla..bla...bla...

akhirnya sampai dengan hari ini aku masih tinggal dirumah sebelah itu sendirian. ijin untuk ditemani orang itu sih ada, tetapi tidak aku gunakan karena mengingat etika terhadap tetangga. hehehe...nggak enak dilihat tetangga...hohohoho...

sendirian dirumah kosong, ditemani TV, lenny(laptop), soery(handphone), dan supplay makanan yang tiada henti membuatku nyaman. hehehe...keenakan malahan. seminggu pertama cacar aku nggak puasa karena obatnya banyak sekali. padahal 2 hari puasa di awal aku dapet tamu bulanan. jadi total hutang puasaku sampai saat ini adalah 11 hari. hwakakakkaka

meskipun enak, tapi bosan juga lama2...makanya begitu ada kesempatan keluar, aku pasti keluar. kabur....kalau tidak memikirkan nasib orang lain, sebenarnya aku pengen berlama2 diluar dan bergabung dengan manusia yang lainnya. tetapi aku tiada sanggup membayangkan banyak orang yang harus merasakan pegel, linu, ngilu, lemes, dan plenthingen kayak aku ini nantinya. huah...tidak...makanya aku harus bersabar sampai benar2 sembuh dari si cacar air ini.

semoga lekas sembuh wilis....amin

No comments: