Thursday, August 25, 2011

The First Banana

Here it is....

Finally, we've harvest something from my mother land - again. After everything that happen in the past, this is the point of - start from the beginning. Finally, the crops can live and producing properly again. Our land 's come back... hahaha... lebay. :p

Senangnya rasanya, bisa kembali melihat sesuatu dilahirkan dari tanah ini. Bersamaan dengan matangnya pisang2 di kebun, maka bersemilah semangat dan kepercayaan diri kami di hati. Pohon2 pisang ini adalah saksi hidup dari semua hal yang telah terjadi. Mereka adalah contoh zat yang indah dan menyegarkan. Meskipun dia terbakar habis di kulit luarnya, namun dia subur-hijau-dan basah di bagian dalamnya. Siap siaga untuk memberikan kesejukan dan kesegaran kembali melalui hijau daunnya dan manis buahnya. Dia adalah salah satu tanaman yang tumbuh paling cepat setelah pembakaran masal itu. Dia bersama dengan teman2 se-familinya, Ilalang, Talas, dan Rerumputan lainnya.

Dan sekarang, setelah hampir setahun, pisang ini mulai menguning segar. Disusul dengan pisang2 lain yang masih hijau menggantung di pohonnya, menunggu giliran untuk menguning dan dipanen. What a perfect secondary life, huh... :)

Okey, selintas aku jadi teringat dengan obrolanku bersama teman sejawatku ketika bertemu di tempat taraweh. Dia adalah temanku yang dulu kala, seringkali bermain bersamaku menginjak2 pulau2 di Indonesia (yang ada di taman belakang SD-ku). Dia memilih untuk mengabdikan hidupnya membangun kampung halaman dengan cara menjadi guru TK. Meskipun hal itu menjauhkan angannya untuk bisa benar2 menginjakkan kaki di pulau selain jawa, namun itu tidak membuat dia berduka. Dia bahagia menciptakan masa depan anak2 kampungku. Apa yang bisa aku banggakan dariku, didepannya? Aku bangga menjadi temannya.... Selebihnya, sepertinya tidak ada.

Kami membicarakan apa yang pernah kami alami dan apa yang kami rasakan sekarang ini. Dia mengatakan bahwa saat itu pikirannya sangat kosong manakala membayangkan nasib anak2 didiknya, selain juga nasibnya dan keluarganya.

Sekarang, setelah hampir setahun waktu berlalu, aku dan dia bisa tersenyum (sedikit) lega. Kami semakin menyadari bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini, memang sudah saatnya terjadi. Dan apa yang akan terjadi, memang akan terjadi. Tapi yang terpenting adalah, bahwa setelah satu hal terjadi, maka akan selalu ada sesuatu hal lain yang terjadi. Dan yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya.

Samar-samar dia berkata,
"Alhamdullah ya dek, ternyata semuanya tidak seberat yang kita pikirkan dulu. Setelah semua berlalu, sekarang semua terasa lebih ringan...."
"Iya.... Alhamdulillah... Insya Allah semua akan berjalan normal kembali. Meskipun tidak sama dengan yang dulu...."

Kataku kepadanya, dan juga untukku sendiri..... Amin.

No comments: